MARKET DATA

Ada Rapat Dadakan Voluntary Eight, Mungkinkah Harga Minyak Stabil?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
01 March 2026 17:15
Serangan rudal Iran menghantam wilayah Tel Aviv, Israel, pada Sabtu (28/2) waktu setempat. Total ada 20 orang terluka dan satu lainnya tewas. (REUTERS/Tomer Appelbaum)
Foto: (REUTERS/Tomer Appelbaum)

Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi konflik militer di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran beberapa hari ini telah mengubah ekuilibrium pasar energi global secara radikal.

Di tengah tingginya ketidakpastian pasokan, aliansi negara produsen minyak yang tergabung dalam "Voluntary Eight" (V8) dari OPEC+ menggelar pertemuan virtual pada hari ini, Minggu (1/3/2026), untuk menentukan arah kebijakan kuota produksi mereka.

Situasi geopolitik terkini telah memicu volatilitas ekstrem di pasar komoditas. Harga minyak mentah acuan global, Brent, melonjak signifikan lebih dari 3% hingga menembus level US$ 73 per barel pada penutupan perdagangan Jumat lalu.

Angka ini merupakan akselerasi tajam dibandingkan posisi awal tahun yang hanya berada di level USD 61 per barel. Namun, reli harga ini bukan murni akibat letusan konflik akhir pekan, melainkan akumulasi premi risiko geopolitik dan pengetatan pasokan yang telah berlangsung sejak awal kuartal pertama tahun ini.


Rentetan Disrupsi dan Ilusi Kapasitas Menganggur

Jauh sebelum eskalasi antara AS-Israel dan Iran pecah, pasar energi global telah menghadapi tekanan dari berbagai sisi. Menyoroti rentetan disrupsi seperti cuaca dingin ekstrim di AS pada bulan Januari, serangan drone yang mengganggu infrastruktur hulu Rusia, hingga pemadaman listrik yang melumpuhkan ladang minyak strategis Tengiz di Kazakhstan.

Kondisi fundamental tersebut awalnya memunculkan ekspektasi bahwa OPEC+ akan menaikkan kuota produksi sebesar 137.000 barel per hari (bpd) mulai April. Namun, realisasi penambahan pasokan di lapangan diproyeksikan jauh di bawah angka tersebut. Berdasarkan data Kpler, kenaikan kuota 137.000 bpd kemungkinan hanya akan menghasilkan tambahan pasokan riil sebesar 80.000 hingga 90.000 bpd.

Hal ini mengonfirmasi bahwa spare capacity global saat ini sangat terbatas dan mayoritas hanya terkonsentrasi di Arab Saudi. Di sisi lain, Rusia justru mencatatkan tren penurunan produksi struktural dalam dua bulan terakhir, membuat kemampuan respons cepat OPEC+ terhadap syok pasokan menjadi terbatas.

Risiko Sistemik: Titik Nadi Selat Hormuz

Dalam jangka pendek, respons pasar akan sangat bergantung pada seberapa jauh eskalasi konflik militer berlanjut. Jika serangan terbatas, harga masih akan tertahan di resistensi USD 80 per barel. Namun, risiko sistemik yang paling krusial adalah potensi blokade Selat Hormuz oleh Iran akibat tensi yang memanjang yang pada saat ini masih berupa ancaman.

Jalur maritim ini merupakan urat nadi distribusi energi dunia, di mana sekitar 20 juta barel minyak mentah-setara dengan 20% dari total suplai global-melintas setiap harinya. Jika selat ini ditutup, opsi mitigasi struktural yang tersedia nyaris tidak ada.

Data US Energy Information Administration (EIA) mencatat bahwa jaringan pipa bypass darat milik Arab Saudi dan Uni Emirat Arab hanya memiliki kapasitas maksimal 2,6 juta bpd. Angka ini sama sekali tidak mampu menutupi defisit belasan juta barel per hari, yang berisiko mendorong harga minyak menembus level USD 100 per barel.

Kalkulasi Strategis OPEC+ dan Ancaman Pesaing

Meski pasar berada di ambang krisis pasokan, OPEC+ diproyeksikan akan mengambil langkah yang sangat konservatif. Homayoun Falakshahi dari Kpler menilai, menggelontorkan pasokan besar-besaran saat ini dinilai prematur sebelum dampak riil dari serangan AS terhadap aliran logistik energi dapat terkuantifikasi dengan jelas.

Selain itu, level harga saat ini merupakan zona strategis bagi kartel tersebut. Harga di kisaran USD 70 per barel adalah titik ideal. Level ini cukup untuk menjaga kesehatan margin negara anggota V8, namun belum menyentuh ambang batas super-profit yang dapat memancing para pesaing utama seperti produsen shale oil AS, Kanada, Brasil, dan Guyana untuk menggenjot belanja modal ekstra.

Jika harga dibiarkan lepas kendali di atas USD 80-90 per barel, OPEC+ justru berisiko kehilangan pangsa pasarnya dalam jangka menengah akibat masuknya suplai besar dari negara-negara non-OPEC.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google



Most Popular