Krisis Energi Mengancam: IHSG & Rupiah Tertekan, Bangkit atau Tumbang?
Pergerakan pasar keuangan RI tampaknya masih akan labil pada akhir pekan ini, Jumat (27/3/2026).
Wacana gencatan senjata antara AS-Israel terhadap Iran rasanya masih abu-abu, optimisme yang muncul pada Rabu lalu rasanya sudah mulai pudar.
Pelaku pasar kini lebih mencermati bagaimana dampak nyata yang sedang menjalar ke kebijakan pemangku kepentingan, industri, sampai ekonomi riil di berbagai negara, terutama setelah blokade Selat Hormuz.
Berikut beberapa update dan beberapa data yang masih dinanti pasar potensial mempengaruhi pergerakan pasar hari ini:
Update Blokade Selat Hormuz
Harapan pasar terhadap gencatan senjata mulai memudar karena posisi kedua pihak masih sangat keras.
Iran meluncurkan gelombang rudal baru, sementara AS mendorong proposal perdamaian yang mencakup pembatasan program nuklir Iran dan kontrol lebih besar terhadap Selat Hormuz.
Sejak awal Maret 2026, ketegangan antara Iran dengan AS dan sekutunya memicu gangguan serius di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Sekitar 20 juta barel minyak per hari, hampir 20% konsumsi global, biasanya melewati selat ini. Ketika jalur ini terganggu, efeknya langsung menjalar ke pasar energi global dalam hitungan hari, bukan lagi minggu.
Asia menjadi wilayah yang paling cepat merasakan dampaknya karena ketergantungan tinggi terhadap impor energi dari Timur Tengah.
Sejumlah negara mulai merasakan tekanan karena cadangan energi mereka relatif terbatas.
Filipina jadi negara pertama yang mengumumkan darurat energi. Stok bahan bakar mereka tinggal sekitar 45 hari lagi (per 25-26 Maret 2026). Banyak SPBU tutup, harga BBM melonjak, dan transportasi umum terbatas.
Akibatnya, ribuan warga di Manila dan kota-kota lain terpaksa jalan kaki ke kantor/kerja buat hemat BBM. Sampai ada video rombongan orang berjalan kaki viral di berbagai sosial media.
Pemerintah di sana juga dorong kerja 4 hari seminggu dan longgarkan standar BBM sementara buat tetap hemat. Asal tahu saja, Filipina itu impor 90% kebutuhan minyaknya, jadi paling cepat kena dampak.
Di Pakistan, cadangan minyak diperkirakan hanya cukup sekitar 15-20 hari, sementara Bangladesh memiliki buffer sekitar 20-25 hari.
Vietnam juga berada di kisaran yang mirip, sekitar 20 hari cadangan. Dengan ruang napas yang sempit, gangguan pasokan atau lonjakan harga energi bisa dengan cepat memicu tekanan ekonomi, mulai dari pembatasan energi hingga kenaikan biaya produksi.
India sempat ramai diberitakan hanya memiliki sembilan hari cadangan energi, tetapi angka ini sebenarnya merujuk pada cadangan strategis minyak (strategic petroleum reserve) saja.
Jika digabung dengan stok komersial milik perusahaan energi, total cadangan minyak India diperkirakan masih cukup untuk sekitar 60 hingga 70 hari konsumsi.
Yang justru lebih rentan adalah pasokan LPG, karena sebagian besar pengirimannya berasal dari Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz.
Indonesia sendiri untuk saat ini relatif masih aman. Cadangan BBM nasional diperkirakan berada di kisaran 18 hingga 21 hari, dan harga BBM domestik masih stabil karena adanya subsidi serta pengelolaan harga oleh pemerintah.
Namun Indonesia tetap merupakan net importir minyak, dengan sebagian pasokan berasal dari Timur Tengah. Artinya, jika krisis di Hormuz berlangsung lebih lama dan harga minyak dunia terus naik, tekanan terhadap biaya energi dan anggaran negara bisa ikut meningkat.
Untuk meredam gejolak pasar, negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) telah sepakat melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis mereka.
Namun dengan konsumsi global yang mencapai lebih dari 100 juta barel per hari, jumlah tersebut hanya setara dengan beberapa hari konsumsi dunia. Artinya, langkah ini lebih berfungsi sebagai penyangga sementara untuk menenangkan pasar, bukan solusi jangka panjang.
Pada akhirnya, krisis ini bukan hanya soal minyak atau harga BBM.
Gangguan di Selat Hormuz berpotensi mempengaruhi rantai pasokan global yang lebih luas, mulai dari LNG, petrokimia, hingga bahan baku pupuk, yang pada akhirnya bisa merambat ke harga pangan dan inflasi.
Beberapa kapal memang mulai kembali melintas dan upaya diplomatik mulai terlihat, tetapi pasar masih berhati-hati.
Bahkan jika jalur ini kembali normal, dampak terhadap energi dan logistik global tidak akan pulih dalam semalam. Ini bukan lagi krisis yang akan datang-melainkan krisis yang sudah berjalan, dan dunia baru mulai benar-benar merasakannya.
Higher for Longer Era kembali lagi
Perang membuat adanya potensi suku bunga tinggi bertahan lebih lama atau higher for longer. Jika pada 2022 lalu kita menghadapi era higher for longer untuk suku bunga global. Kali ini giliran minyak.
Harga minyak tampaknya masih sulit untuk turun ke bawah US$ 80 per barel. Peluang terjadinya lonjakan sementara sampai oil shock masih lebih tinggi dibandingkan terjadi de-eskalasi saat ini.
Menurut Edward Jones, ada tiga kemungkinan skenario terkait dampak krisis energi terhadap ekonomi global:
1. Lonjakan sementara (60%)
Harga minyak naik ke US$90-100 lalu turun kembali ke US$70-80 di akhir tahun. Inflasi sempat naik, pertumbuhan melambat sedikit, dan The Fed kemungkinan memotong suku bunga sekali di akhir tahun.
2. Oil shock (30%)
Jika konflik berkepanjangan, harga minyak bisa di atas US$120. Inflasi mendekati 4%, ekonomi melambat lebih tajam, dan pasar saham berpotensi koreksi 10-15%.
3. De-eskalasi cepat (10%)
Jika ketegangan cepat mereda, harga minyak kembali ke sekitar US$70. Inflasi turun lebih cepat, The Fed bisa memotong suku bunga dua kali, dan pasar saham berpotensi reli.
Dengan harga minyak yang bertahan di level mahal, akan memicu inflasi tetap panas. Saat ini, futures market menunjukkan probabilitas 60% bahwa The Fed akan membiarkan suku bunga tidak berubah sepanjang sisa 2026, naik dari 47% seminggu lalu dan hanya 5,3% sebulan lalu.
Probabilitas satu kali pemotongan kini 31%, artinya mayoritas investor bahkan lebih pesimis soal pelonggaran moneter dibanding para pejabat Fed sendiri.
Keyakinan Konsumen AS
Dari negeri paman Sam, pasar akan menunggu rilis final indeks sentimen konsumen Maret dari University of Michigan pada Jumat waktu AS. Lembaga itu sudah menjadwalkan rilis final Maret 2026 pada Jumat, 27 Maret 2026, pukul 10.00 pagi waktu setempat.
Pada pembacaan awal, indeks sentimen konsumen turun menjadi 55,5 pada Maret 2026 dari 56,6 pada Februari. Penurunan ini menunjukkan rumah tangga AS mulai lebih berhati-hati, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dan tekanan harga energi. Survei awal Michigan juga menunjukkan pelemahan terutama terjadi pada komponen ekspektasi, yang turun ke 54,1 dari 56,6.
Data final pekan ini akan menjadi perhatian karena dapat memberi sinyal seberapa besar lonjakan harga bensin dan ketidakpastian global mulai menekan kepercayaan konsumen AS. Jika sentimen konsumen kembali melemah, pasar bisa menilai daya tahan belanja rumah tangga Amerika mulai menghadapi tekanan lebih besar.
Uang Beredar
Beralih ke dalam negeri, pelaku pasar akan menanti rilis perkembangan uang beredar yang dijadwalkan diumumkan Bank Indonesia pada Jumat (27/3/2026).
Data ini penting untuk melihat bagaimana kondisi likuiditas di perekonomian, terutama setelah periode sebelumnya menunjukkan pertumbuhan yang masih cukup tinggi.
Pada rilis terakhir, Bank Indonesia melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Januari 2026 tumbuh 10,0% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 yang sebesar 9,6% secara tahunan.
Nilai M2 pada Januari 2026 tercatat mencapai Rp10.117,8 triliun, dengan pertumbuhan ditopang oleh uang beredar sempit (M1) yang naik 14,9% dan uang kuasi yang tumbuh 5,4%.
Karena itu, rilis Februari 2026 akan dicermati untuk melihat apakah pertumbuhan likuiditas masih berlanjut, melambat, atau justru semakin kuat. Arah uang beredar biasanya juga diperhatikan pasar karena dapat memberi gambaran awal mengenai permintaan domestik, kondisi kredit, dan ruang gerak aktivitas ekonomi ke depan.
Klaim Pengangguran AS
Klaim pengangguran awal di Amerika Serikat naik sebesar 5.000 dibanding bulan sebelumnya menjadi 210.000 pada minggu ketiga Maret, sejalan dengan ekspektasi median pasar, namun masih berada di bawah rata-rata tahun sebelumnya.
Sementara itu, klaim pengangguran lanjutan-yang menjadi indikator jumlah pengangguran yang masih menerima tunjangan-turun 32.000 menjadi 1.819.000 pada minggu sebelumnya. Angka ini jauh lebih rendah dari ekspektasi sebesar 1.850.000 dan menjadi salah satu yang terendah sejak Mei 2024.
Data ini menunjukkan kontras dengan sinyal lemah dalam laporan ketenagakerjaan Februari yang dirilis oleh Bureau of Labor Statistics, di mana laju perekrutan tercatat melambat. Perlambatan ini, menurut Federal Reserve, juga dipengaruhi oleh penurunan tingkat imigrasi.
(mae/mae) Addsource on Google