MARKET DATA

Sudah Krisis, Kini Dihajar Perang: Nasib Ekonomi Iran Kian Suram

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia
02 March 2026 16:20
Ribuan orang membawa poster bergambar mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, saat menggelar aksi unjuk rasa menentang serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran di Sanaa, Yaman, Minggu (1/3/2026). Aksi tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kawasan menyusul kabar pembunuhan pemimpin tertinggi Iran itu. (REUTERS/Khaled Abdullah)
Foto: (REUTERS/Khaled Abdullah)

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran tengah menghadapi tekanan luar biasa di dalam negeri setelah meningkatnya eskalasi konflik dan gejolak keamanan yang memicu ketegangan serius di seluruh negeri serta kawasan Timur Tengah. 

Situasi memburuk menyusul serangkaian serangan militer gabungan oleh Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan sejumlah tokoh kunci rezim Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah pimpinan militer dan intelijen tinggi negara itu dalam berbagai serangan udara yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi tersebut memicu respon keras dari berbagai faksi militer dan keamanan Iran, serta peningkatan aktivitas serta kesiagaan pihak berwenang di banyak kota besar. Hal ini juga meningkatkan kekhawatiran masyarakat Iran sendiri maupun komunitas internasional.

Dalam kondisi seperti ini, penting bagi kita untuk mengetahui seberapa kuat sebenarnya kondisi fundamental ekonomi Meksiko terakhir paling tidak hingga awal tahun 2026 ini. 

1. Pertumbuhan Ekonomi Iran

Produk Domestik Bruto Iran menunjukkan tren pemulihan dalam beberapa tahun terakhir meski mengalami fluktuasi tajam. Setelah terkontraksi dalam pada 2018-2020, ekonomi kembali tumbuh positif sejak 2021 dan sepanjang 2023 berada di kisaran 3-5% per kuartal. Pada 2024 pertumbuhan masih terjaga di atas 4% pada awal tahun, namun melambat hingga 1,59% pada kuartal IV, menandakan momentum ekspansi mulai melemah.

Secara struktur, ekonomi Iran tergolong cukup terdiversifikasi. Meski merupakan salah satu produsen minyak utama dunia, sektor minyak hanya menyumbang sekitar 23% terhadap PDB.

Kontributor terbesar berasal dari sektor jasa sekitar 50%, terutama real estate dan jasa profesional 14%, perdagangan, restoran dan hotel 12%, serta jasa publik 10%. Sementara itu, sektor manufaktur dan pertambangan menyumbang sekitar 20% dan pertanian sekitar 10%, menunjukkan bahwa basis ekonomi Iran tidak sepenuhnya bergantung pada minyak.

2. Inflasi Iran

Inflasi Iran periode 2021-2025 tergolong sangat tinggi dan fluktuatif. Pada 2021 berada di kisaran 34-49%, lalu kembali melonjak pada 2022 hingga sekitar 49%. Puncaknya terjadi pada April 2023 di 55,5%, sebelum turun ke kisaran 30-40% sepanjang 2024. Namun pada 2025 inflasi kembali naik dan mencapai 48,6% pada Oktober, menunjukkan tekanan harga masih kuat dan belum stabil.

Komponen terbesar dalam indeks harga konsumen (IHK) Iran adalah perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar lainnya dengan bobot 36,1%, diikuti makanan dan minuman sebesar 28,8%. Artinya, lebih dari separuh inflasi Iran sangat dipengaruhi oleh harga kebutuhan dasar masyarakat.

3. Suku Bunga Iran

Suku bunga Iran pada periode 2021-2022 tercatat stabil di level 18%. Memasuki Januari 2023, otoritas moneter menaikkan suku bunga menjadi 23%, dan level tersebut bertahan hingga Oktober 2025 tanpa perubahan.

Perlu dicatat, Bank Sentral Iran tidak menggunakan benchmark interest rate seperti banyak negara lain. Sebagai gantinya, otoritas menetapkan bank profit rate untuk aktivitas pinjaman dan simpanan. Kenaikan dari 18% ke 23% pada 2023 mencerminkan respons kebijakan terhadap tekanan inflasi.

4. Tingkat Pengangguran Iran

Di Iran, tingkat pengangguran mengukur jumlah penduduk yang aktif mencari pekerjaan sebagai persentase dari total angkatan kerja. Pada periode 2015-2018 tingkat pengangguran relatif tinggi dan stabil di kisaran 11-12%, bahkan sempat mencapai 12,7% pada 2016 Q3. Memasuki 2019-2020, angka pengangguran mulai menurun ke sekitar 9-10%.

Tren perbaikan berlanjut pada 2021-2023 dengan tingkat pengangguran turun bertahap hingga 7,6% pada 2023 Q4. Pada 2024, pengangguran kembali menurun dan mencapai 7,2% di Q4, menjadi level terendah dalam periode yang tercatat.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular