MARKET DATA
NEWSLETTER

Wall Street Bangkit & Harga Minyak Adem, Indonesia Siap Lanjut Pesta?

saw,  CNBC Indonesia
26 March 2026 06:24
Ilustrasi Trading (Dok MIFX)
Foto: Ilustrasi Trading (Dok MIFX)
  • Pasar keuangan Indonesia kompak menghijau, rupiah dan saham menguat
  • Wall Street bangkit dan mampu menguat bersamaan 
  • Perkembangan perang hingga data ekonomi akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan RI bergerak ceria pada hari pertama pembukaan pasar setelah libur panjang lebaran, Rabu (25/3/2026). Bursa saham dan rupiah diharapkan kembali menguat pada hari ini, Kamis (26/3/2026).

Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju 2,75% ke posisi 7.302,12 pada Rabu kemarin (25/3/2026). Ini menjadi penguatan paling kencang secara harian selama lebih dari empat minggu dalam zona merah.

Sebanyak 597 saham naik, 164 turun, dan 197 tidak bergerak. Nilai transaksi kemarin mencapai Rp 25,84 triliun, melibatkan 36,33 miliar saham dalam 2,1 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun naik menjadi Rp 12.842 triliun.


Adapun mengutip Refinitiv, seluruh sektor berada di zona hijau. Industri, konsumer primer, dan energi menjadi sektor dengan penguatan terbesar.

Hal tersebut seiring dengan saham Astra (ASII) yang naik 13,79% ke level 6.600. ASII pun tercatat menjadi penggerak utama IHSG kemarin dengan bobot 32,76 indeks poin. Kemudian diikuti oleh Telkom (TLKM) yang naik 8,2% dan menyumbang 26,3 indeks poin terhadap IHSG.

Selain itu, saham bank jumbo juga masuk dalam daftar penggerak utama. Bank Mandiri (BMRI) naik 5,07% dan berkontribusi 18,64 indeks poin, sedangkan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang naik 1,72% menyumbang 9,43 indeks poin.

Seiring dengan penguatan IHSG, dari pasar nilai tukar juga terpantau mengalami gerakan yang sama.

Merujuk Refinitiv, rupiah bertengger di posisi Rp16.905/US$ sampai penutupan kemarin. Menguat 70 poin dalam sehari atau sekitar 0,41%.

Penguatan rupiah seiring dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) 0,08% ke posisi 99,35 pada kemarin sekitar pukul 15.00 WIB.

Indeks dolar AS masih berada dalam tekanan setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat sedang mengupayakan pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri konflik. Presiden AS Donald Trump juga menyebut Iran telah menunjukkan isyarat positif dalam negosiasi yang berkaitan dengan arus energi melalui Selat Hormuz.

Di saat yang sama, sejumlah laporan menyebut Washington sedang mendorong gencatan senjata sementara untuk membuka ruang negosiasi dengan Iran. Harapan meredanya konflik ini ikut menekan harga minyak, sehingga memberi sedikit kelegaan bagi pasar yang sebelumnya khawatir lonjakan harga energi akan memicu inflasi lebih tinggi dan mendorong kenaikan suku bunga

Kondisi tersebut membuat dolar AS melemah dan memberi ruang bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat.

Beralih ke pasar obligasi, yield untuk surat utang acuan RI dengan tenor 10 tahun terpantau stabil di posisi 6,84% sejak penutupan sebelum lebaran.

Yield yang stabil artinya tekanan jual dan beli masih berimbang. Meski begitu, perlu dipahami bahwa yield obligasi acuan RI ini sudah naik empat minggu beruntun dan sudah dekat 7%, yang artinya tekanan jual masih rawan terjadi.

Perlu dipahami juga, bahwa gerak yield dan harga dalam obligasi itu berlawanan arah. Kalau yield naik, maka harga turun, begitupun sebaliknya.

Add as a preferred
source on Google

Dari pasar saham AS, bursa Wal Street bangkit dan kompak mengakhiri perdagangan di zona hijau pada Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Bursa saham melonjak pada hari Rabu seiring harga minyak turun dan para pelaku pasar berharap AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 305,43 poin atau 0,66% dan ditutup di level 46.429,49. Sementara itu, S&P 500 menguat 0,54% menjadi 6.591,90, dan Nasdaq Composite menanjak  0,77% ke posisi 21.929,83.

Associated Press, mengutip pejabat yang tidak disebutkan namanya di Islamabad, melaporkan bahwa Iran telah menerima proposal 15 poin dari AS untuk mengakhiri perang.

The New York Times sebelumnya juga melaporkan bahwa AS telah mengirimkan rencana perdamaian ke Iran. Rencana tersebut disampaikan melalui Pakistan.

Namun, media pemerintah Iran pada Rabu juga melaporkan bahwa negara tersebut akan menolak tawaran gencatan senjata dari AS, dan justru mengajukan rencana lima poin yang mencakup pemberian kendali atas Selat Hormuz kepada Teheran.

 

Harga minyak berada di bawah tekanan setelah perkembangan tersebut. Kontrak berjangka West Texas Intermediate turun 2,2% menjadi ditutup di US$90,32 per barel. Sementara itu, Brent internasional juga turun 2,17% ke US$102,22. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) turut melemah seiring penurunan harga minyak.

Meski demikian, kedua negara tampak masih sangat berjauhan dalam posisi mereka. The Wall Street Journal melaporkan bahwa AS mengerahkan Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat ke Timur Tengah.

Presiden Donald Trump mengatakan pada Selasa bahwa AS sedang dalam negosiasi saat ini dengan Iran.

Dia menambahkan bahwa Teheran berbicara dengan masuk akal dan mengisyaratkan bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan damai.

Perang ini telah menyebabkan volatilitas besar di pasar saham sepanjang pekan ini.

 

Pada Selasa, pasar sempat memangkas sebagian kenaikan dari hari Senin, ketika ketiga indeks utama melonjak lebih dari 1% setelah Trump menulis di Truth Social bahwa AS dan Iran telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif terkait penyelesaian penuh konflik di Timur Tengah. Namun, media pemerintah Iran membantah adanya pembicaraan langsung tersebut.

"Masih ada pertanyaan mengenai siapa di Iran yang dapat mengendalikan aktivitas militer serta apa yang akan memenuhi kepentingan Israel, tetapi pasar tampaknya menunjukkan keinginan untuk kembali menguat dari level ini," tulis desk trading JPMorgan dalam sebuah catatan, kepada CNBC International.

"Selain itu, belum jelas apakah Iran akan mencabut tuntutan sebelumnya, termasuk jaminan keamanan terhadap agresi di masa depan serta kompensasi atas kerugian selama konflik ini." Imbuhnya.

Kenaikan saham sektor teknologi turut menopang pasar secara keseluruhan pada hari Rabu, dengan saham Nvidia, AMD, dan Intel semuanya mencatat lonjakan.

 

Pasar keuangan RI dari IHSG sampai rupiah kompak menguat pada hari pertama perdagangan setelah libur panjang Lebaran.

Optimisme investor muncul seiring munculnya harapan meredanya ketegangan geopolitik global setelah Amerika Serikat disebut tengah menyiapkan proposal diplomatik untuk meredakan konflik di Timur Tengah.

Namun di balik penguatan tersebut, pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik geopolitik yang menjadi sumber utama volatilitas global, menanti sejumlah data yang akan rilis, kemudian memantau bagaimana perkembangan rencana pengetatan fiskal dalam negeri.

Adapun berikut rincian sentimen yang akan berpengaruh pada hari ini:

Update Perang di Timur Tengah

Perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel kini telah memasuki minggu keempat sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026.

Di tengah eskalasi militer yang masih berlangsung, sinyal diplomasi mulai muncul di balik layar. Laporan dari sejumlah media internasional menyebutkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump telah mengirimkan draf proposal perdamaian kepada Teheran melalui Panglima Militer Pakistan, Marsekal Lapangan Syed Asim Munir, yang berperan sebagai perantara komunikasi tidak langsung antara kedua pihak.

Proposal yang dikenal sebagai "Proposal 15 Poin" tersebut berisi tuntutan besar terhadap Iran terkait program nuklir dan kebijakan regionalnya.

Di antaranya adalah pembongkaran seluruh kemampuan nuklir militer Iran, penghentian total aktivitas pengayaan uranium di dalam negeri, serta penyerahan seluruh stok uranium yang telah diperkaya kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Iran juga diminta menonaktifkan fasilitas nuklir utama seperti Natanz, Isfahan, dan Fordow serta memberikan akses inspeksi tanpa batas bagi pengawas internasional.

Selain isu nuklir, proposal tersebut juga menuntut Iran menghentikan dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan seperti Hizbullah dan Hamas, membuka kembali Selat Hormuz sebagai jalur maritim yang aman bagi perdagangan internasional, serta membatasi program rudal balistiknya.

Sebagai imbalan, AS menawarkan pencabutan penuh sanksi internasional serta bantuan teknologi untuk pengembangan program nuklir sipil, termasuk proyek pembangkit listrik seperti Bushehr.

Namun jalur diplomasi ini masih dibayangi tingkat ketidakpercayaan yang sangat tinggi dari pihak Iran.

Sejumlah pejabat Iran dilaporkan telah menyampaikan kepada para mediator bahwa mereka merasa sudah dua kali "ditipu" oleh Presiden Trump dan tidak ingin hal tersebut terulang kembali.

Menurut sumber yang dikutip Axios, Teheran menilai dalam dua kesempatan sebelumnya Washington berbicara mengenai kesepakatan atau negosiasi, tetapi pada saat yang hampir bersamaan justru memberikan lampu hijau terhadap operasi militer atau serangan mendadak.

 Hal ini membuat Iran melihat dorongan diplomasi terbaru dengan sangat hati-hati dan curiga bahwa upaya negosiasi bisa saja hanya menjadi bagian dari strategi tekanan militer.

Kecurigaan tersebut semakin kuat karena di saat yang sama Amerika Serikat justru terus meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Washington dilaporkan mengirim tambahan pasukan dari Divisi Airborne ke-82 untuk memperkuat puluhan ribu personel yang sudah berada di Timur Tengah.

Pendekatan yang terlihat sekarang adalah kombinasi antara diplomasi dan tekanan militer, sebuah strategi yang oleh beberapa pejabat AS sendiri digambarkan sebagai negosiasi yang berjalan bersamaan dengan eskalasi kekuatan militer.

Di lapangan, situasi militer juga masih sangat panas. Serangan udara AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Natanz beberapa hari lalu memicu serangan balasan dari Iran.

Teheran meluncurkan rudal ke wilayah Israel selatan, termasuk area dekat Dimona yang berada di sekitar kompleks riset nuklir Israel. Serangan tersebut menjadi salah satu eskalasi terbesar sejak konflik dimulai dan memperlihatkan bahwa kemampuan serangan balasan Iran masih cukup signifikan.

Ketegangan juga semakin terasa di jalur energi global. Iran kini memperketat kontrol atas Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global.

Kapal yang ingin melintas dilaporkan harus berkoordinasi dengan otoritas Iran, dan lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut mulai menurun.

Beberapa laporan juga menyebut adanya sistem persetujuan khusus yang dikelola oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta biaya transit yang sangat tinggi untuk kapal tanker bernilai besar.

Akibatnya, sebagian besar kapal yang masih berlayar di selat tersebut adalah kapal yang terkait dengan Iran atau kapal yang mendapat izin khusus, termasuk beberapa kapal yang beroperasi dekat pantai Iran.

Dari sisi politik, posisi para pihak masih terlihat cukup jauh. Iran secara resmi membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington, meskipun mereka mengakui telah menerima pesan melalui negara perantara seperti Pakistan, Turki, dan Mesir.

Sementara itu Israel menunjukkan sikap yang lebih keras dan mendorong AS untuk terus meningkatkan tekanan militer terhadap Iran dibandingkan membuka ruang kompromi terlalu cepat.

Bagi pasar global, situasi ini berarti volatilitas kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat.

Kabar mengenai proposal perdamaian memang memberikan harapan adanya de-eskalasi konflik, tetapi pengiriman pasukan tambahan AS  serta meningkatnya kontrol Iran atas Selat Hormuz menunjukkan bahwa risiko geopolitik masih sangat tinggi.

Selama belum ada konfirmasi resmi dari Teheran mengenai gencatan senjata atau kesepakatan diplomatik, harga emas dan minyak kemungkinan tetap diperdagangkan dengan premi risiko yang tinggi karena pasar terus mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.

Harga Minyak Melandai

Harga minyak berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI)  turun 2,2% menjadi ditutup di US$90,32 per barel.

Sementara itu, Brent internasional juga turun 2,17% ke US$102,22. Pelemahan harga minyak ini menjadi kabar baik karena bisa meredakan kekhawatiran investor mengenai potensi lonjakan inflasi.

Klaim Awal Pengangguran AS

Dari pasar tenaga kerja AS, investor juga akan menunggu rilis klaim pengangguran mingguan atau jobless claims pada Kamis (26/3/2026). Departemen Tenaga Kerja AS secara rutin menerbitkan laporan ini setiap Kamis pagi, kecuali bila bertepatan dengan hari libur federal.

Pada rilis terakhir yang dipublikasikan 19 Maret 2026, klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir 14 Maret tercatat 205.000, turun 8.000 dari pekan sebelumnya yang sebesar 213.000.

Sementara itu, rata-rata empat minggunya berada di level 210.750. Angka tersebut memberi sinyal bahwa pemutusan hubungan kerja di AS masih tergolong rendah.



Karena itu, bila angka jobless claims pekan ini masih bergerak di sekitar level tersebut, pasar kemungkinan akan menilai pasar tenaga kerja AS masih cukup solid.

Kondisi ini penting karena ketahanan pasar kerja akan ikut memengaruhi prospek konsumsi rumah tangga, arah kebijakan moneter The Fed, serta sentimen investor terhadap dolar AS dan aset berisiko.

Strategi Pengetatan Fiskal Pemerintah RI

Dari dalam negeri ada kabar baik dari pemerintah Indonesia yang tengah menempuh jalur efisiensi agresif untuk menjaga stabilitas APBN di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia.

Sebagai catatan, setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar US$1, beban subsidi dan kompensasi energi Indonesia bisa membengkak antara Rp5 triliun hingga Rp10 triliun

Menteri Keuangan Purbaya menargetkan penghematan sebesar Rp80 triliun melalui pemangkasan belanja non-prioritas di seluruh kementerian.

 

Sejalan dengan itu, Badan Gizi Nasional (BGN) mengusulkan modifikasi frekuensi distribusi makan harian yang diproyeksikan mampu menghemat tambahan Rp40 triliun, meski kebijakan ini masih menunggu keputusan final Presiden Prabowo.

 Sebagai bantalan fiskal, pemerintah mengoptimalkan penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) serta memacu penerimaan Pajak dan PNBP dari windfall sektor komoditas.

Di sisi permintaan, opsi kebijakan bekerja dari rumah (WFH) dan pembatasan belanja operasional kementerian sedang dikaji sebagai langkah darurat penghematan konsumsi energi nasional.

Purbaya Pertimbangkan Penempatan Dana di Bank Swasta

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang penempatan dana pemerintah ke bank swasta, namun dengan syarat ketat. Dirinya menegaskan hanya bank dengan kondisi fundamental kuat atau "dapur sehat" yang bisa dipertimbangkan.
"Bank swasta kalo mau juga nanti akan kita buka, yang sehat ya. Nanti kalo enggak gue di penjara lagi," ujar Purbaya saat halal bihalal bersama pewarta, Rabu (25/3/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Purbaya mengungkapkan telah menambah penempatan dana pemerintah ke himpunan bank milik negara (Himbara) dan Bank Jakarta sebesar Rp 100 triliun. Dengan tambahan ini, total dana yang ditempatkan mencapai sekitar Rp 300 triliun.

 

Berikut agenda ekonomi hari ini

  • Menteri Keuangan memimpin rapat terkait kebijakan bea keluar batubara dan nikel.

  • Konferensi pers Kedutaan Besar Arab Saudi terkait isu-isu terkini di Kedubes Saudi di Kuningan, Jakarta Selatan.

  •  Pidato pejabat the Fed: Miran

  •  Pengumuman pertambahan klaim pengangguran mingguan AS untuk pekan yang berakhir pada 14 Maret 2026

Berikut agenda korporasi  hari ini:

  • UPSPT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG)
  • RUPS PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA)
  • Informasi Pembayaran Kupon seri BVIC04CN2 ke 2
  • Tanggal DPS Dividen Tunai PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
  • Tanggal DPS Dividen Tunai PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk
  • Tanggal ex Dividen Tunai PT Hasnur Internasional Shipping Tbk

Berikut indikator ekonomi RI:



Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]



Most Popular
Features