MARKET DATA
Newsletter

Harga Minyak Melunak Tapi Tekanan Global Masih Kuat, Semoga IHSG Kuat

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
10 March 2026 06:25
IRAN-CRISIS/OIL-INDIA
Foto: Ilustrasi kilang minyak, dan peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran tampak dalam ilustrasi ini yang diambil pada 2 Maret 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Ilustrasi/Foto Arsip

Pergerakan pasar finansial dan komoditas global pada hari ini diwarnai oleh berbagai rilis data makroekonomi utama dari kawasan Asia, serta dinamika geopolitik yang mengalami eskalasi tajam.

Pelaku pasar tengah mencerna implikasi dari pemulihan inflasi dan rekor perdagangan di Tiongkok, tantangan pertumbuhan di Jepang, hingga pergeseran ekspektasi dan tren konsumsi masyarakat di Indonesia.

Pada saat yang sama, ancaman krisis pasokan energi akibat perang di Timur Tengah telah mendorong harga minyak mentah melampaui level psikologis baru.

Hal ini memicu rentetan respons strategis, mulai dari langkah evakuasi diplomatik Amerika Serikat, agenda pertemuan tingkat tinggi AS-Tiongkok, hingga langkah preventif pemerintah Indonesia dalam menjaga stabilitas pasokan energi domestik.

Berikut adalah rincian sentimen, rilis data ekonomi, dan perkembangan berita utama yang menjadi fokus pasar hari ini:

Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia Mengalami Penyesuaian

Di dalam negeri, Bank Indonesia melaporkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun ke level 125,2 pada Februari 2026, dari level rekor 127,0 pada bulan Januari. Penurunan ini mencerminkan sikap kehati-hatian masyarakat terhadap kondisi ekonomi makro ke depan.

Indeks Ekspektasi Ekonomi tercatat turun 4,4 poin menjadi 134,4. Harapan masyarakat terhadap pendapatan selama enam bulan ke depan juga melemah sebesar 5,3 poin, diikuti oleh ekspektasi ketersediaan lapangan kerja yang turun 3,4 poin.

Kendati pandangan terhadap masa depan sedikit terkoreksi, penilaian masyarakat terhadap kondisi saat ini justru membaik, ditandai dengan kenaikan indeks tingkat pendapatan saat ini sebesar 1,4 poin menjadi 125,0.

Lonjakan Inflasi Konsumen Tiongkok Tertinggi Sejak 2023

Indeks Harga Konsumen (CPI) Tiongkok mencatatkan kenaikan yang signifikan pada Februari 2026, melompat ke angka 1,3% secara tahunan dari 0,2% pada bulan Januari.

Pencapaian ini jauh melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya memproyeksikan inflasi di level 0,8%, sekaligus menjadi tingkat inflasi tertinggi yang dicatatkan Tiongkok sejak Januari 2023.

Faktor pendorong utama dari lonjakan ini adalah momentum Tahun Baru Imlek yang jatuh pada pertengahan Februari. Harga pangan mencatat kenaikan paling tajam sejak Oktober 2024, berbalik arah menjadi naik 1,7% setelah mengalami penurunan 0,7% pada bulan sebelumnya.

Hal ini didorong oleh akselerasi harga sayuran segar dan meredanya tren penurunan harga daging babi. Inflasi non-pangan juga menguat ke 1,3%, didukung oleh tekanan harga dari sektor pakaian (1,9%), perawatan kesehatan (1,9%), dan pendidikan (2,0%). Inflasi inti naik 1,8% yoy, menandai laju terkuat sejak Maret 2019.

Deflasi Harga Produsen Tiongkok Mulai Mereda

Di tingkat produsen, Tiongkok mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Indeks Harga Produsen (PPI) turun 0,9% yoy pada Februari 2026. Angka ini membaik dibandingkan penurunan 1,4% pada bulan Januari dan melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan 1,1%. Ini merupakan laju kontraksi paling moderat sejak Juli 2024.

Perbaikan ini didukung oleh penguatan harga di sektor-sektor maju dan berkembang, serta kebijakan manajemen kapasitas di industri-industri utama. Harga bahan produksi turun lebih lambat, di mana deflasi untuk bahan mentah dan barang setengah jadi mulai mereda.

Sementara itu, harga barang olahan berhasil pulih dengan kenaikan 0,3%. Perdana Menteri Tiongkok, Li Qiang, menegaskan bahwa target Beijing untuk pemulihan harga yang terukur menjadi salah satu pertimbangan kunci dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Pertumbuhan Ekonomi Jepang Melambat, Konsumsi Masih Tertekan

Dari Jepang, pada hari ini akan ada rilis data Q4 final PDB Jepang. Data awal menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) hanya tumbuh 0,1% secara kuartalan pada kuartal keempat tahun 2025.

Angka ini membalikkan keadaan dari kontraksi 0,7% pada kuartal ketiga, namun gagal mencapai perkiraan pasar yang mengharapkan pertumbuhan sebesar 0,4%.

Meski investasi bisnis pulih, konsumsi swasta mencatatkan pertumbuhan terlambat dalam setahun terakhir, yakni hanya 0,1%. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan biaya hidup masih membebani daya beli masyarakat Jepang.

Kinerja perdagangan neto tidak memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan PDB, menyusul penurunan pada sisi ekspor (-0,3%) maupun impor (-0,3%). Pemerintah Tokyo saat ini tengah bersiap untuk meningkatkan investasi melalui belanja publik pasca-kemenangan pemilu baru-baru ini.

Rekor Surplus Neraca Perdagangan Tiongkok di Tengah Tekanan Tarif AS

Hari ini China akan mengumumkan data neraca perdaganganbulan Januari dan Februari 2026 dengan konsensus berada di level US$ 179,6 miliar.

Data dari Administrasi Umum Bea Cukai menunjukkan Tiongkok mencatatkan rekor surplus perdagangan sebesar US$ 1,189 triliun sepanjang tahun 2025, ditopang oleh kenaikan ekspor sebesar 5,5% sementara impor cenderung stagnan.

Pencapaian ini menyoroti resiliensi sektor manufaktur negara tersebut. Khusus pada bulan Desember 2025, surplus mencapai US$ 114,1 miliar, menandai ketujuh kalinya surplus bulanan melampaui level US$ 100 miliar pada tahun lalu.

Lonjakan kinerja ini terjadi di tengah langkah strategis eksportir Tiongkok untuk mengalihkan tujuan produksi dari pasar Amerika Serikat menuju destinasi alternatif, terutama Uni Eropa dan kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

Mitigasi ini merupakan respons langsung terhadap kebijakan tarif yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump. Ekspor pada bulan Desember tumbuh 6,6% yoy, mematahkan ekspektasi pasar di angka 3,0%, serta lebih tinggi dari November (5,9%).

Di sisi lain, laju impor Tiongkok juga menunjukkan perbaikan yang tak terduga dengan mencatatkan pertumbuhan 5,7% yoy pada Desember, jauh melampaui proyeksi 0,9% dan menjadi laju tercepat dalam enam bulan.

Sebagai dampak dari diversifikasi pasar tersebut, surplus perdagangan Tiongkok secara spesifik dengan Amerika Serikat menyusut menjadi US$ 23,25 miliar pada Desember, turun dari US$ 23,74 miliar pada bulan sebelumnya.

Penjualan Eceran Indonesia Tumbuh 3,5%, Konsumsi Domestik Resilien

Dari dalam negeri hari ini akan ada rilis data penjualan eceran Indonesia untuk Januari 2026. Berdasarkan data terakhir, Bank Indonesia mencatat pertumbuhan Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 3,5% secara tahunan (yoy) pada Desember 2025.

Angka ini menandai ekspansi pertumbuhan penjualan selama delapan bulan berturut-turut, didukung oleh serangkaian kebijakan pemerintah untuk menjaga daya beli domestik.

Meskipun demikian, laju ini melambat dibandingkan pertumbuhan bulan November yang mencapai 6,3%, menjadikannya pertumbuhan tahunan terendah sejak Agustus 2025.

Perlambatan secara tahunan terlihat pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau (naik 5,9% berbanding 8,5% di bulan sebelumnya), suku cadang otomotif (14,8% vs 17,7%), serta barang budaya dan rekreasi (5,2% vs 8,1%).

Beberapa sektor juga mencatatkan kontraksi, di mana penjualan bahan bakar turun 7,1%, peralatan rumah tangga turun 2,8%, pakaian turun 7,0%, dan penurunan paling tajam terjadi pada peralatan informasi dan komunikasi sebesar 30,0%.

Kendati melambat secara tahunan, kinerja penjualan ritel secara bulanan justru menunjukkan aktivitas yang solid. Penjualan ritel pada bulan Desember naik 3,1%, meningkat dari 1,5% pada bulan November.

Pencapaian ini merupakan laju pertumbuhan bulanan terkuat dalam sembilan bulan terakhir, mencerminkan resiliensi momentum konsumsi rumah tangga di penghujung tahun.

Proyeksi awal untuk Januari 2026 bahkan mengindikasikan potensi lonjakan IPR hingga 4,0% yoy.

Harga Minyak Melandai

Harga minyak turun pada perdagangan Senin (9/3/2026) setelah Presiden Donald Trump mengatakan ia sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih kendali Selat Hormuz, jalur sempit paling penting di dunia bagi perdagangan minyak mentah.

Harga minyak mentah AS (WTI) ditutup di posisi US$ 94,77 per barel atau naik 4,3% sementara harga minyak brent di posisi US$ 98,96 atau melonjak 6,8%.

Kendati melonjak, harga penutupan jauh lebih rendah dibandingkan intraday di mana WTI sempat menyentuh US$ 119 per barel.

Trump mengatakan kepada CBS News melalui percakapan telepon bahwa kapal-kapal sudah mulai kembali bergerak melewati Selat Hormuz. Presiden AS tersebut juga menyatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mengambil alihnya. Ia juga mengindikasikan bahwa perang kemungkinan akan segera berakhir.

Selain itu, Trump juga mempertimbangkan mengurangi sanksi minyak terhadap Rusia untuk membantu menurunkan harga minyak mentah.

Menurut Matt Smith, analis minyak di perusahaan konsultan energi Kpler, saat ini hanya segelintir kapal komersial yang masih bergerak melalui Selat Hormuz.

Sementara itu, patokan global Brent sebelumnya melonjak 6,76% dan ditutup di US$98,96 per barel, setelah sempat mencapai US$119,50 pada sesi perdagangan yang sama. Ini merupakan pertama kalinya harga minyak menembus US$100 per barel sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 2022.

Para menteri energi G7 dijadwalkan menggelar pertemuan virtual pada Selasa pagi untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak secara bersama-sama dari stok strategis mereka. Keputusan mengenai pelepasan cadangan kemungkinan akan diambil setelah pertemuan tersebut.

Sebelumnya, para menteri keuangan G7 juga telah mengadakan pertemuan virtual pada Senin untuk membahas perang Iran. Dalam pernyataan bersama, mereka menyatakan:

"Kami siap mengambil langkah yang diperlukan, termasuk untuk mendukung pasokan energi global seperti pelepasan cadangan minyak."

Negara anggota G7 meliputi Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.

Gangguan pasokan terbesar

Penutupan Selat Hormuz memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, menurut analisis perusahaan konsultan Rapidan Energy. Sekitar 20% konsumsi minyak dunia diekspor melalui jalur strategis tersebut.

Menurut Janiv Shah, Wakil Presiden pasar minyak di Rystad Energy, harga minyak Brent bisa melonjak hingga US$135 per barel jika situasi saat ini berlangsung selama empat bulan.

Ia juga memperkirakan harga Brent akan menembus US$110 per barel jika kondisi yang sama bertahan selama dua bulan.

Ekalasi Meluas, AS Evakuasi Pegawai dari Arab Saudi

Dampak dari serangan gabungan AS dan Israel ke Iran kini meluas ke negara-negara Teluk. Pemerintah Amerika Serikat secara resmi mengeluarkan perintah evakuasi bagi seluruh pegawai pemerintah non-darurat beserta keluarganya untuk segera meninggalkan Arab Saudi.

Kedutaan Besar AS di Riyadh menyoroti peningkatan risiko yang mematikan dari konflik bersenjata, terorisme, dan potensi serangan rudal serta drone, yang tidak hanya berasal dari Iran tetapi juga dari proksi Houthi di Yaman.

Keputusan evakuasi ini menandai level kewaspadaan tertinggi Washington di kawasan tersebut sejak perang dimulai, terlebih setelah insiden pendaratan proyektil di provinsi Al Kharj yang memakan korban jiwa.

Perang Memanas, Xi Jinping dan Donald Trump Bersiap Bertemu

Di tengah memanasnya suhu geopolitik global, secercah harapan diplomasi muncul dari rencana pertemuan tatap muka antara Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump.

Diplomat tertinggi Tiongkok, Wang Yi, mengonfirmasi bahwa agenda pertukaran tingkat tinggi ini sedang dalam tahap persiapan matang untuk meminimalisir hambatan.

Kunjungan Trump ke Tiongkok yang dijadwalkan pada akhir Maret hingga awal April ini menjadi sangat krusial. Wang Yi memperingatkan bahwa pemutusan komunikasi antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia ini hanya akan membawa salah kalkulasi yang menyeret dunia ke dalam krisis yang lebih dalam.

Pertemuan ini diharapkan mampu menyeimbangkan sentimen pasar melalui potensi kesepakatan pelonggaran tarif perdagangan, meskipun Beijing tetap mendesak adanya gencatan senjata segera di Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat mengadakan pertemuan bilateral di Bandara Internasional Gimhae, di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), di Busan, Korea Selatan, 30 Oktober 2025. REUTERS/Evelyn HocksteinFoto: REUTERS/Evelyn Hockstein
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat mengadakan pertemuan bilateral di Bandara Internasional Gimhae, di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), di Busan, Korea Selatan, 30 Oktober 2025. REUTERS/Evelyn Hockstein

Pemerintah Jamin Stok BBM Aman untuk Ramadan dan Idul Fitri

Transmisi kepanikan harga minyak global ke pasar domestik langsung diantisipasi oleh pemerintah Indonesia.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan jaminan penuh bahwa ketersediaan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional berada dalam kondisi yang sangat aman, setidaknya untuk mengamankan kebutuhan krusial sepanjang periode Ramadan hingga Lebaran Idul Fitri 2026.

Menteri Bahlil mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying di SPBU. Secara strategis, pemerintah juga memastikan bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga masa hari raya usai.

PT Pertamina Patra Niaga mengonfirmasi bahwa pasokan BBM nasional saat ini memiliki ketahanan stok operasional selama 21 hari, yang terus diisi ulang (top-up) secara berkala melalui produksi kilang domestik dan manajemen impor yang terukur.

Melengkapi pernyataan Menteri ESDM, pihak pemerintah melalui kementerian terkait menegaskan bahwa lonjakan harga minyak mentah dunia di level US$ 113 per barel tidak akan serta-merta direspons dengan kebijakan penaikan harga BBM domestik secara instan.

Purbaya Yudhi Sadewa menekankan bahwa evaluasi menyeluruh terhadap dampak harga minyak global baru akan dilakukan secara periodik, mengingat harga minyak sangat fluktuatif dan berpotensi kembali turun.

Pemerintah menggunakan asumsi rata-rata harga minyak selama satu tahun penuh dalam kalkulasi postur fiskalnya. Pengelolaan stok 20 hingga 21 hari juga dinilai sebagai titik ekuilibrium yang paling efisien bagi kas negara.

Sehingga menyimpan stok lebih lama dari itu justru akan membebani negara dengan biaya penyimpanan yang tidak perlu di tengah ketidakpastian saat ini.

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features