Setelah Trump Bersabda, Mampukah IHSG & Rupiah Melanjutkan Pesta?
Memasuki perdagangan Kamis ini, pasar keuangan Indonesia berpotensi bergerak lebih sensitif karena dibayangi rangkaian sentimen khususnya dari Amerika Serikat.
Pelaku pasar tidak hanya mencerna arah kebijakan ekonomi yang kembali ditegaskan Presiden AS Donald Trump dalam pidato kenegaraan State of the Union, tetapi juga mencermati meningkatnya tensi geopolitik setelah Trump menyinggung kemungkinan langkah terhadap Iran, hingga ketidakpastian akan kebijakan tarif dagang baru.
Berikut ini adalah beberapa sentimen yang diperkirakan mampu menjadi pemicu gerakan pasar di perdagangan hari ini.
Poin Penting dari Pidato Kenegaraan Trump
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan State of the Union 2026 di hadapan Kongres AS pada Selasa malam waktu setempat atau Rabu pagi 25 Februari 2026 waktu Indonesia.
Dalam pidato hampir dua jam, Trump memamerkan capaian tahun pertama masa jabatan keduanya, mulai dari klaim perbatasan yang semakin ketat, penurunan inflasi, penguatan pasar saham, dorongan produksi energi, hingga arah kebijakan pajak dan tarif. Di saat yang sama, ia menegaskan narasi bahwa Amerika memasuki era keemasan menjelang peringatan 250 tahun kemerdekaan pada 4 Juli 2026.
Berikut adalah ringkasan 14 poin pidato Trump versi rangkuman CNBC Indonesia.
Pidato Trump Mengenai Iran
Sentimen selanjutnya masih datang dari pidato kenegaraan Trump di hadapan Kongres yang memaparkan alasan yang ia nilai dapat menjadi dasar opsi serangan terhadap Iran. Trump menegaskan pemerintahannya tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, sembari menyebut Teheran sebagai sponsor terbesar terorisme di dunia.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya pengerahan kekuatan militer AS di Timur Tengah. Namun, Trump dinilai belum banyak menjelaskan secara rinci kepada publik Amerika mengenai alasan dan batasan langkah yang dapat diambil, meski situasinya berpotensi mengarah pada eskalasi terbesar terhadap Iran sejak Revolusi 1979.
Dalam pidatonya, Trump menyoroti dukungan Iran terhadap kelompok militan, penanganan demonstrasi di dalam negeri, serta program rudal dan nuklir sebagai ancaman bagi stabilitas kawasan dan kepentingan AS.
Ia juga menuding Iran kembali menghidupkan program nuklirnya dan mengembangkan rudal yang suatu saat mampu menjangkau wilayah Amerika, sejalan dengan klaim media pemerintah Iran terkait pengembangan rudal berjangkauan hingga Amerika Utara.
Di sisi lain, ketegangan ini terjadi ketika upaya perundingan nuklir belum menghasilkan komitmen yang dianggap tegas oleh Trump. Trump menyatakan frustrasi karena belum mendengar pernyataan Iran yang benar benar memastikan tidak akan memiliki senjata nuklir, sementara Iran menegaskan riset nuklirnya ditujukan untuk kebutuhan energi sipil.
Trump juga menyinggung isu korban dalam demonstrasi anti pemerintah di Iran, tetapi angka yang ia sebutkan jauh lebih tinggi dibanding perkiraan yang umum beredar. Menanggapi hal tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei membantah klaim terkait program nuklir, rudal, serta jumlah korban, dan menyebutnya sebagai pengulangan kebohongan besar.
Sinyal Tarif AS Naik 15% dan Pengecekan Ulang Tarif ke Indonesia
Sentimen berikutnya datang dari kebijakan dagang Amerika Serikat yang memberi sinyal tarif ekspor ke AS baru yang saat ini dipatok 10% tidak akan berhenti di angka itu. Perwakilan Dagang Amerika Serikat atau USTR, Jamieson Greer, mengatakan tarif untuk sejumlah negara akan naik menjadi 15% atau lebih tinggi, meski ia belum menyebutkan negara mana saja yang akan terdampak.
Greer menyampaikan pernyataan itu saat wawancara dengan media AS pada Rabu kemarin.
Greer juga menegaskan pemerintah AS tidak berniat menaikkan tarif terhadap barang China di atas level saat ini, seiring rencana Presiden Donald Trump berkunjung ke China dalam beberapa pekan ke depan.
Yang perlu dicermati bagi Indonesia, Greer menyebut kebijakan tarif baru akan ditopang oleh penyelidikan praktik dagang tidak adil melalui Section 301. Ia mengatakan mekanisme ini juga dapat dipakai sebagai alat penegakan kesepakatan dagang yang sudah diteken, termasuk kesepakatan AS dengan Indonesia.
Perjanjian tersebut sudah lebih dulu diteken pada Kamis (19/2/2026) di Washington DC, dan ditandatangani langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto serta Presiden AS Donald Trump.
Foto: Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump resmi menandatangani tarif perdagangan resiprokal kedua negara. Salah satu isinya ialah mengenakan tarif dagang 0% untuk sejumlah produk, Kamis (19/2/2026). (Dok. Media Sosial Sekretariat Kabinet)Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump resmi menandatangani tarif perdagangan resiprokal kedua negara. Salah satu isinya ialah mengenakan tarif dagang 0% untuk sejumlah produk, Kamis (19/2/2026). (Dok. Media Sosial Sekretariat Kabinet) |
USTR disebut akan membuka penyelidikan terkait praktik dagang Indonesia, khususnya mengenai isu kapasitas industri dan subsidi sektor perikanan, sebelum menentukan tarif yang akan diterapkan ke depan.
Bagi pasar keuangan Tanah Air, arah lanjutan kebijakan tarif ini berpotensi mempengaruhi sentimen pasar di hari ini. Jika ketidakpastian akan tarif makin besar maka volatilitas dapat meningkat dan menekan aset berisiko.
Jelang Rilis Klaim Awal Pengangguran AS
Pelaku pasar pada perdagangan Kamis ini juga menantikan rilis data tenaga kerja Amerika Serikat, yakni klaim awal pengangguran atau initial jobless claims.
Data mingguan ini dijadwalkan keluar pada Kamis ini pukul 08.30 waktu setempat atau sekitar 20.30 WIB, dan kerap menjadi petunjuk cepat untuk membaca kondisi pasar tenaga kerja AS.
Sebagai catatan, pada rilis sebelumnya klaim awal pengangguran AS turun 23.000 dibanding pekan sebelumnya menjadi 206.000 pada pekan kedua Februari, jauh di bawah perkiraan pasar 225.000. Angka tersebut menandakan pasar tenaga kerja masih relatif stabil, meski laju perekrutan dinilai belum terlalu kuat.
Sementara itu, klaim berlanjut atau continuing claims yang kerap dibaca sebagai proksi jumlah pengangguran yang masih menerima tunjangan, naik tipis 17.000 menjadi 1.869.000 pada pekan pertama Februari. Artinya, sebagian pekerja yang terkena PHK masih membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali mendapat pekerjaan.
Bagi pasar keuangan, rilis ini bisa mempengaruhi arah dolar AS, imbal hasil obligasi AS, serta selera risiko global.
Jika klaim kembali turun dan pasar tenaga kerja dinilai tetap kuat, ekspektasi suku bunga cenderung bertahan lebih tinggi lebih lama. Sebaliknya, bila klaim melonjak, pasar bisa membaca adanya pelemahan ekonomi yang mendorong mode lebih hati hati.
Kinerja Keuangan BRI
PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengumumkan kinerja tahun penuh 2025 pada hari ini. Laporan ini sangat ditunggu karena bank plat merah ini biasanya menjadi bank dengan pengumpulan laba terbesar di Indonesia.
Kinerja BRI juga akan mencerminkan seberapa kencang laju UMKM Indonesia karena sebagian besar kredit ditopang sektor tersebut.
BRI mencetak laba bersih tahun berjalan secara konsolidasian senilai Rp57,13 triliun sepanjang 2025. Angka ini turun dibandingkan pada 2024 yang tercatat Rp60,15 triliun.
Bank raksasa lain juga sudah melaporkan kinerja keuangannya.
Bank Mandiri mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp56,3 triliun sepanjang tahun 2025, tumbuh sekitar 0,93%-1% secara tahunan (yoy). Bank Negara Indonesia laporkan laba bersih Rp 20,04 triliun di 2025, turun 6,63% dari tahun sebelumnya.
BTN melaporkan pembukuan pertumbuhan laba bersih konsolidasian sepanjang 2025 sebesar dua digit, yakni 16,4 (YoY) mencapaiRp3,5 triliunpada tahun 2025. Laba bersih BTN dipicu oleh pendapatan bunga yang naik 23,0% yoy menjadi Rp36,3 triliun hingga akhir 2025.
Sementara itu, Bank Central Asia mencetak laba Rp57,5 triliun sepanjang 2025, tumbuh 4,9% secara tahunan.
(evw/evw) Addsource on Google
Foto: Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump resmi menandatangani tarif perdagangan resiprokal kedua negara. Salah satu isinya ialah mengenakan tarif dagang 0% untuk sejumlah produk, Kamis (19/2/2026). (Dok. Media Sosial Sekretariat Kabinet)