MARKET DATA
Newsletter

Harga Minyak Melunak Tapi Tekanan Global Masih Kuat, Semoga IHSG Kuat

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
10 March 2026 06:25
Bendera Amerika ditampilkan di layar di lantai Bursa Saham New York (NYSE) di Kota New York, AS, 22 September 2025.
Foto: Bendera Amerika ditampilkan di layar di lantai Bursa Saham New York (NYSE) di Kota New York, AS, 22 September 2025. (REUTERS/Jeenah Moon)

Dari pasar saham Amerika Serikat, bursa Wall Street akhirnya bangkit pada perdagangan Senin atau Selasa waktu Indonesia.

Indeks bangkit setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa perang melawan Iran kemungkinan mendekati akhir.

Indeks S&P naik 0,83% dan ditutup di 6.795,99, sementara Dow Jones Industrial Average menanjak 239,25 poin atau 0,5% menjadi 47.740,80. Indeks saham unggulan tersebut sebelumnya baru saja mencatat penurunan mingguan terbesar dalam hampir satu tahun.

Sementara itu, Nasdaq Composite melonjak 1,38% dan ditutup di 22.695,95.

Pergerakan ini menjadi pembalikan yang cukup tajam dari pelemahan yang terjadi sebelumnya pada hari yang sama. Pada titik terendah sesi, Dow sempat turun hampir 900 poin, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing sempat anjlok hingga sekitar 1,5%.

 

Pada hari Senin, Trump mengatakan kepada seorang reporter CBS News bahwa perang ini pada dasarnya sudah hampir selesai.

"Mereka tidak punya angkatan laut, tidak punya komunikasi, dan tidak memiliki angkatan udara," kata Trump dikutip dari CNBC International.

Dia menambahkan bahwa Amerika Serikat kini jauh lebih cepat"dari jadwal awal perang yang ia perkirakan berlangsung empat hingga lima minggu.

Trump juga mengatakan kapal-kapal kini kembali melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis, dan ia sedang mempertimbangkan untuk mengambil alihnya.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun hingga sekitar US$81 per barel setelah perkembangan tersebut. Sebelumnya, pada perdagangan semalam, WTI sempat menembus US$100 per barel bahkan mencapai lebih dari US$119, level tertinggi sejak 2022, saat pasar bereaksi terhadap dampak invasi Rusia ke Ukraina.

Sementara itu, patokan internasional Brent turun kembali hingga sekitar US$84 per barel pada titik terendah hari itu. Harga minyak AS sendiri memulai tahun ini di bawah US$60 per barel.

"Sepertinya situasi mulai bergerak ke arah yang lebih baik," kata John Luke Tyner, manajer portofolio sekaligus kepala fixed income di Aptus Capital Advisors.

Pasar saham secara keseluruhan juga didorong oleh kenaikan saham sektor semikonduktor. Broadcom melonjak lebih dari 4%, sementara Micron Technology dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing naik sekitar 5%. Nvidia juga menguat lebih dari 2%.

Harga minyak sebelumnya melonjak setelah produsen utama Timur Tengah memangkas produksi akibat penutupan Selat Hormuz. Kuwait mengumumkan pengurangan produksi namun tidak menyebutkan besarnya, sementara produksi Irak dilaporkan turun sekitar 70%.

Para menteri energi dari negara-negara G7-yaitu Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat-berencana menggelar pertemuan virtual pada Selasa pagi untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak. Para menteri keuangan G7 juga telah bertemu pada Senin untuk membahas langkah tersebut, meskipun belum ada keputusan yang diambil.

Level harga minyak US$100 per barel oleh banyak pelaku pasar di Wall Street dianggap sebagai titik kritis bagi perekonomian global, kecuali perang segera mereda dan harga kembali turun.

Trump pada Minggu malam menulis bahwa kenaikan "harga minyak jangka pendek" adalah "harga yang sangat kecil" untuk menghancurkan ancaman nuklir Iran.

Menanggapi lonjakan harga minyak terbaru, Tyner mengatakan lonjakan kecil ini tidak cukup besar atau cukup lama untuk benar-benar mengganggu pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan.

"Saya membayangkan selama tidak banyak infrastruktur yang rusak, harga minyak akan kembali normal di kisaran US$65 hingga US$75 per barel, yang merupakan titik keseimbangan yang cukup ideal bagi semua pihak," lanjutnya.

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features