MARKET DATA
Newsletter

Terima Kasih IHSG, Ramadan Tahun Ini Kesabaran Investor Naik Level

mae,  CNBC Indonesia
17 March 2026 06:24
Seorang bekerja di lantai bursa saham New York di Kota New York, AS, 20 Oktober 2025.
Foto: Seorang bekerja di lantai bursa saham New York di Kota New York, AS, 20 Oktober 2025. (REUTERS/Kevin Coombs)

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street akhirnya bangkit pada Senin atau Selasa waktu Indonesia.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 387,94 poin atau 0,83% dan ditutup di 46.946,41. S&P 500 melesat 1,01% ke level 6.699,38, sementara Nasdaq Composite menguat 1,22% dan berakhir di 22.374,18.

Saham Meta naik lebih dari 2% setelah laporan yang menyebutkan bahwa perusahaan berencana melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari 20% tenaga kerjanya. Selain itu, saham Nvidia naik lebih dari 1% seiring dimulainya konferensi GTC pada Senin.



Pergerakan ini terjadi setelah S&P 500 mencatatkan penurunan untuk minggu ketiga berturut-turut dan ditutup pada level terendah tahun ini pada Jumat.

Harga minyak melonjak pekan lalu, dengan Brent crude ditutup di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022. Harga minyak melonjak karena lalu lintas di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting dunia, secara efektif terhenti sejak perang dimulai.

Dalam perdagangan Senin, West Texas Intermediate (WTI) turun 5,3% dan ditutup di US$93,52 per barel, setelah sempat diperdagangkan di atas US$100 per barel pada perdagangan malam hari. Sementara itu, Brent crude turun 2,05% ke US$101,21 per barel.

Harga minyak turun setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC pada Senin bahwa Amerika Serikat mengizinkan tanker minyak Iran untuk melintas melalui Selat Hormuz.

Tekanan tambahan pada harga minyak juga datang dari laporan Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa AS akan segera mengumumkan koalisi negara-negara untuk mengawal kapal yang melewati selat tersebut, mengutip sejumlah pejabat.

Namun, pernyataan Presiden Donald Trump kepada wartawan pada Senin siang menunjukkan bahwa koalisi tersebut belum sepenuhnya terbentuk, karena ia mendorong negara lain untuk ikut terlibat.

Harga minyak sempat naik dari titik terendahnya setelah komentar tersebut, tetapi tetap lebih rendah pada sesi perdagangan hari itu.

Trump pada Jumat memerintahkan serangan terhadap aset militer Iran yang berada di Pulau Kharg. Meski serangan tersebut tidak berdampak pada infrastruktur minyak, Trump mengatakan AS akan mempertimbangkan untuk menyerang fasilitas tersebut jika Iran terus memblokir Selat Hormuz.

Trump juga mengatakan kepada NBC pada akhir pekan bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan, namun ia belum siap untuk melakukannya.

"Pasar benar-benar merasa bahwa Trump memikirkan kepentingan pasar dalam jangka panjang," kata David Krakauer, wakil presiden manajemen portofolio di Mercer Advisors, dikutip dari CNBC International.

 

Secara lebih spesifik, pasar masih agak bergantung pada keyakinan bahwa ia dapat mengakhiri konflik ini jika benar-benar menginginkannya, terutama jika situasi mulai memburuk.

Meski ketegangan geopolitik meningkat, aksi jual saham relatif terbatas. Bahkan, S&P 500 masih berada sedikit lebih dari 4% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai awal tahun ini.

"Ada ketidakpastian. Situasi bisa berubah dengan cepat. Dalam kabut perang, biasanya Anda hanya bertahan dan menunggu." kata Krakauer kepada CNBC.

Kenaikan saham pada Senin sebenarnya sudah lama ditunggu setelah beberapa pekan tekanan akibat perang Iran. Namun, kenaikan tersebut tidak disertai volume perdagangan yang kuat, sesuatu yang biasanya diharapkan oleh investor bullish untuk menunjukkan keyakinan terhadap pergerakan pasar. Volume perdagangan di NYSE maupun Nasdaq pada sesi Senin tercatat jauh di bawah rata-rata.

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features