MARKET DATA

BBNI Diramal Tebar Dividen Jumbo, Ini Hitungannya!

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
23 February 2026 14:35
Dok BNI
Foto: Dok BNI

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) masih menjadi perhatian di kalangan pelaku pasar, khususnya bagi investor yang berfokus pada instrumen pendapatan dividen (dividend investing) perbankan Indonesia.

Dengan posisi harga saham saat ini yang berada di level Rp 4.480 per lembar, rasio imbal hasil dividen (dividend yield) BBNI diproyeksikan berada pada tingkat yang cukup moderat dan menarik secara valuasi.

Berdasarkan data historis dan proyeksi terbaru, BBNI diperkirakan akan membagikan dividen sebesar Rp 352,78 per lembar saham pada periode Maret atau April tahun 2026 mendatang.

Dengan asumsi harga saham hari ini di Rp 4.480, angka proyeksi tersebut mengimplikasikan estimasi dividend yield sebesar 7,88% menggunakan asumsi DPR 65% sama seperti pembagian dividen pada tahun 2025 silam.

Konsistensi Pembayaran Pasca-Pandemi

Jika menilik rekam jejak perusahaan, BBNI memiliki riwayat pembagian dividen yang panjang, tercatat secara konsisten membagikan sebagian laba bersihnya sejak dekade 1990-an.

Data menunjukkan bahwa bank pelat merah ini mampu menjaga stabilitas distribusi kas kepada pemegang saham, meskipun harus melewati berbagai fase siklus ekonomi.

Fase pemulihan pasca-pandemi menjadi salah satu titik yang patut dicatat. Pada tahun 2021, imbal hasil dividen BBNI sempat menyentuh level terendahnya dalam beberapa tahun terakhir, yakni di 0,76% dengan nominal Rp 44,02 per saham. Namun, manajemen berhasil mencatatkan turnaround yang signifikan pada tahun-tahun berikutnya.

Lonjakan pembagian dividen terlihat jelas mulai tahun 2023, di mana BBNI membagikan dividen sebesar Rp 392,78 per saham. Tren nominal dividen di atas Rp 200 berlanjut pada tahun 2024 (Rp 280,5 per saham), dan memuncak pada tahun 2025 dengan nominal Rp 374,06 per saham yang mencatatkan tingkat yield tertinggi dalam dua dekade terakhir, yaitu sebesar 8,22%.

Valuasi dan Prospek

Proyeksi dividen tahun 2026 sebesar Rp 352,78 per saham menunjukkan sedikit normalisasi dibandingkan realisasi tahun 2025. Kendati demikian, yield di kisaran 7,88% untuk sebuah bank kategori KBMI 4 masih tergolong cukup tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata historis yield BBNI pada periode 2010 hingga 2020 yang mayoritas berada di rentang 1,5% hingga 3%.

Tingkat imbal hasil ini dapat menjadi bantalan (cushion) bagi investor di tengah volatilitas pasar ekuitas domestik. Keputusan alokasi portofolio tentu tetap perlu mempertimbangkan indikator makroekonomi, pertumbuhan kredit perbankan secara industri, serta kualitas aset perusahaan di kuartal-kuartal mendatang.

Secara keseluruhan, proyeksi dividen ini mengkonfirmasi posisi BBNI sebagai salah satu emiten perbankan dengan kebijakan dividen yang semakin progresif dalam tiga tahun terakhir.

Namun perlu diingat bahwa kenaikan dividen payout ratio masih bisa terjadi mengingat target Danantara untuk mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 380 Triliun pada tahun ini. Sehingga potensi peningkatan pembagian hasil dividen dari operasional perusahaan-perusahaan BUMN ini berpotensi menjadi lebih tinggi.

Hasil dividen juga berpotensi mendapatkan efek ganda mengingat proyeksi perbankan domestik maupun global yang menyatakan bahwa DXY berkemungkinan melemah pada tahun ini sehingga terdapat penguatan pada nilai tukar Rupiah.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google



Most Popular