Di Tengah Perang: AS Umumkan Kabar Genting-Purbaya Buka Suara Hari Ini
Menjelang pembukaan perdagangan pada pertengahan pekan ini Rabu (11/3/2026), pelaku pasar modal dan finansial global dihadapkan pada perpaduan sentimen yang krusial.
Sepanjang hari Selasa kemarin, pasar mencerna serangkaian rilis data makroekonomi dari kawasan Asia yang menunjukkan indikasi penguatan fundamental, bersamaan dengan arus berita eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang terus memicu volatilitas harga energi.
Laporan pagi ini menyajikan kronologi perkembangan pasar sepanjang hari kemarin, dan memproyeksikan fokus utama investor pada perdagangan hari Rabu ini, di mana rilis data inflasi Amerika Serikat pada malam nanti akan menjadi penentu arah pergerakan pasar selanjutnya.
APBN KiTA
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan menggelar Konferensi Pers APBN KiTa untuk memaparkan kondisi APBN Februari 2026.
Konferensi pers ini sangat ditunggu di tengah meletusnya perang Iran vs Israel-AS. Menarik ditunggu apakah Purbaya akan mengumumkan kebijakan baru mengantisipasi dampak perang, termasuk mengantisipasi penurunan pendapatan.
Menarik disimak untuk melihat perkembangan belanja negara hingga dua bulan pertama tahun ini. Perlu disimak juga seberapa besar penerimaan negara hingga Februari 2026, terutama pajak penghasilan.
Sebagai catatan, defisit APBN mencapai 0,21% terhadap PDB per Januari 2026. Defisit ini setara dengan Rp54,6 triliun. Dari sisi belanja negara tercatat Rp 227,3 triliun atau 5,9% dari pagu APBN. Pendapatan mencapai Rp 172,7 triliun.
Pertumbuhan Ekonomi Jepang Kuartal IV-2025 Direvisi Naik Menjadi 0,3%
Mengawali rentetan rilis data pada hari Selasa, Cabinet Office Jepang melaporkan bahwa perekonomian negara tersebut berekspansi sebesar 0,3% secara kuartalan pada kuartal keempat tahun 2025.
Angka revisi ini lebih tinggi dibandingkan estimasi awal yang berada di level 0,1%, dan sejalan dengan ekspektasi pasar. Pencapaian ini menandai pemulihan fundamental setelah perekonomian Jepang sempat mengalami kontraksi sedalam 0,7% pada kuartal ketiga.
Faktor pendorong utama pemulihan ini adalah revisi naik pada sejumlah komponen krusial. Konsumsi swasta, yang menyumbang lebih dari separuh struktur ekonomi Jepang, direvisi naik menjadi tumbuh 0,3% dari estimasi awal 0,1%, didukung oleh langkah-langkah fiskal Tokyo yang bertujuan meringankan tekanan biaya hidup masyarakat.
Selain itu, investasi bisnis mengalami revisi ke atas yang cukup tajam menjadi 1,2% dari sebelumnya 0,2%, mengindikasikan penguatan belanja korporasi untuk peningkatan kapasitas dan peralatan.
Pengeluaran pemerintah juga naik 0,4%, merefleksikan dukungan fiskal yang berlanjut. Sementara itu, kinerja perdagangan neto tidak memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan, mengingat ekspor dan impor masing-masing mengalami penurunan sebesar 0,3% akibat melemahnya permintaan eksternal dan kebutuhan impor domestik.
Surplus Neraca Perdagangan China Melonjak Tembus Prediksi
Dari kawasan Tiongkok, Administrasi Umum Bea Cukai pada hari Selasa merilis data perdagangan untuk periode Januari-Februari 2026 yang menunjukkan performa impresif.
Tiongkok mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar USD 213,62 miliar, angka yang jauh melampaui ekspektasi para ekonom di level USD 196,6 miliar. Kinerja ini melanjutkan tren positif setelah sebelumnya mencetak rekor surplus tahunan pada 2025.
Pencapaian ini didorong oleh lonjakan nilai ekspor sebesar 21,8% secara tahunan (yoy) menjadi USD 656,58 miliar, yang merupakan laju pertumbuhan pengiriman tercepat sejak Oktober 2021.
Di saat yang bersamaan, nilai impor juga naik signifikan sebesar 19,8% menjadi USD 442,96 miliar, mengindikasikan kuatnya permintaan domestik menjelang dan selama periode libur Tahun Baru Imlek.
Solidnya kinerja perdagangan Tiongkok pada awal tahun ini memberikan sinyal positif bagi rantai pasok global, dan data ini diproyeksikan akan menjadi salah satu pijakan penting dalam perundingan bilateral menjelang rencana kunjungan Presiden AS ke Beijing pada akhir bulan ini.
Konsumsi Domestik Solid, Penjualan Eceran Indonesia Naik 5,7%
Beralih ke indikator makroekonomi domestik, Bank Indonesia kemarin merilis Indeks Penjualan Riil (IPR) untuk bulan Januari 2026 yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,7% (year on year/ yoy), melesat dibandingkan pertumbuhan 3,5% pada bulan Desember sebelumnya.
Akselerasi ini mengkonfirmasi bahwa momentum konsumsi rumah tangga di Indonesia masih terjaga dengan baik di awal tahun dengan inflasi yang sedikit tidak sesuai dengan harapan secara tahunan pada bulan Januari lalu.
Peningkatan penjualan eceran utamanya ditopang oleh pertumbuhan pada kelompok Barang Budaya dan Rekreasi yang melonjak 15,9%, serta kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang naik 8,1%.
Meskipun secara bulanan (mtm) kinerja penjualan ritel mengalami kontraksi wajar sebesar 2,7% akibat normalisasi aktivitas pasca-libur akhir tahun, Bank Indonesia memproyeksikan prospek penjualan ritel akan kembali menguat di angka 6,9% yoy pada periode pengamatan berikutnya.
Transparansi Kepemilikan Saham Perkuat Kredibilitas Pasar Modal RI
Dalam ranah tata kelola pasar modal domestik, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terus mendorong inisiatif keterbukaan informasi publik.
Merujuk pada pemberitaan hari Selasa, otoritas bursa kini secara rutin mempublikasikan data kepemilikan saham perusahaan tercatat dengan kepemilikan di atas 1%.
Kebijakan yang merupakan tindak lanjut dari regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini didesain untuk meminimalkan asimetri informasi di pasar.
Bagi analis dan investor, ketersediaan data pemegang saham yang terstruktur dan mudah diakses ini merupakan komponen esensial yang dapat dikombinasikan dengan metrik fundamental lainnya, seperti arus kas dan laba korporasi, untuk menghasilkan keputusan investasi yang rasional dan terukur.
Langkah ini menempatkan pasar modal Indonesia agar semakin selaras dengan standar Good Corporate Governance (GCG) internasional.
Foto: Suasana seminar acara Market Outlook 2026 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/3/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) |
Seleksi Dewan Komisioner OJK
Tingginya volatilitas di pasar keuangan global akibat ketidakpastian geopolitik turut memberikan imbas langsung pada kebijakan strategis di dalam negeri yang meningkatkan volatilitas dalam pasar keuangan domestik.
Proses pemilihan anggota Dewan Komisioner OJK periode baru diputuskan untuk dipercepat, memangkas berbagai tahapan seleksi awal yang sebelumnya telah dijadwalkan oleh Panitia Seleksi hingga akhir Maret 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa percepatan ini murni didorong oleh kondisi kahar pasar keuangan, di mana gejolak perang dan fluktuasi harga minyak menuntut kehadiran pimpinan definitif OJK yang lebih cepat untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan.
Menindaklanjuti hal ini, Komisi XI DPR akan langsung menggelar fit and proper test terhadap 10 nama calon yang diajukan Presiden pada hari ini Rabu (11/3/2026) yang sebelumnya terdapat 20 kandidat yang lolos dalam seleksi sebelumnya.
Lima nama terpilih akan langsung ditentukan pada hari yang sama, untuk kemudian ditetapkan pengesahannya dalam Rapat Paripurna DPR pada esok harinya, Kamis (12/3/2026).
Sinyal Kontradiktif Berakhirnya Perang AS-Iran
Dari ranah geopolitik, sentimen pasar sepanjang hari Selasa sangat dipengaruhi oleh dinamika yang berkembang terkait konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi di lapangan menunjukkan sinyal yang sangat kontradiktif.
Di satu sisi, Presiden AS mengisyaratkan bahwa operasi militer di kawasan tersebut akan berakhir dalam waktu dekat. Otoritas AS bahkan mempertimbangkan untuk mencabut sebagian sanksi terhadap minyak Rusia guna meredam gejolak harga energi global.
Namun, realitas di medan konflik menunjukkan eskalasi yang masih berlanjut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara resmi menolak opsi negosiasi dan menegaskan kesiapan militernya untuk melanjutkan serangan.
Pada saat yang sama, militer Israel dilaporkan kembali melancarkan serangan udara yang memicu aktivitas pesawat tempur dan ledakan di wilayah udara Teheran, sementara Uni Emirat Arab menyatakan telah mengintersepsi serangan proyektil di wilayahnya.
Ketidakpastian mengenai durasi konflik ini terus memberikan tekanan risiko pada instrumen investasi global karena naiknya premi resiko terhadap barang dan jasa di pasar global terutama di harga komoditas.
Foto: Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato di Pelabuhan Corpus Christi di Corpus Christi, Texas, AS, 27 Februari 2026. (REUTERS/Elizabeth Frantz) |
Ultimatum Blokade Selat Hormuz dan Ancaman Retaliasi Ganda
Ancaman terbesar bagi stabilitas makroekonomi global saat ini terpusat pada jalur logistik energi. Pada hari Selasa, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran kembali menegaskan ultimatum bahwa mereka tidak akan mengizinkan pengiriman minyak dari Timur Tengah selama serangan terus berlanjut.
Merespons potensi penutupan Selat Hormuz yang merupakan urat nadi bagi seperlima pasokan minyak dunia, otoritas AS mengeluarkan peringatan tegas.
Washington menyatakan siap meluncurkan serangan balasan dengan intensitas 20 kali lipat lebih destruktif apabila aliran minyak terganggu. Tingginya tensi militer ini sebelumnya telah memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga 29% di awal pekan.
Selain membebani neraca perdagangan negara importir energi, eskalasi ini mulai memicu kekhawatiran domestik di AS terkait lonjakan biaya hidup, yang tercermin dari jajak pendapat di mana mayoritas publik memproyeksikan kenaikan harga bahan bakar dalam waktu dekat.
Pasar Menanti Rilis Data Inflasi dan Inflasi Inti AS Malam Ini
Setelah mengakumulasi sentimen dari rilis data hari Selasa dan ketegangan di Timur Tengah, fokus seluruh pelaku pasar pada hari Rabu ini akan bermuara pada rilis data inflasi dan inflasi inti Amerika Serikat untuk bulan Februari, yang dijadwalkan terbit malam ini.
Kedua komponen ini merupakan satu kesatuan indikator utama yang mendasari arah kebijakan moneter Federal Reserve dalam menentukan arah kebijaka suku bunga pada pertemuan FOMC yang akan datang di tanggal 18-19 Maret 2026 waktu Indonesia.
Sebagai catatan di minggu depan terdapat banyak sekali pengumuman suku bunga bank sentral mulai dari The Federal Reserve, Bank of Japan, Bank of England, European Central Bank, dan People's Bank of China.
Konsensus pasar saat ini mengestimasikan inflasi umum AS akan bertahan di level 2,4% secara tahunan, sementara inflasi inti yang mengecualikan harga pangan dan energi diproyeksikan stabil di angka 2,5%.
Rilis data malam ini menjadi sangat krusial mengingat lonjakan harga minyak akibat perang berpotensi mengubah lintasan disinflasi AS.
Apabila realisasi data inflasi dan inflasi inti menunjukkan persistensi harga yang lebih tinggi dari ekspektasi, The Fed kemungkinan besar akan terpaksa mempertahankan rezim suku bunga tinggi lebih lama.
Skenario tersebut berisiko memicu penguatan instrumen dolar AS dan imbal hasil obligasi, yang pada gilirannya akan memberikan tekanan pada valuasi pasar saham dan mata uang emerging market pada perdagangan esok hari.
Namun perang ini harus tetap dicermati karena berpotensi mengganggu tatanan dunia dan teori ekonomi konvensioanl yang ada pada beberapa waktu terakhir ini.
(gls/gls) Add
source on Google
Foto: Suasana seminar acara Market Outlook 2026 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/3/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato di Pelabuhan Corpus Christi di Corpus Christi, Texas, AS, 27 Februari 2026. (REUTERS/Elizabeth Frantz)