Rupiah Jadi Jawara Asia Pagi Ini, Baht & Won Korea Malah Terkapar!
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia kembali terbelah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Kamis (22/1/2026).
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, sebagian mata uang Asia mampu menguat melawan greenback, sementara sisanya masih berada di bawah tekanan.
Rupiah tampil sebagai yang paling kuat, menguat 0,24% ke level Rp16.890/US$, sekaligus melanjutkan tren positif setelah pada penutupan Rabu (21/1/2026) rupiah menguat 0,09%.
Selain rupiah, peso Filipina juga menguat 0,19% ke PHP 59,11/US$.
Mata uang negara tetangga, ringgit Malaysia (MYR) dan dolar Singapura (SGD), turut menguat masing-masing 0,05% dan 0,04%, dengan posisi terakhir MYR 4,04/US$ dan SGD 1,28/US$.
Yuan China (CNY) dan rupee India (INR) juga menguat tipis 0,03% ke level CNY 6,69/US$ dan INR 91,48/US$.
Di sisi lain, tekanan terlihat pada beberapa mata uang Asia.
Baht Thailand (THB) menjadi yang melemah paling besar, turun 0,29% ke level THB 31,29/US$. Won Korea menyusul dengan pelemahan 0,19% ke KRW 1.467,8/US$. Dong Vietnam (VND) dan dolar Taiwan (TWD) juga turun masing-masing 0,17% dan 0,13%, sementara yen Jepang (JPY) melemah 0,09% ke JPY 158,39/US$.
Pergerakan mata uang Asia di perdagangan pagi ini, seiring dengan kondisi dolar AS yang tengah bergerak stabil di level 98,785. Setelah di perdagangan kemarin, Rabu (22/1/2026) DXY berhasil mengalami rebound dengan menguat 0,12% dan dituttup di level 98,761.
Penguatan DXY pada perdagangan kemarin terjadi usai tekanan jual yang sebelumnya dipicu narasi Sell America, menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump terkait tarif terhadap Uni Eropa yang dikaitkan dengan isu Greenland.
Namun, sentimen pasar kini relatif lebih tenang setelah Trump menarik kembali ancaman tarif dan menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil Greenland.
Trump juga disebut telah mencapai kerangka awal untuk kesepakatan di masa depan dengan NATO, meski rincian kerangka tersebut masih belum jelas. Di saat yang sama, Denmark menegaskan tidak ada negosiasi terkait penyerahan wilayah kepada AS.
Meredanya tensi ini ikut mendorong kembali minat pada aset berisiko seperti saham, sementara permintaan aset lindung nilai seperti emas mulai mereda. Kondisi risk-on seperti ini umumnya memberi ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil.
Dari sisi domestik AS, pelaku pasar kini menanti rilis klaim pengangguran mingguan sebagai petunjuk terbaru kondisi pasar tenaga kerja. Sementara itu, Federal Reserve secara luas diperkirakan akan menahan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Meski begitu, pasar masih mengantisipasi pemangkasan suku bunga total sekitar 50 basis poin hingga akhir tahun ini.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)