Harga Emas Terbang ke Langit, Sahamnya Malah Hancur Lebur
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena anomali yang cukup membingungkan mewarnai perdagangan pasar modal hari ini. Di tengah lonjakan harga emas global yang menyentuh level tertingginya, saham-saham emiten produsen emas di Bursa Efek Indonesia justru mengalami tekanan jual yang masif.
Bukannya menjadi aset lindung nilai atau safe haven, saham sektor pertambangan emas malah ikut terseret arus pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi dalam.
Data perdagangan menunjukkan adanya divergensi ekstrem antara pergerakan harga komoditas acuan dengan harga saham emitennya.
Pada perdagangan hari ini Kamis (29/1/2026) hingga pukul 06.50 WIB, harga emas dunia di pasar spot menguat 1,99% di posisi US$5.506,86 per troy ons. Penguatan ini menjadikan level tertinggi sepanjang masa dan untuk pertama kalinya harga emas tembus level krusial US$5.500 per troy ons. Harga emas bahkan sempat menyentuh US$ 5.591 per troy ons pada hari ini.
Sementara pada perdagangan sebelumnya Rabu (28/1/2026), harga emas dunia naik 4,05% di level US$5.399,29 per troy ons. Kenaikan ini menjadi penguatan emas selama delapan hari beruntun.
Kenaikan ini seharusnya menjadi sentimen positif yang kuat bagi emiten terkait. Namun, realitas di lantai bursa berkata lain, di mana IHSG justru terperosok ke level 7.600, menyeret turun saham-saham unggulan di sektor emas seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Sentimen Pasar Abaikan Fundamental
Kejatuhan harga saham emas di tengah reli harga komoditas ini mengindikasikan bahwa faktor psikologis ketakutan di pasar sedang memegang kendali penuh. Dalam kondisi pasar yang diselimuti kepanikan atau market crash, korelasi antar aset cenderung meningkat.
Situasi ini terjadi karena kekhawatiran mengenai status pasar modal Indonesia. Isu pembekuan bobot indeks dan ancaman penurunan klasifikasi oleh MSCI ke Frontier Market dan penurunan weighting pasar saham Indonesia ke underweight telah memicu sentimen negatif yang kuat di perspektif investor asing.
Aksi rebalancing atau penyesuaian portofolio oleh institusi global membuat saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk di sektor tambang emas, dilepas secara agresif tanpa mempedulikan harga komoditas acuan yang sedang mengilap.
Krisis Likuiditas Picu Aksi Jual Paksa
Selain faktor sentimen global, tekanan jual pada saham emas juga dipicu oleh kebutuhan likuiditas mendesak di pasar domestik. Kejatuhan tajam pada saham-saham di sektor lain memaksa banyak investor, baik ritel maupun institusi, untuk melakukan penjualan aset yang masih likuid guna menutup kewajiban margin atau margin call.
Saham-saham emas yang memiliki likuiditas tinggi menjadi sasaran empuk untuk dijual demi mendapatkan dana tunai dengan cepat. Fenomena ini menegaskan bahwa dalam jangka pendek, pergerakan harga saham bisa sangat terlepas dari fundamental bisnisnya akibat dominasi arus uang dan psikologi massa.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)