Selain Dirut BEI, Ini 10 Bos Bursa Saham Dunia yang Mundur
Jakarta, CNBC Indonesia - Jabatan Direktur Utama atau Chief Executive Officer (CEO) di sebuah bursa efek merupakan posisi strategis yang menuntut integritas dan akuntabilitas tingkat tinggi. Sebagai Self-Regulatory Organization (SRO), pimpinan bursa memegang tanggung jawab besar dalam menjaga kepercayaan investor pasar modal.
Pasar keuangan Indonesia hari ini dikejutkan dengan berita mundurnya Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman.
Iman menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya. Keputusan tersebut disampaikan langsung dalam pernyataan terbuka kepada awak media pagi hari ini, Jumat (30/1/2026) menyusul kondisi pasar modal yang bergejolak dalam dua hari terakhir.
Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa pengunduran diri tersebut merupakan bentuk tanggung jawab pribadi atas dinamika yang terjadi di pasar. Meski perdagangan pagi ini menunjukkan perbaikan, ia menilai langkah mundur adalah keputusan terbaik demi menjaga kepercayaan dan stabilitas pasar modal nasional.
"Sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, saya menyatakan mengundurkan diri dari jabatan ini. Saya berharap ini adalah yang terbaik bagi pasar modal Indonesia, dan semoga ke depan pasar kita bisa menjadi lebih baik," ujarnya.
Iman adalah Direktur BEI pertama yang mundur dari jabatannya ketika masih aktif. Namun, mundurnya petinggi bursa saham global bukan hal yang langka.
Sejarah pasar modal global mencatat, pengunduran diri seorang pimpinan bursa sebelum masa jabatannya berakhir bukanlah hal yang mustahil. Langkah ini umumnya diambil sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kegagalan sistem vital, skandal etika, hingga persoalan hukum yang mencederai reputasi institusi.
Berikut adalah rangkuman mengenai 10 pimpinan bursa efek dunia yang meletakkan jabatannya di tengah jalan akibat berbagai tekanan dan permasalahan:
1. Koichiro Miyahara (Tokyo Stock Exchange, Jepang)
Presiden Bursa Efek Tokyo (TSE), Koichiro Miyahara, mengundurkan diri pada November 2020. Keputusan ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral setelah TSE mengalami gangguan sistem hardware failure yang menyebabkan perdagangan saham di Jepang terhenti total selama satu hari penuh. Insiden ini dinilai sebagai kegagalan teknis terburuk dalam sejarah pasar modal Jepang.
2. Le Hai Tra (Ho Chi Minh City Stock Exchange, Vietnam)
Pimpinan bursa saham utama Vietnam (HOSE), Le Hai Tra, diberhentikan dari jabatannya dan dikeluarkan dari Partai Komunis Vietnam pada Mei 2022. Tak lama berselang, ia ditangkap oleh pihak berwenang atas tuduhan penyalahgunaan wewenang dan pembiaran terhadap praktik manipulasi pasar yang melibatkan Grup FLC, yang menyebabkan kerugian besar bagi investor ritel.
3. Edward Tilly (Cboe Global Markets, Amerika Serikat)
CEO Cboe Global Markets, Edward Tilly, mengundurkan diri secara mendadak pada September 2023. Penyelidikan internal dewan direksi menemukan bahwa Tilly gagal mengungkapkan hubungan asmara pribadi dengan seorang rekan kerja. Tindakan tersebut dinilai melanggar kode etik perusahaan dan konflik kepentingan, meskipun tidak berdampak langsung pada kinerja keuangan bursa.
4. Carsten Kengeter (Deutsche Börse, Jerman)
CEO Bursa Efek Jerman, Carsten Kengeter, mundur dari jabatannya pada Oktober 2017. Pengunduran diri ini terjadi di tengah penyelidikan intensif oleh kejaksaan Jerman terkait dugaan perdagangan orang dalam (insider trading). Kengeter diduga membeli saham perusahaan sesaat sebelum rencana merger raksasa dengan London Stock Exchange diumumkan ke publik.
5. Chitra Ramkrishna (National Stock Exchange, India)
Managing Director NSE India, Chitra Ramkrishna, mengundurkan diri pada Desember 2016 dengan alasan pribadi. Namun, investigasi regulator (SEBI) kemudian mengungkap adanya pelanggaran tata kelola perusahaan yang serius. Chitra terbukti membagikan data rahasia bursa dan informasi operasional sensitif kepada pihak eksternal yang ia sebut sebagai "guru spiritual" di Himalaya. Ia kemudian menghadapi proses hukum atas kasus tersebut.
6. Elmer Funke Kupper (Australian Securities Exchange, Australia)
CEO ASX, Elmer Funke Kupper, mengundurkan diri pada Maret 2016. Keputusan ini diambil setelah Kepolisian Federal Australia memulai penyelidikan terkait dugaan suap senilai US$ 200.000 kepada pejabat asing di Kamboja. Kasus dugaan suap tersebut terjadi saat ia memimpin perusahaan perjudian Tabcorp, sebelum ia menjabat di bursa efek.
7. Richard Grasso (New York Stock Exchange, Amerika Serikat)
Chairman dan CEO NYSE, Richard Grasso, mundur di tengah tekanan publik yang hebat pada September 2003. Kontroversi dipicu oleh paket kompensasi (gaji dan pesangon) senilai US$ 187,5 juta yang diterimanya. Besaran angka tersebut dinilai tidak wajar dan menimbulkan kemarahan investor serta regulator, mengingat status NYSE saat itu yang memegang fungsi pengawasan pasar.
8. Xavier Rolet (London Stock Exchange, Inggris)
CEO LSE Group, Xavier Rolet, meninggalkan posisinya pada November 2017. Meskipun di bawah kepemimpinannya nilai pasar LSE meningkat pesat, Rolet terpaksa mundur akibat perselisihan internal (power struggle) dengan Dewan Komisaris dan pemegang saham utama. Ketidakharmonisan di level manajemen puncak dinilai dapat mengganggu stabilitas bursa.
9. Magnus Böcker (Singapore Exchange, Singapura)
CEO SGX, Magnus Böcker, memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak dan meninggalkan bursa pada Juni 2015. Kepergiannya didahului oleh kritik tajam dari publik dan teguran keras dari bank sentral Singapura (MAS) akibat serangkaian gangguan teknis dan pemadaman sistem perdagangan yang terjadi berulang kali selama masa jabatannya.
10. Hakan Atilla (Borsa Istanbul, Turki)
CEO Bursa Efek Istanbul, Hakan Atilla, mengundurkan diri pada Maret 2021. Atilla sebelumnya pernah menjalani hukuman penjara di Amerika Serikat terkait kasus pelanggaran sanksi ekonomi terhadap Iran saat ia bekerja di perbankan. Keberadaannya sebagai pimpinan bursa dinilai memberikan sentimen negatif dan membuat investor asing ragu untuk menanamkan modal di pasar saham Turki.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)