Terima Kasih IHSG, Ramadan Tahun Ini Kesabaran Investor Naik Level
Pasar keuangan Indonesia akan menutup perdagangan pekan ini pada hari ini, Selasa (17/3/2026) sebelum libur panjang Hari Raya Idul Fitri dan Nyepi hingga Selasa pekan depan.
Sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri akan menggerakkan pasar saham hingga rupiah. Di antaranya adalah keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI), kebijakan pemerintah, hingga perkembangan perang.
Berikut beberapa sentimen hari ini:
Ramadan Kelabu Buat IHSG
Hari ini akan menjadi perdagangan terakhir IHSG selama Ramadan 1447 H atau 2026. Bagi investor, IHSG selama Ramadan tahun ini bukanlah sesuatu yang dikenang dengan baik karena IHSG babak belur yang membuat banyak investor merugi.
Selama Ramadan atau sejak 19 Februari 2026 hingga Senin kemarin (16/3/2026), IHSG sudah ambruk 15%. Catatan ini sangat buruk mengingat dalam lima tahun terakhir, IHSG juga kerap menguat selama Ramadan. Pada Ramadan 2025, misalnya, IHSG terbang 3,8%.
Catatan buruk lainnya adalah besarnya penutupan di zona merah selama Ramadan. Selama 18 hari perdagangan di Ramadan tahun ini, IHSG hanya menguat lima kali sementara sisanya atau 72% berakhir di zona merah.
Laju IHSG juga terjun bebas dari level 8310 pada sehari sebelum Ramadan menjadi 7022,88 pada Senin kemarin.
Selama Ramadan tahun ini, kesabaran investor juga terus diuji dengan banyaknya sentimen negatif baik dari dalam ataupun luar negeri. Di antaranya, downgrade outlook rating dari Moody's dan Fitch Rating, proyeksi defisit APBN hingga puncaknya perang Iran versus Israel - AS yang meletus pada 28 Februari.
IHSG bahkan anjlok 4,57% pada 4 Maret 2026 setelah harga minyak melonjak hingga menembus level US$ 100 untuk pertama kalinya sejak 2022.
Keputusan Suku Bunga BI
Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini pada Senin-Selasa (16-17/3/2026), dengan hasil keputusan yang akan diumumkan pada hari ini, Selasa (17/3/2026).
Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 lembaga/institusi menunjukkan hasil yang kompak. Seluruh responden memproyeksikan BI akan kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada RDG kali ini.
Pada pertemuan RDG terakhir pada 18-19 Februari 2026, BI kembali memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75% dan Lending Facility sebesar 5,50%.
Keputusan tersebut membuat BI telah lima kali berturut-turut menahan suku bunga acuannya hingga Februari 2026. Bila kembali dipertahankan pada Maret ini, maka langkah tersebut akan menjadi kali keenam secara beruntun.
Dalam RDG kali ini BI diperkirakan masih akan menahan suku bunga guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sepanjang bulan ini, rupiah sudah ambruk 1,3%.
Tekanan ini terutama datang dari faktor global, khususnya penguatan indeks dolar AS yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia.
Di tengah memanasnya perang di Timur Tengah, investor kembali memburu aset safe haven, termasuk dolar AS. Kondisi ini kemudian mempersempit ruang gerak mata uang lain, termasuk rupiah, yang cenderung tertekan.
Hal ini sejalan dengan pandangan Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, yang menilai BI masih akan memilih menahan suku bunga pada Maret 2026 seiring tertekannya nilai tukar rupiah.
"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada Maret 2026. Hal ini disebabkan oleh tekanan yang masih berlanjut terhadap rupiah akibat ketidakpastian pasar keuangan global dan dampak meningkatnya tensi geopolitik, yakni perang Iran-Israel dan AS," ujar Juniman.
Juniman juga menyoroti tekanan inflasi yang meningkat pada Februari 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan pada Februari 2026 mencapai 4,76%, atau berada di atas target BI, sementara inflasi inti tercatat 2,63% secara tahunan.
Menurut dia, kondisi tersebut turut menjadi pertimbangan BI untuk belum mengubah arah kebijakan suku bunga. Meski demikian, Juniman menilai ruang penurunan suku bunga tetap terbuka ke depan, mengingat tekanan inflasi inti domestik masih relatif rendah.
Pemerintah Pilih Efisiensi Anggaran, Belum Berencana Naikkan Harga BBM
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah lebih memilih menerapkan efisiensi anggaran ketimbang menaikkan batas defisit APBN di atas 3% produk domestik bruto (PDB) dalam menghadapi tekanan harga minyak mentah dunia, akibat konflik di Timur Tengah.
Opsi ini pun kata dia telah dibahas dalam agenda Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang digelar Senin (16/3/2026).
"Jadi tadi ada didiskusikan, kalau harga BBM naik terus, langkah pertama ya itu, efisiensi. Kita sudah mempersiapkan langkah-langkah yang diperlukan oleh kementerian atau lembaga (K/L) nanti," ucap Purbaya.
Dalam rakortas itu, setiap kementerian atau lembaga telah diminta untuk mulai mempersiapkan porsi anggaran yang bisa dipangkas. "Mereka sudah kita suruh siapkan, kita minta siapkan, berapa persen anggarannya dipotong," tegasnya.
Purbaya menuturkan, arahan untuk efisiensi anggaran ini termasuk untuk Badan Gizi Nasional (BGN) yang menjadi pelaksana program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yakni makan bergizi gratis alias MBG.
"Kan ada anggaran tambahan-tambahan yang membuat gelembung sekali. Jadi dengan anggaran sekarang yang pertama ya kita fokus ke yang ada aja programnya. Yang tambahan kita tunda dulu sampai waktu yang memungkinkan, tapi sekarang jelas enggak mungkin," tutur Purbaya.
Menurutnya, Kementerian Keuangan mulai pekan depan mulai menghitung besaran efisiensi anggaran yang akan dilakukan pemeirntah untuk mengantisipasi gejolak harga minyak mentah dunia yang kerap melampaui US$100 per barel atau di atas asumsi makro APBN US$70 per barel efek perang AS-Israel dengan Iran.
"Tapi belum tentu eksekusi ya, kalo mau dipotong yang mana yang mau dipotong, kira-kira gitu. Nanti mereka adjust kebijakannya berdasarkan potongan Kementerian Keuangan," paparnya.
Purbaya juga mengatakan pemerintah hingga kini belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, meskipun harga minyak mentah dunia sempat meroket imbas konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
"Enggak, kita enggak akan naikkan harga BBM," kata Purbaya seusai menghadiri rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Senin (16/3/2026).
Libur Panjang Lebaran
Indonesia akan memasuki libur panjang pada Rabu pekan ini hingga Selasa pekan depan. Rangkaian hari libur nasional, dimulai dari Hari Suci Nyepi pada 18-19 Maret 2026 yang kemudian dilanjutkan dengan libur panjang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah pada 20-24 Maret 2026.
Libur panjang ini diharapkan bisa menggerakkan permintaan hingga ekonomi dalam negeri.
Keputusan Suku Bunga The Fed Jadi Sorotan
Sorotan utama pekan ini tertuju pada keputusan suku bunga Federal Reserve yang dijadwalkan pada Selasa Rabu waktu AS dan diumumkan pada Kamis dini hari waktu Indonesia (19/3/2026).
Saat ini, suku bunga The Fed berada di kisaran 3,5%-3,75% setelah tiga kali pemangkasan pada tahun lalu. Pasar kini menanti sinyal arah kebijakan moneter berikutnya, terutama di tengah ketidakpastian inflasi dan kondisi ekonomi global.
Mayoritas analis memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan menahan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% pada pertemuan FOMC Maret. Proyeksi di FedWatch bahkan menunjukkan 99,2% mempertaruhkan suku bunga di tahan.
Namun, peluang pemangkasan suku bunga tahun ini mulai mengecil. Jika sebelumnya pasar memperkirakan penurunan suku bunga bisa dimulai pertengahan 2026, kini ekspektasi tersebut mulai mundur. Sejumlah faktor menjadi pemicu seperti lonjakan harga minyak, risiko inflasi energi, dan ketidakpastian ekonomi global.
Kenaikan harga minyak dipicu ketegangan AS-Iran yang mengganggu rantai pasokan energi global, terutama di jalur strategis Selat Hormuz, salah satu rute perdagangan minyak paling vital di dunia.
Akibatnya, pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026 kemungkinan hanya terjadi satu kali pada tahun ini.
Selain keputusan suku bunga, investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru Federal Open Market Committee (FOMC) serta konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell.
Pasar mencari sinyal apakah The Fed masih membuka ruang pemangkasan suku bunga tahun ini, atau justru menunda lebih lama jika lonjakan harga energi kembali memicu tekanan inflasi.
Penjualan Ritel China
China mengumumkan data penjualan ritel Senin kemarin. Penjualan ritel China naik 2,8% secara tahunan pada Januari-Februari 2026, meningkat dari 0,9% pada Desember dan melampaui ekspektasi pasar 2,5%. Pertumbuhan ini menjadi yang terkuat sejak Oktober, didorong oleh libur Tahun Baru Imlek yang memicu lonjakan belanja konsumen seperti reservasi hotel dan belanja duty-free.
Penjualan melonjak pada makanan (10,2%) serta pakaian dan tekstil (10,4%), sementara peralatan rumah tangga (3,3%) dan tembakau serta alkohol (19,1%) juga pulih. Namun penjualan mobil masih turun 7,3%.
Sementara itu, produksi industri China naik 6,3% secara tahunan pada Januari-Februari 2026, lebih tinggi dari 5,2% pada Desember dan di atas perkiraan 5,1%. Kenaikan terjadi di pertambangan (6,1%), manufaktur (6,6%), dan utilitas (4,7%), dengan sebagian besar sektor manufaktur mencatat pertumbuhan.
Secara bulanan, output industri naik 0,83%, sementara sepanjang 2025 produksi industri tumbuh 5,9%.
Perkembangan Perang
Beberapa sekutu Amerika Serikat menolak seruan Donald Trump pada Senin untuk mengirim kapal perang guna mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz. Penolakan itu memicu kritik dari presiden AS tersebut, yang menuduh para mitra Barat tidak tahu berterima kasih setelah puluhan tahun mendapat dukungan dari Washington.
Perang AS-Israel melawan Iran kini memasuki minggu ketiga tanpa tanda-tanda akan segera berakhir. Selat Hormuz yang sangat penting-jalur yang dilalui sekitar 20% aliran minyak dan gas alam cair dunia-masih sebagian besar tertutup, sehingga memicu kenaikan harga energi dan kekhawatiran akan inflasi.
Konflik ini juga telah menimbulkan biaya ekonomi bagi sekutu-sekutu AS, yang tidak diajak berkonsultasi sebelum serangan udara ke Iran dilakukan. Mereka juga telah menghadapi berbulan-bulan kritik keras dan ancaman bernada perang dari Trump sejak ia kembali menjabat.
Sejumlah mitra AS, termasuk Jerman, Spanyol, dan Italia, mengatakan mereka tidak memiliki rencana segera untuk mengirim kapal guna membantu membuka kembali jalur strategis tersebut, yang secara efektif ditutup Iran menggunakan drone dan ranjau laut.
"Kami tidak memiliki mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, atau NATO yang diwajibkan oleh Undang-Undang Dasar," kata Kanselir Jerman Friedrich Merz di Berlin. Ia menambahkan bahwa Washington dan Israel tidak berkonsultasi dengan Jerman sebelum meluncurkan perang.
Trump, yang berbicara dalam sebuah acara di Gedung Putih di Washington, mengatakan banyak negara telah memberitahunya bahwa mereka siap membantu, namun ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap beberapa sekutu lama.
(mae/mae) Addsource on Google