MARKET DATA

Dolar AS Tiarap-Mata Uang Asia Perkasa, Begini Nasib Rupiah

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
28 February 2026 10:15
Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Dolar Asia, Melawai, Blok M, Jakarta, Selasa, (3/10). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Dolar Asia, Melawai, Blok M, Jakarta, Selasa, (3/10). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia berhasil mencatat penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam sebulan ini. Rupiah pun tetap bertahan di zona positif, meski apresiasinya relatif tipis dibandingkan sebagian besar mata uang Asia lainnya.

Melansir data Refinitiv, pada perdagangan terakhir Jumat (27/2/2026) yang sekaligus menjadi penutup perdagangan Februari, rupiah ditutup melemah 0,06% ke level Rp16.760/US$. Meski begitu, secara bulanan rupiah masih mencatat apresiasi 0,12% terhadap dolar Amerika Serikat AS.

Namun, penguatan tersebut belum cukup menempatkan mata uang Garuda sebagai salah satu yang paling perkasa di Asia. Pasalnya, sejumlah mata uang Asia lain mampu membukukan apresiasi yang lebih besar sepanjang bulan ini.

Peso Filipina tercatat menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia sepanjang bulan ini. Peso berhasil mengalami apresiasi hingga 2,04% ke level PHP57,642/US$.

Baht Thailand menyusul dengan kenaikan tajam 1,68% ke posisi THB31,00/US$. Sementara, mata uang negeri Tirai Bambu yakni yuan turut mengalami penguatan yang cukup besar, yakni 1,34% ke CNY6,8579/US$.

Kinerja positif juga ditunjukkan mata uang negara tetangga, yakni ringgit Malaysia yang naik 1,29% ke MYR3,888/US$.

Berikutnya, won Korea Selatan menguat 0,77% ke KRW1.439,2/US$, dolar Taiwan naik 0,73% ke TWD31,375/US$, dan dolar Singapura menguat 0,6% ke SGD1,2645/US$.

Rupee India pun masih mencatat apresiasi 0,68% ke INR91,046/US$.

Di sisi lain, tidak seluruh mata uang Asia bergerak di zona hijau. Yen Jepang justru menjadi mata uang yang paling tertekan setelah melemah 0,83% ke level JPY156,05/US$, sementara dong Vietnam turun 0,62% dan berakhir di posisi VND26.040/US$.

Pergerakan mata uang Asia sepanjang bulan ini terbilang cukup unik. Mayoritas mata uang di kawasan berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat AS, meski pada saat yang sama indeks dolar AS DXY juga ikut menguat. Bahkan, kenaikan DXY kali ini menjadi penguatan bulanan tertinggi sejak Oktober 2025.

Pada penutupan perdagangan terakhir Februari, indeks dolar AS berada di level 97,608 atau naik 0,64% secara bulanan. Penguatan dolar ini salah satunya didorong oleh data inflasi produsen AS yang lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Producer Price Index PPI final demand pada Januari tercatat naik 0,5% secara bulanan, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 0,3%. Data ini menunjukkan tekanan inflasi di AS belum sepenuhnya mereda, sehingga pelaku pasar masih berhati-hati dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Di satu sisi, inflasi yang masih tinggi membuat ruang pemangkasan suku bunga The Fed menjadi lebih sempit. Namun di sisi lain, pasar juga mulai mencermati pelemahan pasar tenaga kerja AS, sehingga masih memperkirakan pemangkasan suku bunga hingga 62 basis poin sampai akhir tahun.

Selain itu, dolar AS juga sempat mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik, terutama terkait hubungan AS dan Iran. Meski pembicaraan mengenai program nuklir Teheran menunjukkan kemajuan, belum adanya terobosan yang jelas membuat pasar tetap waspada terhadap risiko eskalasi konflik.

Kondisi tersebut ikut tercermin dari kenaikan harga minyak sekitar 2% pada akhir pekan lalu. Sementara itu, pergerakan pasar global secara umum masih cenderung terbatas karena investor terus menimbang ketidakpastian geopolitik dan perkembangan kebijakan tarif AS setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif darurat Presiden Donald Trump.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular