MARKET DATA
Newsletter

Krisis Energi Mengancam: IHSG & Rupiah Tertekan, Bangkit atau Tumbang?

saw,  CNBC Indonesia
27 March 2026 06:22
Ilustrasi Trading (Stok Market)
Foto: Ilustrasi Trading (Stok Market)
  • Pasar keuangan Indonesia berakhir di zona merah, saham dan rupiah melemah
  • Wall Street kembali ambruk di tengah naiknya harga minyak
  • Perkembangan perang dan data ekonomi akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan RI kembali labil. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) loyo lagi, tetapi rupiah dan obligasi bergerak stabil.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan tertekan pada hari ini, Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini

IHSG pada perdagangan kemarin Kamis (26/3/2026) bertengger di posisi 7.164,09. Dalam sehari turun 1,89% atau -138,03 poin.

Nilai transaksi mencapai Rp 31,95 triliun, melibatkan 29,45 miliar saham dalam 1,7 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun kembali merosot menjadi Rp 12.594 triliun.

Nilai transaksi kemarin tinggi disebabkan oleh transaksi jumbo di pasar negosiasi. Sebanyak 28.870.682 lot saham FAPA berpindah tangan dengan harga rata-rata Rp 6.500. Dengan demikian total nilai transaksi mencapai Rp 18,8 triliun.

Kontras dengan perdagangan sehari sebelumnya, nyaris seluruh sektor berada di zona merah. Utilitas, bahan baku, dan teknologi menjadi sektor dengan penurunan paling dalam.

Pun saham-saham yang sehari sebelumnya menjadi penopang IHSG, pada kemarin berubah menjadi pemberat. PT Astra International (ASII) turun 5,3% ke level 6.250,membebani IHSG sebesar 14,33 indeks poin.

Lalu PT Telkom Indonesia (TLKM) koreksi -3,94% menyeret IHSG ke bawah sebesar 13,68 indeks poin.

Koreksi IHSG tidak sendiri, padakemarin bursa Asia juga membara. Nikkei di Jepang turun 0,27%, Kospi di Korea -3,22%, dan Hang Seng di Hong Kong anjlok 1,89%.

Mengutip CNBC.com, bursa di kawasan koreksi tajam seiring dengan pernyataan dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Dia mengatakan bahwa pertukaran pesan antara kedua negara melalui mediator bukan berarti negara tersebut tengah melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat.

Sebelumnya pada abu, media pemerintah Iran melaporkan bahwa negara itu akan menolak tawaran gencatan senjata AS dan telah menguraikan syarat-syaratnya sendiri untuk mengakhiri perang.

Thierry Wizman, ahli strategi valuta asing dan suku bunga global di Macquarie Group, mengatakan bahwa gencatan senjata tidak akan segera terjadi.

"Sebaliknya, intensifikasi aksi militer oleh AS saat mereka mencoba mendorong Iran untuk membuat konsesi penting kemungkinan akan terjadi dalam dua minggu ke depan, sebelum operasi tempur besar berhasil, mungkin pada pertengahan April," kata Wizman.

"Perang sekarang mungkin memasuki fase ketiga 'bicara dan bertempur,' daripada hanya bicara, atau hanya bertempur," tulisnya dalam sebuah catatan.

Kemudian dari dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang penempatan dana pemerintah ke bank swasta, namun dengan syarat ketat. Dirinya menegaskan hanya bank dengan kondisi fundamental kuat atau "dapur sehat" yang bisa dipertimbangkan.

"Bank swasta kalo mau juga nanti akan kita buka, yang sehat ya. Nanti kalo enggak gue di penjara lagi," ujar Purbaya saat halal bihalal bersama pewarta, Rabu (25/3/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Purbaya mengungkapkan telah menambah penempatan dana pemerintah ke himpunan bank milik negara (Himbara) dan Bank Jakarta sebesar Rp 100 triliun. Dengan tambahan ini, total dana yang ditempatkan mencapai sekitar Rp 300 triliun.

Seiring dengan itu, pergerakan rupiah dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS) terpantau menguat tipis.

Merujuk Refinitiv, mata uang Garuda menutup perdagangan di level Rp16.895/US$ atau menguat 0,06% pada kemarin Kamis.


Meski demikian, penguatan rupiah pada sore kemarin lebih kecil dibandingkan posisi saat pembukaan. Pada pagi hari, rupiah sempat dibuka menguat 0,21% ke level Rp16.870/US$.

Walau tipis, penguatan ini tetap memperpanjang tren positif rupiah setelah pada perdagangan sebelumnya, Rabu (25/3/2026), rupiah ditutup menguat 0,41% di level Rp16.905/US$.

Beralih ke pasar obligasi, yield untuk surat utang acuan RI dengan tenor 10 tahun terpantau stabil di posisi 6,84% sejak penutupan sebelum lebaran.

Yield yang stabil artinya tekanan jual dan beli masih berimbang. Meski begitu, perlu dipahami bahwa yield obligasi acuan RI ini sudah naik empat minggu beruntun dan sudah dekat 7%, yang artinya tekanan jual masih rawan terjadi.

Perlu dipahami juga, bahwa gerak yield dan harga dalam obligasi itu berlawanan arah. Kalau yield naik, maka harga turun, begitupun sebaliknya.

Add as a preferred
source on Google

Dari pasar saham Amerika Serikat, Wall Street ambruk berjamaah pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Indeks S&P turun 1,74% dan ditutup di level 6.477,16, sementara Nasdaq Composite merosot 2,38% ke 21.408,08. Indeks berbasis teknologi itu kini masuk wilayah koreksi, turun lebih dari 10% dari level tertingginya. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average jatuh 469,38 poin atau 1,01% ke 45.960,11.

Harga minyak mentah naik pada Kamis, memberikan tekanan pada pasar saham. Kontrak berjangka Brent crude melonjak 5,66% ke US$108,01 per barel. Sementara West Texas Intermediate naik 4,61% ke US$94,48.

Seiring saham kembali melemah dan harga minyak menguat, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dan 2 tahun sama-sama melonjak.

Menanggapi kenaikan harga minyak, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa lonjakan tersebut serta tekanan di pasar tidak seburuk yang ia perkirakan.

Sebelumnya pada Kamis, Trump menulis di Truth Social bahwa Iran "harus segera serius sebelum terlambat, karena jika itu terjadi, TIDAK ADA JALAN KEMBALI, dan hasilnya tidak akan indah."

Ia juga menyebut negosiator Iran sebagai sangat berbeda dan aneh, serta mengklaim bahwa mereka memohon kepada AS untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang yang kini memasuki minggu keempat.

Pernyataan ini muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran dilaporkan mengatakan kepada media pemerintah pada Rabu bahwa otoritas tertinggi Iran sedang meninjau proposal AS untuk mengakhiri perang, namun Teheran tidak berniat melakukan pembicaraan dengan Washington.

Sementara itu, negara-negara Teluk mengeluarkan pernyataan bersama pada Kamis yang mengecam serangan "kriminal" Iran dari wilayah Irak terhadap infrastruktur energi mereka. Mereka juga menegaskan kesiapan untuk membela diri ke depan.

"Kami menghargai hubungan persaudaraan dengan Republik Irak, namun kami meminta pemerintah Irak mengambil langkah yang diperlukan untuk segera menghentikan serangan ... terhadap negara-negara tetangga," bunyi pernyataan tersebut dikutip dari CNBC International.

"Ini adalah pasar yang cukup santai (complacent), dalam arti investor tetap optimistis dan bersedia menyerap kabar buruk," kata Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital Management, kepada CNBC.

Tobin Marcus, kepala kebijakan dan politik AS di Wolfe Research, menilai pergerakan pasar terbaru menunjukkan investor bertaruh bahwa Iran mungkin tidak sepenuhnya jujur.

Pasar tampaknya menyimpulkan bahwa pesan publik Iran yang negatif bisa jadi hanya kamuflase untuk sikap privat yang lebih kompromistis.

Pergerakan pasar keuangan RI tampaknya masih akan labil pada akhir pekan ini, Jumat (27/3/2026).

Wacana gencatan senjata antara AS-Israel terhadap Iran rasanya masih abu-abu, optimisme yang muncul pada Rabu lalu rasanya sudah mulai pudar.

Pelaku pasar kini lebih mencermati bagaimana dampak nyata yang sedang menjalar ke kebijakan pemangku kepentingan, industri, sampai ekonomi riil di berbagai negara, terutama setelah blokade Selat Hormuz.

Berikut beberapa update dan beberapa data yang masih dinanti pasar potensial mempengaruhi pergerakan pasar hari ini:

Update Blokade Selat Hormuz

Harapan pasar terhadap gencatan senjata mulai memudar karena posisi kedua pihak masih sangat keras.

Iran meluncurkan gelombang rudal baru, sementara AS mendorong proposal perdamaian yang mencakup pembatasan program nuklir Iran dan kontrol lebih besar terhadap Selat Hormuz.

Sejak awal Maret 2026, ketegangan antara Iran dengan AS dan sekutunya memicu gangguan serius di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling penting di dunia.

Sekitar 20 juta barel minyak per hari, hampir 20% konsumsi global, biasanya melewati selat ini. Ketika jalur ini terganggu, efeknya langsung menjalar ke pasar energi global dalam hitungan hari, bukan lagi minggu.

Asia menjadi wilayah yang paling cepat merasakan dampaknya karena ketergantungan tinggi terhadap impor energi dari Timur Tengah.

Sejumlah negara mulai merasakan tekanan karena cadangan energi mereka relatif terbatas.

Filipina jadi negara pertama yang mengumumkan darurat energi. Stok bahan bakar mereka tinggal sekitar 45 hari lagi (per 25-26 Maret 2026). Banyak SPBU tutup, harga BBM melonjak, dan transportasi umum terbatas.

Akibatnya, ribuan warga di Manila dan kota-kota lain terpaksa jalan kaki ke kantor/kerja buat hemat BBM. Sampai ada video rombongan orang berjalan kaki viral di berbagai sosial media.

Pemerintah di sana juga dorong kerja 4 hari seminggu dan longgarkan standar BBM sementara buat tetap hemat. Asal tahu saja, Filipina itu impor 90% kebutuhan minyaknya, jadi paling cepat kena dampak.

Di Pakistan, cadangan minyak diperkirakan hanya cukup sekitar 15-20 hari, sementara Bangladesh memiliki buffer sekitar 20-25 hari.

Vietnam juga berada di kisaran yang mirip, sekitar 20 hari cadangan. Dengan ruang napas yang sempit, gangguan pasokan atau lonjakan harga energi bisa dengan cepat memicu tekanan ekonomi, mulai dari pembatasan energi hingga kenaikan biaya produksi.

India sempat ramai diberitakan hanya memiliki sembilan hari cadangan energi, tetapi angka ini sebenarnya merujuk pada cadangan strategis minyak (strategic petroleum reserve) saja.

Jika digabung dengan stok komersial milik perusahaan energi, total cadangan minyak India diperkirakan masih cukup untuk sekitar 60 hingga 70 hari konsumsi.

Yang justru lebih rentan adalah pasokan LPG, karena sebagian besar pengirimannya berasal dari Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz.

Indonesia sendiri untuk saat ini relatif masih aman. Cadangan BBM nasional diperkirakan berada di kisaran 18 hingga 21 hari, dan harga BBM domestik masih stabil karena adanya subsidi serta pengelolaan harga oleh pemerintah.

Namun Indonesia tetap merupakan net importir minyak, dengan sebagian pasokan berasal dari Timur Tengah. Artinya, jika krisis di Hormuz berlangsung lebih lama dan harga minyak dunia terus naik, tekanan terhadap biaya energi dan anggaran negara bisa ikut meningkat.

Untuk meredam gejolak pasar, negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) telah sepakat melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis mereka.

 Namun dengan konsumsi global yang mencapai lebih dari 100 juta barel per hari, jumlah tersebut hanya setara dengan beberapa hari konsumsi dunia. Artinya, langkah ini lebih berfungsi sebagai penyangga sementara untuk menenangkan pasar, bukan solusi jangka panjang.

Pada akhirnya, krisis ini bukan hanya soal minyak atau harga BBM.

Gangguan di Selat Hormuz berpotensi mempengaruhi rantai pasokan global yang lebih luas, mulai dari LNG, petrokimia, hingga bahan baku pupuk, yang pada akhirnya bisa merambat ke harga pangan dan inflasi.

Beberapa kapal memang mulai kembali melintas dan upaya diplomatik mulai terlihat, tetapi pasar masih berhati-hati.

Bahkan jika jalur ini kembali normal, dampak terhadap energi dan logistik global tidak akan pulih dalam semalam. Ini bukan lagi krisis yang akan datang-melainkan krisis yang sudah berjalan, dan dunia baru mulai benar-benar merasakannya.

Higher for Longer Era kembali lagi

Perang membuat adanya potensi suku bunga tinggi bertahan lebih lama atau higher for longer. Jika pada 2022 lalu kita menghadapi era higher for longer untuk suku bunga global. Kali ini giliran minyak.

Harga minyak tampaknya masih sulit untuk turun ke bawah US$ 80 per barel. Peluang terjadinya lonjakan sementara sampai oil shock masih lebih tinggi dibandingkan terjadi de-eskalasi saat ini.

Menurut Edward Jones, ada tiga kemungkinan skenario terkait dampak krisis energi terhadap ekonomi global:

1. Lonjakan sementara (60%)

Harga minyak naik ke US$90-100 lalu turun kembali ke US$70-80 di akhir tahun. Inflasi sempat naik, pertumbuhan melambat sedikit, dan The Fed kemungkinan memotong suku bunga sekali di akhir tahun.

2. Oil shock (30%)

Jika konflik berkepanjangan, harga minyak bisa di atas US$120. Inflasi mendekati 4%, ekonomi melambat lebih tajam, dan pasar saham berpotensi koreksi 10-15%.

3. De-eskalasi cepat (10%)

Jika ketegangan cepat mereda, harga minyak kembali ke sekitar US$70. Inflasi turun lebih cepat, The Fed bisa memotong suku bunga dua kali, dan pasar saham berpotensi reli.

Dengan harga minyak yang bertahan di level mahal, akan memicu inflasi tetap panas. Saat ini, futures market menunjukkan probabilitas 60% bahwa The Fed akan membiarkan suku bunga tidak berubah sepanjang sisa 2026, naik dari 47% seminggu lalu dan hanya 5,3% sebulan lalu.

Probabilitas satu kali pemotongan kini 31%, artinya mayoritas investor bahkan lebih pesimis soal pelonggaran moneter dibanding para pejabat Fed sendiri.

Keyakinan Konsumen AS

Dari negeri paman Sam, pasar akan menunggu rilis final indeks sentimen konsumen Maret dari University of Michigan pada Jumat waktu AS. Lembaga itu sudah menjadwalkan rilis final Maret 2026 pada Jumat, 27 Maret 2026, pukul 10.00 pagi waktu setempat.

Pada pembacaan awal, indeks sentimen konsumen turun menjadi 55,5 pada Maret 2026 dari 56,6 pada Februari. Penurunan ini menunjukkan rumah tangga AS mulai lebih berhati-hati, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dan tekanan harga energi. Survei awal Michigan juga menunjukkan pelemahan terutama terjadi pada komponen ekspektasi, yang turun ke 54,1 dari 56,6.

Data final pekan ini akan menjadi perhatian karena dapat memberi sinyal seberapa besar lonjakan harga bensin dan ketidakpastian global mulai menekan kepercayaan konsumen AS. Jika sentimen konsumen kembali melemah, pasar bisa menilai daya tahan belanja rumah tangga Amerika mulai menghadapi tekanan lebih besar.

Uang Beredar

Beralih ke dalam negeri, pelaku pasar akan menanti rilis perkembangan uang beredar yang dijadwalkan diumumkan Bank Indonesia pada Jumat (27/3/2026).

Data ini penting untuk melihat bagaimana kondisi likuiditas di perekonomian, terutama setelah periode sebelumnya menunjukkan pertumbuhan yang masih cukup tinggi.

Pada rilis terakhir, Bank Indonesia melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Januari 2026 tumbuh 10,0% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 yang sebesar 9,6% secara tahunan.

Nilai M2 pada Januari 2026 tercatat mencapai Rp10.117,8 triliun, dengan pertumbuhan ditopang oleh uang beredar sempit (M1) yang naik 14,9% dan uang kuasi yang tumbuh 5,4%.

Karena itu, rilis Februari 2026 akan dicermati untuk melihat apakah pertumbuhan likuiditas masih berlanjut, melambat, atau justru semakin kuat. Arah uang beredar biasanya juga diperhatikan pasar karena dapat memberi gambaran awal mengenai permintaan domestik, kondisi kredit, dan ruang gerak aktivitas ekonomi ke depan.

 Klaim Pengangguran AS

Klaim pengangguran awal di Amerika Serikat naik sebesar 5.000 dibanding bulan sebelumnya menjadi 210.000 pada minggu ketiga Maret, sejalan dengan ekspektasi median pasar, namun masih berada di bawah rata-rata tahun sebelumnya.

Sementara itu, klaim pengangguran lanjutan-yang menjadi indikator jumlah pengangguran yang masih menerima tunjangan-turun 32.000 menjadi 1.819.000 pada minggu sebelumnya. Angka ini jauh lebih rendah dari ekspektasi sebesar 1.850.000 dan menjadi salah satu yang terendah sejak Mei 2024.

Data ini menunjukkan kontras dengan sinyal lemah dalam laporan ketenagakerjaan Februari yang dirilis oleh Bureau of Labor Statistics, di mana laju perekrutan tercatat melambat. Perlambatan ini, menurut Federal Reserve, juga dipengaruhi oleh penurunan tingkat imigrasi.

Berikut agenda ekonomi hari ini:

  • Pidato pejabat the Fed: Cook, Miran, Jefferson, dan Barr
  • Feb Balance Sheet mingguan untuk periode yang berakhir 25 Maret 2026
  •  Uang beredar M2 Indonesia periode Februari 2026

Berikut agenda korporasi hari ini:

  • RUPS PT Anabatic Technologies Tbk
  • Tanggal DPS Dividen Tunai PT Hasnur Internasional Shipping Tbk
  • Tanggal cum Dividen Tunai PT Bank Central Asia Tbk.

Berikut untuk indikator ekonomi RI :

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]



Most Popular
Features