Jejak Pelarian Modal Asing dari RI: 3 Periode Kelam, Mana Terparah?
Jakarta, CNCB Indonesia - Tekanan jual investor asing kembali membebani pasar modal Indonesia. Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada perdagangan Rabu (28/1/2026) investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp6,17 triliun di pasar saham.
Aksi jual tersebut terjadi saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 7,35% ke level 8.320,56.
Pelemahan tajam ini dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar setelah MSCI menyoroti transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Atas perkembangan ini, MSCI membuka peluang reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market.
Sepanjang setahun terakhir, tercatat ada tiga momen outflow harian asing dengan nominal yang cukup besar.
Pertama, outflow asing pada 16 April 2025, ketika investor asing mencatat penjualan bersih hingga Rp8,21 triliun.
Pada periode tersebut, tekanan terjadi di tengah sentimen global yang cenderung "risk-off" dan pelemahan bursa di kawasan Asia Pasific.
Dari sisi dalam negeri, pasar juga mencermati kebijakan sektor komoditas, termasuk penyesuaian skema royalti minerba yang menambah kehati-hatian terhadap prospek emiten berbasis sumber daya.
Kedua, outflow asing kemarin, Rabu (28/1/2026) yang tercatat sebagai pelemahan terbesar selanjutnya yang mencapai Rp6,17 triliun.
Ketiga, IHSG juga sempat tertekan pada 9 September 2025 saat asing mencatat outflow Rp4,54 triliun.
Kala itu, investor bereaksi keras terhadap kabar perombakan kabinet (reshuffle) yang mencakup pencopotan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Langkah tersebut memicu kekhawatiran soal disiplin fiskal dan arah kebijakan anggaran, sehingga selera risiko (risk appetite) menurun dan aksi jual meningkat.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)