Wall Street Bangkit & Harga Minyak Adem, Indonesia Siap Lanjut Pesta?
Pasar keuangan RI dari IHSG sampai rupiah kompak menguat pada hari pertama perdagangan setelah libur panjang Lebaran.
Optimisme investor muncul seiring munculnya harapan meredanya ketegangan geopolitik global setelah Amerika Serikat disebut tengah menyiapkan proposal diplomatik untuk meredakan konflik di Timur Tengah.
Namun di balik penguatan tersebut, pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik geopolitik yang menjadi sumber utama volatilitas global, menanti sejumlah data yang akan rilis, kemudian memantau bagaimana perkembangan rencana pengetatan fiskal dalam negeri.
Adapun berikut rincian sentimen yang akan berpengaruh pada hari ini:
Update Perang di Timur Tengah
Perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel kini telah memasuki minggu keempat sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026.
Di tengah eskalasi militer yang masih berlangsung, sinyal diplomasi mulai muncul di balik layar. Laporan dari sejumlah media internasional menyebutkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump telah mengirimkan draf proposal perdamaian kepada Teheran melalui Panglima Militer Pakistan, Marsekal Lapangan Syed Asim Munir, yang berperan sebagai perantara komunikasi tidak langsung antara kedua pihak.
Proposal yang dikenal sebagai "Proposal 15 Poin" tersebut berisi tuntutan besar terhadap Iran terkait program nuklir dan kebijakan regionalnya.
Di antaranya adalah pembongkaran seluruh kemampuan nuklir militer Iran, penghentian total aktivitas pengayaan uranium di dalam negeri, serta penyerahan seluruh stok uranium yang telah diperkaya kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Iran juga diminta menonaktifkan fasilitas nuklir utama seperti Natanz, Isfahan, dan Fordow serta memberikan akses inspeksi tanpa batas bagi pengawas internasional.
Selain isu nuklir, proposal tersebut juga menuntut Iran menghentikan dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan seperti Hizbullah dan Hamas, membuka kembali Selat Hormuz sebagai jalur maritim yang aman bagi perdagangan internasional, serta membatasi program rudal balistiknya.
Sebagai imbalan, AS menawarkan pencabutan penuh sanksi internasional serta bantuan teknologi untuk pengembangan program nuklir sipil, termasuk proyek pembangkit listrik seperti Bushehr.
Namun jalur diplomasi ini masih dibayangi tingkat ketidakpercayaan yang sangat tinggi dari pihak Iran.
Sejumlah pejabat Iran dilaporkan telah menyampaikan kepada para mediator bahwa mereka merasa sudah dua kali "ditipu" oleh Presiden Trump dan tidak ingin hal tersebut terulang kembali.
Menurut sumber yang dikutip Axios, Teheran menilai dalam dua kesempatan sebelumnya Washington berbicara mengenai kesepakatan atau negosiasi, tetapi pada saat yang hampir bersamaan justru memberikan lampu hijau terhadap operasi militer atau serangan mendadak.
Hal ini membuat Iran melihat dorongan diplomasi terbaru dengan sangat hati-hati dan curiga bahwa upaya negosiasi bisa saja hanya menjadi bagian dari strategi tekanan militer.
Kecurigaan tersebut semakin kuat karena di saat yang sama Amerika Serikat justru terus meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Washington dilaporkan mengirim tambahan pasukan dari Divisi Airborne ke-82 untuk memperkuat puluhan ribu personel yang sudah berada di Timur Tengah.
Pendekatan yang terlihat sekarang adalah kombinasi antara diplomasi dan tekanan militer, sebuah strategi yang oleh beberapa pejabat AS sendiri digambarkan sebagai negosiasi yang berjalan bersamaan dengan eskalasi kekuatan militer.
Di lapangan, situasi militer juga masih sangat panas. Serangan udara AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Natanz beberapa hari lalu memicu serangan balasan dari Iran.
Teheran meluncurkan rudal ke wilayah Israel selatan, termasuk area dekat Dimona yang berada di sekitar kompleks riset nuklir Israel. Serangan tersebut menjadi salah satu eskalasi terbesar sejak konflik dimulai dan memperlihatkan bahwa kemampuan serangan balasan Iran masih cukup signifikan.
Ketegangan juga semakin terasa di jalur energi global. Iran kini memperketat kontrol atas Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global.
Kapal yang ingin melintas dilaporkan harus berkoordinasi dengan otoritas Iran, dan lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut mulai menurun.
Beberapa laporan juga menyebut adanya sistem persetujuan khusus yang dikelola oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta biaya transit yang sangat tinggi untuk kapal tanker bernilai besar.
Akibatnya, sebagian besar kapal yang masih berlayar di selat tersebut adalah kapal yang terkait dengan Iran atau kapal yang mendapat izin khusus, termasuk beberapa kapal yang beroperasi dekat pantai Iran.
Dari sisi politik, posisi para pihak masih terlihat cukup jauh. Iran secara resmi membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington, meskipun mereka mengakui telah menerima pesan melalui negara perantara seperti Pakistan, Turki, dan Mesir.
Sementara itu Israel menunjukkan sikap yang lebih keras dan mendorong AS untuk terus meningkatkan tekanan militer terhadap Iran dibandingkan membuka ruang kompromi terlalu cepat.
Bagi pasar global, situasi ini berarti volatilitas kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat.
Kabar mengenai proposal perdamaian memang memberikan harapan adanya de-eskalasi konflik, tetapi pengiriman pasukan tambahan AS serta meningkatnya kontrol Iran atas Selat Hormuz menunjukkan bahwa risiko geopolitik masih sangat tinggi.
Selama belum ada konfirmasi resmi dari Teheran mengenai gencatan senjata atau kesepakatan diplomatik, harga emas dan minyak kemungkinan tetap diperdagangkan dengan premi risiko yang tinggi karena pasar terus mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Harga Minyak Melandai
Harga minyak berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 2,2% menjadi ditutup di US$90,32 per barel.
Sementara itu, Brent internasional juga turun 2,17% ke US$102,22. Pelemahan harga minyak ini menjadi kabar baik karena bisa meredakan kekhawatiran investor mengenai potensi lonjakan inflasi.
Klaim Awal Pengangguran AS
Dari pasar tenaga kerja AS, investor juga akan menunggu rilis klaim pengangguran mingguan atau jobless claims pada Kamis (26/3/2026). Departemen Tenaga Kerja AS secara rutin menerbitkan laporan ini setiap Kamis pagi, kecuali bila bertepatan dengan hari libur federal.
Pada rilis terakhir yang dipublikasikan 19 Maret 2026, klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir 14 Maret tercatat 205.000, turun 8.000 dari pekan sebelumnya yang sebesar 213.000.
Sementara itu, rata-rata empat minggunya berada di level 210.750. Angka tersebut memberi sinyal bahwa pemutusan hubungan kerja di AS masih tergolong rendah.
Karena itu, bila angka jobless claims pekan ini masih bergerak di sekitar level tersebut, pasar kemungkinan akan menilai pasar tenaga kerja AS masih cukup solid.
Kondisi ini penting karena ketahanan pasar kerja akan ikut memengaruhi prospek konsumsi rumah tangga, arah kebijakan moneter The Fed, serta sentimen investor terhadap dolar AS dan aset berisiko.
Strategi Pengetatan Fiskal Pemerintah RI
Dari dalam negeri ada kabar baik dari pemerintah Indonesia yang tengah menempuh jalur efisiensi agresif untuk menjaga stabilitas APBN di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia.
Sebagai catatan, setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar US$1, beban subsidi dan kompensasi energi Indonesia bisa membengkak antara Rp5 triliun hingga Rp10 triliun
Menteri Keuangan Purbaya menargetkan penghematan sebesar Rp80 triliun melalui pemangkasan belanja non-prioritas di seluruh kementerian.
Sejalan dengan itu, Badan Gizi Nasional (BGN) mengusulkan modifikasi frekuensi distribusi makan harian yang diproyeksikan mampu menghemat tambahan Rp40 triliun, meski kebijakan ini masih menunggu keputusan final Presiden Prabowo.
Sebagai bantalan fiskal, pemerintah mengoptimalkan penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) serta memacu penerimaan Pajak dan PNBP dari windfall sektor komoditas.
Di sisi permintaan, opsi kebijakan bekerja dari rumah (WFH) dan pembatasan belanja operasional kementerian sedang dikaji sebagai langkah darurat penghematan konsumsi energi nasional.
Purbaya Pertimbangkan Penempatan Dana di Bank Swasta
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang penempatan dana pemerintah ke bank swasta, namun dengan syarat ketat. Dirinya menegaskan hanya bank dengan kondisi fundamental kuat atau "dapur sehat" yang bisa dipertimbangkan.
"Bank swasta kalo mau juga nanti akan kita buka, yang sehat ya. Nanti kalo enggak gue di penjara lagi," ujar Purbaya saat halal bihalal bersama pewarta, Rabu (25/3/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya mengungkapkan telah menambah penempatan dana pemerintah ke himpunan bank milik negara (Himbara) dan Bank Jakarta sebesar Rp 100 triliun. Dengan tambahan ini, total dana yang ditempatkan mencapai sekitar Rp 300 triliun.
(mae/mae) Add
source on Google