Rebutan Pengaruh! China & Amerika Adu Cepat Beri Utang ke RI
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Utang Indonesia dari China turun tipis pada awal 2026, sementara pinjaman dari Amerika Serikat (AS) bergerak naik. Perkembangan ini membuat selisih posisi kedua negara sebagai pemberi utang Indonesia menarik untuk diperhatikan.
Berdasarkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) Bank Indonesia, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar US$434,7 miliar atau tumbuh 1,7% secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 1,8% yoy dengan nilai US$432,96 miliar.
Perlambatan ini terutama dipengaruhi oleh menurunnya utang luar negeri swasta. BI mencatat posisi ULN swasta pada Januari 2026 sebesar US$193,0 miliar, turun dari US$194,0 miliar pada Desember 2025. Secara tahunan, ULN swasta juga mengalami kontraksi 0,7% yoy, lebih dalam dibandingkan kontraksi 0,2% yoy pada bulan sebelumnya.
Sebaliknya, utang luar negeri pemerintah masih mencatat pertumbuhan cukup kuat. Pada Januari 2026, posisi ULN pemerintah mencapai US$216,3 miliar, naik 5,6% yoy, lebih tinggi dibandingkan posisi Desember 2025 yang sebesar US$214,26 miliar.
Utang RI ke China Turun Tipis, Pinjaman dari AS Justru Naik
Data Bank Indonesia menunjukkan posisi utang luar negeri Indonesia kepada China pada Januari 2026 tercatat sebesar US$24,95 miliar.
Angka ini turun tipis dari Desember 2025 yang sebesar US$24,97 miliar, tetapi masih sangat dekat dengan rekor tertinggi US$25,03 miliar yang tercatat pada Agustus 2025.
Sebaliknya, utang Indonesia kepada Amerika Serikat pada Januari 2026 naik tipis menjadi US$27,45 miliar dari US$27,31 miliar pada Desember 2025. Meski demikian, posisi ini masih berada di bawah level tertinggi US$27,95 miliar yang sempat tercapai pada Juli 2024.
Kalau dilihat dari trennya, utang Indonesia dari China dalam beberapa waktu terakhir naik lebih cepat dibandingkan dari Amerika Serikat. Pada Juli 2024, nilainya masih sekitar US$22,78 miliar. Lalu angkanya terus naik hingga sempat menembus US$25 miliar pada Agustus 2025. Meski sekarang turun tipis, posisinya masih tetap tinggi.
Sebaliknya, utang Indonesia dari AS cenderung tidak banyak berubah. Angkanya memang sempat turun ke US$26,36 miliar pada Agustus 2025, lalu naik lagi menjadi US$27,45 miliar pada Januari 2026. Namun, kenaikannya tidak secepat China.
Kalau ditarik lebih jauh, perubahan posisi China memang terlihat sangat mencolok. Pada 2010, utang Indonesia ke China baru sekitar US$2,49 miliar. Sekarang nilainya sudah melonjak hampir 10 kali lipat menjadi US$24,95 miliar.
Sementara itu, utang Indonesia ke AS juga naik, dari US$5,60 miliar pada 2010 menjadi US$27,45 miliar pada Januari 2026. Hanya saja, dalam beberapa tahun terakhir laju kenaikannya terlihat lebih lambat dibandingkan China.
Saat ini, selisih utang Indonesia ke AS dan China tinggal sekitar US$2,5 miliar. AS memang masih berada di atas China, tetapi jaraknya sekarang jauh lebih dekat dibandingkan beberapa tahun lalu.
Perkembangan ini membuat China tetap kukuh sebagai pemberi utang terbesar ketiga bagi Indonesia. Artinya, peran China dalam pembiayaan pembangunan Indonesia juga makin besar.
Singapura Masih Nomor Satu, Jepang Terus Turun
Selain Singapura yang masih kokoh sebagai kreditur terbesar Indonesia, serta Amerika Serikat dan China yang berada di posisi berikutnya, sejumlah negara lain juga tetap menjadi pemberi pinjaman utama bagi Indonesia, meski arah trennya berbeda-beda.
Singapura masih menjadi negara pemberi pinjaman terbesar ke Indonesia dengan nilai mencapai US$54,73 miliar pada Januari 2026. Meski turun dibandingkan Desember 2025 yang sebesar US$55,26 miliar, posisinya masih sangat dominan dibandingkan negara lain.
Di posisi keempat terdapat Jepang dengan total pinjaman sebesar US$20,36 miliar pada Januari 2026. Angka ini naik tipis dibandingkan Desember 2025 yang sebesar US$20,34 miliar, tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan posisi pada 2010 saat Jepang masih menjadi kreditur terbesar Indonesia dengan total pinjaman mencapai US$40,47 miliar.
Sementara itu, posisi kelima ditempati Hong Kong dengan nilai pinjaman sebesar US$18,97 miliar pada Januari 2026. Angka ini naik dibandingkan Desember 2025 yang sebesar US$18,51 miliar, sekaligus sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi sepanjang 2024 yang berada di kisaran US$18,72 miliar.
Hong Kong tetap menjadi salah satu pusat pembiayaan penting bagi korporasi Indonesia, terutama melalui pinjaman jangka menengah dan fasilitas perbankan internasional.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google