MARKET DATA
Newsletter

Perang Iran Meluas, Inflasi RI Meroket: Mampukah IHSG Melawan Tekanan?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
03 March 2026 06:25
IRAN-CRISIS/SAUDI-ARAMCO-AFTERMATH
Foto: REUTERS/Stringer

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan berat pada hari ini. Ketidakpastian ekonomi global, memanasnya situasi di Timur Tengah serta data ekonomi dari dalam  negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini.

Inflasi Februari 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 melonjak. Kenaikan harga terutama dipicu oleh meningkatnya harga sejumlah bahan pangan menjelang dan selama Ramadan. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan bahwa inflasi bulanan Februari 2026 mencapai 0,68%, tertinggi sejak April 2025.

Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara tahunan tercatat sebesar 4,76% (yoy) atau tertinggi sejak Maret 2023 atau hampir dua tahun terakhir.



Data BPS menunjukkan mayoritas wilayah mengalami kenaikan harga. Sebanyak 33 provinsi mencatat inflasi, sedangkan lima provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Selatan sebesar 1,04%, sementara deflasi terdalam tercatat di Papua Barat sebesar 0,65%.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi sumber utama tekanan harga dengan inflasi sebesar 1,54%. Kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 0,45% terhadap inflasi bulanan secara keseluruhan.

Menurut BPS, beberapa komoditas pangan memberikan kontribusi dominan terhadap kenaikan harga. Daging ayam ras menyumbang inflasi sebesar 0,09%, diikuti cabai rawit sebesar 0,08%, ikan segar sebesar 0,05%, dan cabai merah sebesar 0,04%. Sementara itu, tomat, beras, serta telur ayam ras masing-masing memberi andil sekitar 0,02%.

Perkembangan inflasi tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan pelaku pasar. Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 institusi sebelumnya memperkirakan inflasi Februari 2026 berada di kisaran 0,3% secara bulanan.

Dalam proyeksi yang sama, inflasi tahunan diperkirakan mencapai 4,34%, sedangkan inflasi inti diprediksi berada di level 2,49%. Sebagai perbandingan, pada Januari 2026 terjadi deflasi sebesar 0,15% secara bulanan. Namun secara tahunan inflasi masih tercatat 3,55%, dengan inflasi inti sebesar 2,45%.

Neraca Dagang RI Surplus

Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia kembali mencatatkan hasil positif pada awal tahun. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Januari 2026 mengalami surplus sebesar US$ 960 juta. Capaian ini memperpanjang tren surplus yang telah berlangsung selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2021.

Nilai surplus terbentuk dari ekspor yang mencapai US$ 22,16 miliar, lebih tinggi dibandingkan impor sebesar US$ 21,20 miliar. Selisih tersebut menjaga posisi neraca perdagangan tetap berada di zona positif pada awal 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa surplus Januari terutama berasal dari sektor nonmigas yang mencatatkan kelebihan neraca sebesar US$ 3,22 miliar. Komoditas utama yang menopang surplus nonmigas antara lain lemak dan minyak hewan atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Di sisi lain, neraca perdagangan migas masih mencatatkan defisit sebesar US$ 2,27 miliar. Defisit ini berasal dari perdagangan minyak mentah, hasil minyak, dan gas yang nilai impornya masih lebih besar dibandingkan ekspor.

Menurut Ateng, kontribusi surplus perdagangan juga tercermin dari hubungan dagang dengan sejumlah negara mitra utama. Tiga negara yang menjadi penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat sebesar US$ 1,55 miliar, diikuti India sebesar US$ 1,07 miliar, serta Filipina sebesar US$ 0,69 miliar. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers BPS pada Senin (2/3/2026).

PMI Manufaktur - S&P Global

Lembaga pemeringkat global S&P Global melaporkan aktivitas manufaktur Indonesia pada Februari 2026 masih berada dalam fase ekspansi. Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur tercatat sebesar 53,8, menandakan kondisi sektor industri yang terus membaik.

Capaian tersebut meningkat dibandingkan posisi Januari yang berada di level 52,6. Dalam keterangan resminya pada Senin (2/3/2026), S&P Global menyebutkan kenaikan indeks menunjukkan perbaikan yang lebih kuat pada kesehatan sektor produksi barang di Indonesia.

PMI manufaktur menggunakan angka 50 sebagai batas pemisah antara ekspansi dan kontraksi. Posisi Februari yang jauh di atas ambang tersebut menunjukkan aktivitas industri yang terus berkembang. Peningkatan terutama didorong oleh percepatan permintaan terhadap produk manufaktur domestik. S&P mencatat ekspansi ini merupakan yang terbesar sejak Maret 2024.

Pertumbuhan permintaan baru berlangsung selama tujuh bulan berturut-turut dengan laju peningkatan paling kuat sejak November. Kenaikan penjualan mendorong perusahaan memperluas penyerapan tenaga kerja. Dalam tujuh bulan terakhir, perekrutan meningkat enam kali dan mencapai tingkat tertinggi sejak November. Penambahan tenaga kerja tersebut membantu perusahaan meningkatkan kapasitas produksi pada Februari.

Laporan tersebut juga menunjukkan aktivitas pembelian bahan baku meningkat selama tujuh bulan beruntun. Laju kenaikannya menjadi yang paling tajam dalam hampir dua tahun terakhir. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan produksi, sejumlah perusahaan menambah persediaan bahan baku sehingga stok inventaris ikut bertambah.

Konferensi Pers THR

Pemerintah menunda pengumuman kebijakan terkait Tunjangan Hari Raya (THR), Bantuan Hari Raya (BHR), serta perkembangan stimulus ekonomi Ramadan 2026.

Semula, kebijakan tersebut dijadwalkan diumumkan dalam konferensi pers pada Senin (2/3/2026)

Penundaan disampaikan melalui keterangan resmi Biro Komunikasi Layanan Informasi dan Persidangan. Dalam pemberitahuan tersebut disebutkan bahwa agenda konferensi pers yang telah dijadwalkan sebelumnya tidak jadi dilaksanakan sesuai rencana.

Konferensi pers ini akan menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebagai narasumber utama. Pemerintah dijadwalkan memaparkan kebijakan yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat menjelang Hari Raya sekaligus perkembangan program stimulus ekonomi selama Ramadan 2026.

Berdasarkan jadwal terbaru, konferensi pers akan diselenggarakan pada hari ini Selasa, (3/3/2026) mulai pukul 09.30 WIB hingga selesai. Acara tetap berlangsung di Selasar Loka Kretagama, Gedung Ali Wardhana Lantai 3, Jakarta Pusat, lokasi yang sama seperti rencana sebelumnya.

Dalam agenda tersebut, pemerintah akan menjelaskan kebijakan terbaru mengenai pencairan THR dan BHR. Selain itu, akan dipaparkan pula perkembangan realisasi stimulus ekonomi Ramadan tahun ini.

 Perang Iran vs Israel dan AS Meluas

Perang udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran meluas pada Senin tanpa tanda-tanda akan segera berakhir. Israel menyerang Lebanon sebagai respons atas serangan Hizbullah, sementara Teheran terus melancarkan serangan rudal dan drone ke negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Presiden AS Donald Trump mengatakan operasi tersebut dapat berlangsung selama beberapa minggu dan belum jelas siapa yang kini memimpin Iran, menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan terarah pada awal kampanye AS-Israel akhir pekan lalu.

Serangan terhadap Iran telah menyeret kawasan Teluk ke dalam perang, menewaskan puluhan orang di Iran, Israel, dan Lebanon, mengacaukan transportasi udara global, serta menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz-jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia di dekat pantai Iran-sehingga mendorong lonjakan harga minyak.

Menegaskan besarnya risiko konflik, Kuwait secara keliru menembak jatuh tiga jet tempur F-15E milik AS saat terjadi serangan Iran, menurut Komando Pusat AS. Seluruh enam awak berhasil melontarkan diri dan dievakuasi dengan selamat. Video yang diverifikasi Reuters menunjukkan salah satu pesawat berputar jatuh dengan mesin terbakar.

Militer AS menyatakan telah menyerang lebih dari 1.250 target di Iran dan menghancurkan 11 kapal Iran.

Bagi Trump, serangan akhir pekan terhadap musuh lama AS dan sekutunya tersebut merupakan pertaruhan kebijakan luar negeri terbesar dalam beberapa dekade.

Sejauh ini enam personel militer AS tewas, semuanya dalam serangan balasan Iran terhadap Kuwait pada akhir pekan. Jumlah itu termasuk dua korban yang sebelumnya dinyatakan hilang dan diumumkan pada Senin.

Kampanye militer ini berpotensi menjadi risiko politik besar bagi Partai Republik dalam pemilu sela (midterm) tahun ini, dengan hanya satu dari empat warga Amerika mendukung serangan tersebut, menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos akhir pekan.

Rata-rata harga bensin eceran di AS naik di atas US$3 per galon, sebagian akibat konflik ini-sebuah sinyal yang mengkhawatirkan bagi presiden yang sudah menghadapi ketidakpuasan publik atas isu-isu kebutuhan pokok.

Harga Minyak Melejit

Harga minyak brent terbang 7% ke US$ 77,9 per barel pada Senin sementara harga minyak WTI melonjak 6,3% ke US$ 71,23 per barel.

Harga minyak kemarin adalah yang tertinggi sejak Juni tahun lalu-di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran atas potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur sempit strategis yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak global.

Perusahaan pelayaran mulai mengalihkan rute kapal menjauhi perairan tersebut sebagai langkah pencegahan. Lonjakan harga terjadi setelah serangkaian serangan oleh AS dan Israel terhadap Iran, yang memicu serangan balasan Teheran ke sejumlah target di kawasan.

Saudi Aramco untuk sementara menghentikan operasi di kilang Ras Tanura-yang terbesar di kerajaan tersebut-guna menilai kerusakan setelah fasilitas itu menjadi sasaran serangan drone.

Sementara itu, OPEC+ pada Minggu sepakat meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April, mengakhiri jeda tiga bulan. Namun, kenaikan ini lebih rendah dari kisaran 411.000 hingga 548.000 barel per hari yang sebelumnya dipertimbangkan, sehingga pasar tetap waspada di tengah ketidakpastian geopolitik.

Lonjakan harga minyak bisa berdampak ganda ke Indonesia. Di satu sisi, kenaikan harga minyak bisa menambah pendapatan negara serta menguntungkan emiten minyak seperti PT ELnusa (ELSA) hingga PT  Medco Energi Internasional (MEDC).

Namun, kenaikan harga minyak juga akan membebani belanja subsidi, impor hingga menekan rupiah.

(emb/emb) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features