Huru-Hara MSCI Mereda, Muncul Drama dari Amerika: IHSG - Rupiah Aman?
Memasuki perdagangan hari terakhir pada pekan ini, Jumat (30/1/2026), pergerakan pasar keuangan Tanah Air masih akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Berikut rangkuman sejumlah sentimen utama yang perlu dipantau pelaku pasar pada perdagangan hari ini.
IHSG Cetak Rekor Nilai Transaksi Terbesar
Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup melemah pada perdagangan Kamis (29/1/2026), terdapat satu catatan penting yang mencuri perhatian pelaku pasar, yakni lonjakan nilai transaksi harian yang sangat jumbo.
Nilai transaksi bursa kemarin mencapai Rp68,18 triliun, menjadikannya nilai transaksi harian terbesar sepanjang sejarah perdagangan Bursa Efek Indonesia, dengan catatan tidak memasukkan transaksi negosiasi.
Sebagai perbandingan, rekor transaksi bursa sebelumnya terjadi pada 19 September 2025 dengan nilai Rp69,48 triliun. Namun, pada saat itu sekitar Rp32,4 triliun berasal dari transaksi negosiasi saham DSSA, sehingga nilai transaksi reguler jauh lebih kecil dibandingkan perdagangan Kamis kemarin.
Adapun, struktur transaksi pada perdagangan Kamis (29/1/2026) didominasi oleh pasar reguler sebesar Rp64,3 triliun, disusul pasar negosiasi Rp3,60 triliun, serta pasar tunai sebesar Rp43,4 juta. Sisanya berasal dari perdagangan waran dan structured warrant.
Dari sisi emiten, BBCA menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar, mencapai Rp10,54 triliun. Posisi berikutnya ditempati BUMI dengan nilai transaksi Rp6,3 triliun, atau sekitar 9,38% dari total nilai transaksi IHSG.
Selanjutnya, transaksi besar juga tercatat pada BMRI sebesar Rp4,07 triliun, ANTM Rp3,5 triliun, serta BBRI Rp3,11 triliun, yang berkontribusi sekitar 4,59% terhadap total nilai transaksi harian.
OJK Gaspol Benahi Data Free Float Demi MSCI
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar bersama Self Regulatory Organizations akan memastikan penyesuaian yang diperlukan dilakukan agar metodologi dan data free float Indonesia dapat memenuhi kebutuhan penilaian indeks global, termasuk MSCI.
Langkah awal dilakukan dengan menindaklanjuti penyesuaian data free float yang telah dipublikasikan Bursa Efek Indonesia dan Kustodian Sentral Efek Indonesia, antara lain dengan mengecualikan investor dalam kategori korporasi dan others dalam perhitungan free float, serta memublikasikan porsi kepemilikan saham di atas dan di bawah 5% untuk setiap kategori investor.
Selain itu, OJK juga berkomitmen memenuhi permintaan tambahan MSCI terkait penyediaan informasi kepemilikan saham di bawah 5% yang disertai kategori investor dan struktur kepemilikannya. Penyempurnaan ini akan mengacu pada best practice internasional agar transparansi dan keterbandingan data Indonesia semakin sejajar dengan pasar global.
Ke depan, SRO juga akan menerbitkan aturan free float minimum 15% dalam waktu dekat dengan prinsip transparansi yang kuat, disertai pengawasan yang terukur dan akuntabel.
Sebagai catatan, OJK menegaskan emiten yang tidak mampu memenuhi ketentuan free float dalam jangka waktu yang ditetapkan berisiko dikenakan exit policy, yakni delisting.
Neraca Dagang AS
Defisit neraca dagang Amerika Serikat kembali melebar tajam pada November. Defisit perdagangan barang dan jasa naik US$27,6 miliar atau 94,6% secara bulanan menjadi US$56,8 miliar, berdasarkan laporan Bureau of Economic Analysis yang dirilis tadi malam, Kamis (29/1/2026). Secara year to date, defisit tercatat meningkat 4,1% atau US$32,9 miliar.
Dari sisi komponen, ekspor tercatat turun 3,6% atau US$10,9 miliar menjadi US$292,1 miliar. Sebaliknya, impor justru naik 5,0% atau US$16,8 miliar menjadi US$348,9 miliar.
Dalam sebelas bulan pertama tahun ini, ekspor masih tumbuh 6,3% atau US$185,7 miliar, sementara impor meningkat 5,8% atau US$218,6 miliar.
Pelebaran defisit yang cukup besar ini berpotensi membuka volatilitas baru di pasar keuangan. Jika penguatan impor dibaca sebagai sinyal permintaan domestik AS yang masih solid, ekspektasi kebijakan moneter ketat bisa bertahan lebih lama, yang bisa mendukung penguatan dolar AS dan menjaga imbal hasil obligasi tetap tinggi.
Ancaman Shutdown AS
Pemerintah Amerika Serikat (AS) berada di ambang penutupan sebagian (partial government shutdown) mulai Sabtu dini hari waktu setempat. Ini menyusul kebuntuan politik di Senat terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri (Department of Homeland Security atau DHS).
Ancaman shutdown muncul setelah Senator Partai Demokrat menolak mendukung paket anggaran yang telah disahkan DPR AS. Penolakan itu dipicu oleh kasus tewasnya Alex Pretti, seorang perawat perawatan intensif berusia 37 tahun, yang diduga dibunuh oleh agen federal di Minneapolis.
RUU tersebut merupakan bagian dari paket belanja pemerintah senilai lebih dari US$1,2 triliun, atau sekitar Rp19.800 triliun. Mencakup pendanaan sebagian besar lembaga pemerintah federal hingga tahun fiskal berakhir pada 30 September
Agar dapat lolos di Senat, RUU itu membutuhkan sedikitnya 60 suara untuk menghindari filibuster. Namun, Partai Republik hanya menguasai 53 kursi, sehingga membutuhkan dukungan Demokrat/ Namun hingga kini suara tersebut belum didapatkan.
Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, menegaskan pihaknya tidak akan menyetujui pendanaan DHS, khususnya lembaga Imigrasi dan Bea Cukai (Immigration and Customs Enforcement/ICE), tanpa reformasi yang jelas.
Senat menolak pemungutan suara awal untuk melanjutkan pembahasan paket belanja yang mencakup pendanaan bagi Departemen Keamanan Dalam Negeri (Department of Homeland Security/DHS).
Namun, para anggota parlemen dan Gedung Putih menyatakan bahwa mereka masih melakukan perundingan terkait kemungkinan kompromi untuk menghindari penutupan sebagian pemerintahan (partial government shutdown) sebelum batas waktu pendanaan pada Jumat.
Pada Kamis kemarin, Senat melakukan pemungutan suara uji coba dengan hasil 44-55 untuk melanjutkan seluruh rancangan undang-undang belanja yang tersisa bagi sisa tahun fiskal 2026. Sebanyak tujuh senator Partai Republik bergabung dengan Demokrat dalam memberikan suara menentang cloture (penghentian debat untuk melanjutkan pemungutan suara).
Perundingan saat ini difokuskan pada pengesahan resolusi berkelanjutan jangka pendek (continuing resolution) bagi DHS, yang memungkinkan para legislator bernegosiasi mengenai pagar pengaman tambahan bagi lembaga tersebut, serta mendorong pembahasan lima RUU belanja lainnya yang mendanai sebagian besar pemerintahan federal. Jika kesepakatan tercapai, penutupan sebagian pemerintahan tetap akan terjadi selama akhir pekan.
DPR (House of Representatives) sebelumnya telah meloloskan seluruh enam RUU pendanaan, dan akan perlu menyetujui setiap perubahan yang dibuat oleh Senat untuk mencabut penutupan sebagian tersebut. DPR dijadwalkan kembali bersidang pada Senin, 2 Februari.
Tingkat Pengangguran Jepang
Pelaku pasar akan menanti rilis data tingkat pengangguran Jepang yang dijadwalkan keluar hari ini, Jumat (30/1/2026). Data ini dirilis melalui Labour Force Survey dan mencakup angka Desember 2025, sekaligus ringkasan rata-rata Oktober-Desember serta rata-rata tahunan 2025.
Rilis tersebut menjadi perhatian karena Jepang dikenal memiliki pasar tenaga kerja yang relatif ketat. Pada rilis sebelumnya, tingkat pengangguran (seasonally adjusted) Jepang tercatat 2,6% pada November 2025, tidak berubah dibanding bulan sebelumnya, di tengah kondisi kekurangan tenaga kerja yang masih terasa di sejumlah sektor.
Bagi pelaku pasar, data pengangguran ini penting untuk membaca arah ekonomi dan kebijakan ke depan. Jika angka pengangguran naik, pasar bisa menilai pasar kerja mulai melonggar sehingga ruang pengetatan atau normalisasi kebijakan moneter berpotensi lebih terbatas. Sebaliknya, bila tetap rendah, narasi bahwa pasar tenaga kerja masih ketat dapat kembali menguat-dan biasanya ikut memengaruhi pergerakan yen.
Dengan kata lain, ini bukan sekadar rilis rutin. Data pengangguran Jepang hari ini berpotensi menjadi tambahan petunjuk bagi pasar dalam membentuk ekspektasi terhadap kondisi ekonomi Jepang, sekaligus arah pergerakan mata uang, terutama yen.
(evw/evw)