Ironis: Cadangan Minyak Venezuela Terbesar di Dunia, Produksi Mirip RI
Jakarta, CNBC Indonesia- Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat pada akhir pekan lalu langsung memantul ke lantai bursa. Fakta ini menegaskan jika Venezuela masih menjadi salah satu perhatian investor, terutama karena cadangan minyaknya.
Saham Chevron melonjak 5,1% dalam sehari, Halliburton dan Schlumberger naik dua digit, sementara harga minyak AS dan Brent sama-sama menguat.
Jika Washington kini punya kendali politik di Caracas, maka minyak Venezuela kembali masuk radar global. Seberapa besar sebenarnya "harta" yang selama ini terkunci di bawah tanah Venezuela?
Melansir laporan U.S. Energy Information Administration (EIA) dari sisi cadangan, posisi Venezuela justru menguat dalam tiga dekade terakhir.
Pada awal 1980-an, cadangan minyak mentah Venezuela setara 3-4% dari total dunia.
Angka itu naik bertahap hingga menembus 7% di akhir 1990-an, lalu melonjak ke 14% pada 2011-2012 dan mencapai 18% pada 2013-2021. Artinya, hampir seperlima minyak bumi yang terbukti di dunia secara statistik berada di Venezuela.
Gas alamnya lebih kecil, stabil di kisaran 2-3% cadangan global, tetapi tetap menempatkan negara itu di peta energi dunia.
Namun, kekayaan geologis itu tidak pernah berbanding lurus dengan output fisik. Data produksi dan konsumsi Venezuela periode 2011-2023 memperlihatkan garis yang menukik. Produksi minyak dan cairan lain sempat bertahan di sekitar 2,68 juta barel per hari hingga 2014. Setelah itu mesin mulai macet: 2,58 juta bph pada 2015, 2,33 juta pada 2016, lalu jatuh ke 2,07 juta pada 2017.
Runtuhnya paling brutal terjadi setelah 2018. Produksi anjlok dari 1,54 juta bph (2018) ke 928 ribu (2019), lalu hanya 553 ribu bph pada 2020. Pada 2023, meski ada pemulihan kecil, output baru mencapai 762 ribu bph atau sekitar seperempat dari level satu dekade sebelumnya.
Konsumsi domestik ikut menyusut, dari 726 ribu bph pada 2011 menjadi sekitar 372 ribu bph pada 2023. Penurunan ini bukan efisiensi energi, melainkan refleksi kolapsnya ekonomi dan pasokan. Ketika kilang dan jaringan distribusi tidak mendapat pasokan stabil, aktivitas industri dan transportasi menyusut, sehingga permintaan dalam negeri turun mengikuti ketersediaan, bukan kebutuhan riil.
Akar teknis dari kejatuhan itu terlihat jelas. Pada 2013, Venezuela masih mengoperasikan sekitar 60-80 rig. Produksi stabil di sekitar 2,5 juta bph. Memasuki 2016-2017, jumlah rig turun ke kisaran 50-70 unit, sementara produksi mulai melorot ke 2,1 juta bph. Titik balik terjadi pada 2018-2020.
Rig aktif runtuh dari sekitar 40 unit menjadi hanya belasan, lalu praktis nol pada beberapa bulan di 2020. Produksi ikut terjun bebas ke bawah 1 juta bph.
Sejak 2021 terlihat fase stabilisasi. Rig memang belum kembali ke puluhan, tetapi mulai muncul lagi satu sampai dua unit pada 2023. Produksi merayap naik dari 614 ribu bph (2021) ke 723 ribu (2022) dan 762 ribu bph (2023).
Ini menjelaskan mengapa OPEC dan bank investasi menyebut kisaran 750 ribu hingga 1 juta bph sebagai level produksi Venezuela saat ini. Secara global itu kurang dari 1% pasokan dunia, tetapi bagi pasar yang sensitif terhadap geopolitik, tambahan ratusan ribu barel tetap berarti.
Di sinilah kontradiksi struktural Venezuela berada.
Di atas kertas, negara ini memegang cadangan minyak terbesar dunia lebih dari 300 miliar barel. Di lapangan, ia memompa kurang dari satu juta barel per hari.
Fokusnya lebih ke arah jenis minyak dan biaya untuk mengangkatnya. Cadangan Venezuela didominasi heavy crude di Orinoco Belt, minyak kental dengan kandungan sulfur dan logam tinggi.
Ia bernilai karena cocok untuk diesel dan bahan bakar berat, tetapi mahal untuk diekstraksi dan harus diproses di kilang yang tepat. Tanpa investasi besar pada fasilitas produksi dan upgrading, cadangan raksasa itu tetap terkunci.
Itulah mengapa reaksi Wall Street pasca penangkapan Maduro bersifat spekulatif namun rasional. Chevron, ExxonMobil, dan ConocoPhillips dipandang sebagai calon pemain yang punya teknologi dan akses modal.
Chevron sudah ada di Venezuela, sementara yang lain mengincar pemulihan aset yang dulu disita. Jika sanksi longgar dan rezim berganti, rig bisa kembali berdiri, sumur bisa direhabilitasi, dan produksi bisa bergerak menuju 1,3-1,4 juta bph dalam dua tahun, seperti dihitung JPMorgan. Namun angka itu tetap kecil dibanding cadangan yang setara hampir seperlima dunia.
Dalam jangka panjang, cadangan raksasa itu hanya akan menjadi faktor harga global jika investasi ratusan miliar dolar benar-benar mengalir dan infrastruktur dibangun ulang dari titik nol.
Produksi minyak Venezuela yang berada di kisaran 700.000-800.000 bph, ironisnya, hampir setara dengan Indonesia.
Sebagai perbandingan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa produksi minyak Indonesia hingga November 2025 mencapai sekitar 606.000 barel per hari (bph).
Sementara itu, cadangan minyak dan kondensat Indonesia saat ini tercatat sebesar 4,4 miliar barel. Cadangan tersebut tersebar di berbagai wilayah.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)