MARKET DATA
Newsletter

Huru-Hara MSCI Mereda, Muncul Drama dari Amerika: IHSG - Rupiah Aman?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
30 January 2026 06:19
Infografis, Pergerakan Grafik Rupiah Sepekan
Foto: Infografis/ Pergerakan Rupiah Sepekan/ Edward Ricardo Sianturi
  • Pasar keuangan Tanah Air kompak ditutup melemah. IHSG-Rupiah terkoreksi, Obligasi dijual investor.
  • Wall Street tumbang di tengah kekhawatiran shutdown dan saham Microsoft
  • Pelaku pasar menanti kelanjutan langkah otoritas terkait MSCI serta rilis data ekonomi Amerika Serikat diperkirakan menjadi penggerak pasar hari ini. 

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air kompak ditutup melemah pada perdagangan Kamis (29/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah sama-sama terkoreksi, sementara obligasi kembali dijual investor.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu bergerak positif pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (30/1/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup turun 88,35 poin atau melemah 1,06% ke level 8.223,20. Koreksi ini jauh lebih kecil dibanding pergerakan intraday, karena IHSG sempat mengalami tekanan yang cukup dalam hingga memicu trading halt. Bahkan setelah perdagangan dibuka kembali, tekanan sempat berlanjut dan IHSG sempat ambles hingga 10%.

Sebanyak 521 saham turun,214 naik, dan73 tidak bergerak. Nilai transaksi kemarin tergolong jumbo atau mencapai Rp68,18 triliun, melibatkan 99,11 miliar saham dalam 4,93 juta kali transaksi.

Kapitalisasi pasar pun tergerus menjadi Rp14.923 triliun. Investor asing juga masih mencatatkan aksi jual dengan nilai yang besar Rp4,63 triliun di seluruh pasar.


Sejalan dengan itu, hampir seluruh sektor masih bergerak di zona pelemahan. Hanya sektor transportasi dan logistik yang berhasil menguat 0,76%, sementara pelemahan dipimpin oleh sektor konsumer siklikal yang ambles 4,88%.

Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham blue chip menjadi pendorong IHSG dalam memangkas pelemahan.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik 5,29% dan menyumbang 29,87 indeks poin, sedangkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 2,49% atau menyumbang 16,58 indeks poin.

Penguatan juga terlihat pada PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang menyumbang 13,88 indeks poin, serta PT Astra International Tbk (ASII) naik 4,86% dengan kontribusi 12,29 indeks poin.

Sementara itu, dari sisi pemberat indeks, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi laggard utama setelah turun 4,67% dan menyumbang 16,28 indeks poin. Tekanan juga datang dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan kontribusi pelemahan 11,42 indeks poin, serta PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) sebesar 11,29 indeks poin.

Beralih ke pasar valuta asing, nilai tukar rupiah gagal melanjutkan momentum penguatannya dengan ditutup melemah dari dolar Amerika Serikat (AS).

Melansir data Refinitiv,rupiah ditutup terdepresiasi 0,27% ke level Rp16.745/US$. Pelemahan ini sekaligus mematahkan tren penguatan rupiah yang sebelumnya berlangsung enam hari perdagangan beruntun.

Sejak pembukaan pagi, rupiah sudah langsung bergerak di zona merah. Rupiah dibuka melemah 0,24% di posisi Rp16.740/US$, lalu tertekan hingga sempat menyentuh Rp16.800/US$ sebelum kembali memangkas pelemahan menjelang penutupan.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada saat penutupan rupiah, justru terpantau melemah 0,26% ke level 96,192. Meski demikian, tekanan pada rupiah masih terasa setelah pada sesi sebelumnya DXY sempat menguat 0,24% ke level 96,446, menyusul keputusan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang menahan suku bunga acuan.

Pelemahan rupiah kemarin dinilai masih berkaitan dengan respon pasar atas sikap The Fed yang mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%. Keputusan tersebut diumumkan usai rapat Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari, Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (30/1/2026), di tengah sorotan terhadap isu independensi bank sentral AS.

Dalam keterangannya, The Fed mengatakan keputusan menahan suku bunga dilakukan karena tiga faktor utama. Di antaranyadampak pemangkasan sebelumnya masih perlu waktu untuk dievaluasi, inflasi yang relatif tinggi, serta pasar tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan tanda stabil dan solid.

Sikap The Fed yang cenderung akan menahan suku bunga lebih lama, membuat sebagian pelaku pasar kembali melirik aset berdenominasi dolar karena imbal hasil dinilai masih menarik.

Alhasil, tekanan jual kembali muncul pada sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Tekanan serupa juga terlihat pada beberapa mata uang, seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, hingga dolar Singapura yang ikut melemah terhadap greenback.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat kembali mengalami kenaikan sebesar 0,11% ke level 6,374% pada perdagangan kemarin, dari 6,367% pada hari sebelumnya. Imbal hasil yang naik menandai harga SBN sedang turun karena dijual investor.


Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, beragam pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Indeks S&P 500 turun terbebani oleh Microsoft karena pelaku pasar bereaksi terhadap laporan kinerja keuangan terbaru perusahaan teknologi raksasa tersebut serta keputusan suku bunga The Fed.

Indeks S&P melemah 0,13% dan ditutup di 6.969,01, sementara Nasdaq Composite turun 0,72% ke level 23.685,12. Dow Jones Industrial Average justru naik 0,11% atau 55,96 poin dan berakhir di 49.071,56.

Di pasar kripto, bitcoin merosot lebih dari 5% dan menyentuh level terendahnya dalam hampir dua bulan.

Microsoft menekan indeks acuan setelah sahamnya anjlok sekitar 10%, mencatatkan hari terburuk sejak Maret 2020. Penurunan ini terjadi setelah anggota "Magnificent Seven" tersebut melaporkan bahwa pertumbuhan bisnis komputasi awan melambat pada kuartal fiskal kedua.

Perusahaan juga memberikan panduan (guidance) margin operasional yang lemah untuk kuartal fiskal ketiga.

Jatuhnya saham-saham perangkat lunak turut memperbesar tekanan, di tengah meningkatnya kekhawatiran investor bahwa kecerdasan buatan (AI) akan mengganggu model bisnis Microsoft.

Saham ServiceNow terkoreksi sekitar 10%, meski mencatatkan laba dan pendapatan kuartal keempat yang melampaui ekspektasi. Saham Oracle dan Salesforce masing-masing turun 2% dan 6%.

ETF iShares Expanded Tech-Software Sector (IGV) yang melacak kinerja sektor perangkat lunak masuk ke wilayah bear market pada Kamis

Penurunan sekitar 5% dalam sehari membuatnya berada hampir 22% di bawah level tertingginya baru-baru ini. Pergerakan tersebut juga menempatkan dana ini di jalur penurunan harian terbesar sejak April lalu.

"AI kini seperti pedang bermata dua. Ia berkontribusi pada pertumbuhan dan belanja, sekaligus menjadi alasan mengapa valuasi berada di level saat ini," ujar Rob Williams, kepala strategi investasi di Sage Advisory, kepada CNBC.

"Namun sekarang muncul lebih banyak pertanyaan, sehingga semakin sulit bagi AI untuk terus-menerus menghadirkan kabar positif." Imbuhnya.

Dengan hasil Microsoft yang mengecewakan, tekanan kini beralih ke Apple untuk menunjukkan kinerja kuat dalam laporan keuangannya yang dijadwalkan dirilis setelah penutupan pasar pada Kamis.

Williams menilai, karena semakin sulit bagi saham teknologi berkapitalisasi besar untuk mendorong sentimen positif kecuali mencatatkan angka yang benar-benar "melampaui ekspektasi", maka diversifikasi akan menjadi kunci bagi investor ke depan.

"Laba menjadi jalur utama untuk memperoleh imbal hasil yang baik di pasar saham tahun ini, karena ruang kontribusi dari kelipatan valuasi sangat terbatas," katanya kepada CNBC.

Di sisi positif, saham Meta Platforms melonjak lebih dari 10% setelah induk Facebook tersebut memberikan proyeksi penjualan kuartal pertama yang lebih kuat dari perkiraan.

Sementara itu, saham Caterpillar naik lebih dari 3% setelah raksasa industri tersebut melaporkan kinerja kuartal keempat yang jauh melampaui ekspektasi pasar.

Sementara di Washington, Senat pada Kamis gagal meloloskan pemungutan suara prosedural terkait paket pendanaan pemerintah, meningkatkan kemungkinan bahwa sebagian besar pemerintahan federal akan ditutup (government shutdown) pekan ini.

Penutupan akan berlaku mulai Sabtu pukul 12:01 dini hari waktu AS Timur, jika para legislator tidak berhasil melanjutkan undang-undang pendanaan.

Memasuki perdagangan hari terakhir pada pekan ini, Jumat (30/1/2026), pergerakan pasar keuangan Tanah Air masih akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Berikut rangkuman sejumlah sentimen utama yang perlu dipantau pelaku pasar pada perdagangan hari ini.

IHSG Cetak Rekor Nilai Transaksi Terbesar

Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup melemah pada perdagangan Kamis (29/1/2026), terdapat satu catatan penting yang mencuri perhatian pelaku pasar, yakni lonjakan nilai transaksi harian yang sangat jumbo.

Nilai transaksi bursa kemarin mencapai Rp68,18 triliun, menjadikannya nilai transaksi harian terbesar sepanjang sejarah perdagangan Bursa Efek Indonesia, dengan catatan tidak memasukkan transaksi negosiasi.

Sebagai perbandingan, rekor transaksi bursa sebelumnya terjadi pada 19 September 2025 dengan nilai Rp69,48 triliun. Namun, pada saat itu sekitar Rp32,4 triliun berasal dari transaksi negosiasi saham DSSA, sehingga nilai transaksi reguler jauh lebih kecil dibandingkan perdagangan Kamis kemarin.

Adapun, struktur transaksi pada perdagangan Kamis (29/1/2026) didominasi oleh pasar reguler sebesar Rp64,3 triliun, disusul pasar negosiasi Rp3,60 triliun, serta pasar tunai sebesar Rp43,4 juta. Sisanya berasal dari perdagangan waran dan structured warrant.

Dari sisi emiten, BBCA menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar, mencapai Rp10,54 triliun. Posisi berikutnya ditempati BUMI dengan nilai transaksi Rp6,3 triliun, atau sekitar 9,38% dari total nilai transaksi IHSG.

Selanjutnya, transaksi besar juga tercatat pada BMRI sebesar Rp4,07 triliun, ANTM Rp3,5 triliun, serta BBRI Rp3,11 triliun, yang berkontribusi sekitar 4,59% terhadap total nilai transaksi harian.

OJK Gaspol Benahi Data Free Float Demi MSCI

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar bersama Self Regulatory Organizations akan memastikan penyesuaian yang diperlukan dilakukan agar metodologi dan data free float Indonesia dapat memenuhi kebutuhan penilaian indeks global, termasuk MSCI.

Langkah awal dilakukan dengan menindaklanjuti penyesuaian data free float yang telah dipublikasikan Bursa Efek Indonesia dan Kustodian Sentral Efek Indonesia, antara lain dengan mengecualikan investor dalam kategori korporasi dan others dalam perhitungan free float, serta memublikasikan porsi kepemilikan saham di atas dan di bawah 5% untuk setiap kategori investor.

Selain itu, OJK juga berkomitmen memenuhi permintaan tambahan MSCI terkait penyediaan informasi kepemilikan saham di bawah 5% yang disertai kategori investor dan struktur kepemilikannya. Penyempurnaan ini akan mengacu pada best practice internasional agar transparansi dan keterbandingan data Indonesia semakin sejajar dengan pasar global.

Ke depan, SRO juga akan menerbitkan aturan free float minimum 15% dalam waktu dekat dengan prinsip transparansi yang kuat, disertai pengawasan yang terukur dan akuntabel.

Sebagai catatan, OJK menegaskan emiten yang tidak mampu memenuhi ketentuan free float dalam jangka waktu yang ditetapkan berisiko dikenakan exit policy, yakni delisting.

Neraca Dagang AS

Defisit neraca dagang Amerika Serikat kembali melebar tajam pada November. Defisit perdagangan barang dan jasa naik US$27,6 miliar atau 94,6% secara bulanan menjadi US$56,8 miliar, berdasarkan laporan Bureau of Economic Analysis yang dirilis tadi malam, Kamis (29/1/2026). Secara year to date, defisit tercatat meningkat 4,1% atau US$32,9 miliar.

Dari sisi komponen, ekspor tercatat turun 3,6% atau US$10,9 miliar menjadi US$292,1 miliar. Sebaliknya, impor justru naik 5,0% atau US$16,8 miliar menjadi US$348,9 miliar.

Dalam sebelas bulan pertama tahun ini, ekspor masih tumbuh 6,3% atau US$185,7 miliar, sementara impor meningkat 5,8% atau US$218,6 miliar.

Pelebaran defisit yang cukup besar ini berpotensi membuka volatilitas baru di pasar keuangan. Jika penguatan impor dibaca sebagai sinyal permintaan domestik AS yang masih solid, ekspektasi kebijakan moneter ketat bisa bertahan lebih lama, yang bisa mendukung penguatan dolar AS dan menjaga imbal hasil obligasi tetap tinggi.

Ancaman Shutdown AS

Pemerintah Amerika Serikat (AS) berada di ambang penutupan sebagian (partial government shutdown) mulai Sabtu dini hari waktu setempat. Ini menyusul kebuntuan politik di Senat terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri (Department of Homeland Security atau DHS).
Ancaman shutdown muncul setelah Senator Partai Demokrat menolak mendukung paket anggaran yang telah disahkan DPR AS. Penolakan itu dipicu oleh kasus tewasnya Alex Pretti, seorang perawat perawatan intensif berusia 37 tahun, yang diduga dibunuh oleh agen federal di Minneapolis.

RUU tersebut merupakan bagian dari paket belanja pemerintah senilai lebih dari US$1,2 triliun, atau sekitar Rp19.800 triliun. Mencakup pendanaan sebagian besar lembaga pemerintah federal hingga tahun fiskal berakhir pada 30 September

Agar dapat lolos di Senat, RUU itu membutuhkan sedikitnya 60 suara untuk menghindari filibuster. Namun, Partai Republik hanya menguasai 53 kursi, sehingga membutuhkan dukungan Demokrat/ Namun hingga kini suara tersebut belum didapatkan.

Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, menegaskan pihaknya tidak akan menyetujui pendanaan DHS, khususnya lembaga Imigrasi dan Bea Cukai (Immigration and Customs Enforcement/ICE), tanpa reformasi yang jelas.

Senat menolak pemungutan suara awal untuk melanjutkan pembahasan paket belanja yang mencakup pendanaan bagi Departemen Keamanan Dalam Negeri (Department of Homeland Security/DHS).

Namun, para anggota parlemen dan Gedung Putih menyatakan bahwa mereka masih melakukan perundingan terkait kemungkinan kompromi untuk menghindari penutupan sebagian pemerintahan (partial government shutdown) sebelum batas waktu pendanaan pada Jumat.

Pada Kamis kemarin, Senat melakukan pemungutan suara uji coba dengan hasil 44-55 untuk melanjutkan seluruh rancangan undang-undang belanja yang tersisa bagi sisa tahun fiskal 2026. Sebanyak tujuh senator Partai Republik bergabung dengan Demokrat dalam memberikan suara menentang cloture (penghentian debat untuk melanjutkan pemungutan suara).

Perundingan saat ini difokuskan pada pengesahan resolusi berkelanjutan jangka pendek (continuing resolution) bagi DHS, yang memungkinkan para legislator bernegosiasi mengenai pagar pengaman tambahan bagi lembaga tersebut, serta mendorong pembahasan lima RUU belanja lainnya yang mendanai sebagian besar pemerintahan federal. Jika kesepakatan tercapai, penutupan sebagian pemerintahan tetap akan terjadi selama akhir pekan.

DPR (House of Representatives) sebelumnya telah meloloskan seluruh enam RUU pendanaan, dan akan perlu menyetujui setiap perubahan yang dibuat oleh Senat untuk mencabut penutupan sebagian tersebut. DPR dijadwalkan kembali bersidang pada Senin, 2 Februari.

Tingkat Pengangguran Jepang

Pelaku pasar akan menanti rilis data tingkat pengangguran Jepang yang dijadwalkan keluar hari ini, Jumat (30/1/2026). Data ini dirilis melalui Labour Force Survey dan mencakup angka Desember 2025, sekaligus ringkasan rata-rata Oktober-Desember serta rata-rata tahunan 2025.

Rilis tersebut menjadi perhatian karena Jepang dikenal memiliki pasar tenaga kerja yang relatif ketat. Pada rilis sebelumnya, tingkat pengangguran (seasonally adjusted) Jepang tercatat 2,6% pada November 2025, tidak berubah dibanding bulan sebelumnya, di tengah kondisi kekurangan tenaga kerja yang masih terasa di sejumlah sektor.

Bagi pelaku pasar, data pengangguran ini penting untuk membaca arah ekonomi dan kebijakan ke depan. Jika angka pengangguran naik, pasar bisa menilai pasar kerja mulai melonggar sehingga ruang pengetatan atau normalisasi kebijakan moneter berpotensi lebih terbatas. Sebaliknya, bila tetap rendah, narasi bahwa pasar tenaga kerja masih ketat dapat kembali menguat-dan biasanya ikut memengaruhi pergerakan yen.

Dengan kata lain, ini bukan sekadar rilis rutin. Data pengangguran Jepang hari ini berpotensi menjadi tambahan petunjuk bagi pasar dalam membentuk ekspektasi terhadap kondisi ekonomi Jepang, sekaligus arah pergerakan mata uang, terutama yen.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Konferensi pers  Conference Launching XL Ultra 5G+, Ultraverse Festival
  • Bincang-bincang media bersama Direktur Utama BEI 
  • CNBC Indonesia menggelar Gold Outlook
  • Indeks Harga Produsen AS Des 2025
  • Tingkat Pengangguran Jepang

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

- Rencana RUPS: FAST & SDRA

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

CNBCINDONESIA RESEARCH

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandanganCNBCIndonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.



Most Popular
Features