Krisis Energi Mengancam: IHSG & Rupiah Tertekan, Bangkit atau Tumbang?
Dari pasar saham Amerika Serikat, Wall Street ambruk berjamaah pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Indeks S&P turun 1,74% dan ditutup di level 6.477,16, sementara Nasdaq Composite merosot 2,38% ke 21.408,08. Indeks berbasis teknologi itu kini masuk wilayah koreksi, turun lebih dari 10% dari level tertingginya. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average jatuh 469,38 poin atau 1,01% ke 45.960,11.
Harga minyak mentah naik pada Kamis, memberikan tekanan pada pasar saham. Kontrak berjangka Brent crude melonjak 5,66% ke US$108,01 per barel. Sementara West Texas Intermediate naik 4,61% ke US$94,48.
Seiring saham kembali melemah dan harga minyak menguat, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dan 2 tahun sama-sama melonjak.
Menanggapi kenaikan harga minyak, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa lonjakan tersebut serta tekanan di pasar tidak seburuk yang ia perkirakan.
Sebelumnya pada Kamis, Trump menulis di Truth Social bahwa Iran "harus segera serius sebelum terlambat, karena jika itu terjadi, TIDAK ADA JALAN KEMBALI, dan hasilnya tidak akan indah."
Ia juga menyebut negosiator Iran sebagai sangat berbeda dan aneh, serta mengklaim bahwa mereka memohon kepada AS untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang yang kini memasuki minggu keempat.
Pernyataan ini muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran dilaporkan mengatakan kepada media pemerintah pada Rabu bahwa otoritas tertinggi Iran sedang meninjau proposal AS untuk mengakhiri perang, namun Teheran tidak berniat melakukan pembicaraan dengan Washington.
Sementara itu, negara-negara Teluk mengeluarkan pernyataan bersama pada Kamis yang mengecam serangan "kriminal" Iran dari wilayah Irak terhadap infrastruktur energi mereka. Mereka juga menegaskan kesiapan untuk membela diri ke depan.
"Kami menghargai hubungan persaudaraan dengan Republik Irak, namun kami meminta pemerintah Irak mengambil langkah yang diperlukan untuk segera menghentikan serangan ... terhadap negara-negara tetangga," bunyi pernyataan tersebut dikutip dari CNBC International.
"Ini adalah pasar yang cukup santai (complacent), dalam arti investor tetap optimistis dan bersedia menyerap kabar buruk," kata Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital Management, kepada CNBC.
Tobin Marcus, kepala kebijakan dan politik AS di Wolfe Research, menilai pergerakan pasar terbaru menunjukkan investor bertaruh bahwa Iran mungkin tidak sepenuhnya jujur.
Pasar tampaknya menyimpulkan bahwa pesan publik Iran yang negatif bisa jadi hanya kamuflase untuk sikap privat yang lebih kompromistis.
(mae/mae) Addsource on Google