RI Sering "Dijewer" Asing: MSCI Kini Goldman Sachs, Apa Masalahnya?
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan kembali menghantam pasar modal Indonesia setelah lembaga keuangan global membuka potensi penurunan klasifikasi hingga penurunan peringkat (rating) saham Indonesia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat kembali mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada pagi ini, Kamis (29/1/2026) setelah Indeks turun 8% ke level 7.654,66.Â
Penurunan ini melanjutkan koreksi IHSG sejak perdagangan sebelumnya, di mana IHSG ditutup koreksi 7,35% di level 8.320,56 atau turun 659,67 poin.
Bahkan di perdagangan kemarin, IHSG juga sempat ambruk lebih dari 8% sehingga otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan trading halt.
MSCI Ancam Turunkan Indonesia ke Frontier Market
Sebagaimana diketahui, MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
MSCI menjelaskan bahwa sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data tambahan. Namun, banyak investor menyampaikan kekhawatiran signifikan atas kategorisasi pemegang saham KSEI yang dinilai belum cukup andal untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi.
Dalam kebijakan sementara tersebut, MSCI membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham atau Number of Shares (NOS) hasil peninjauan indeks maupun aksi korporasi.
Selain itu, MSCI tidak akan menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) serta menahan migrasi naik antar segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard sampai di review pada Mei 2026 mendatang.
Atas kejadian ini, MSCI membuka peluang reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market.
Goldman Sachs Turunkan Rating Saham Indonesia
Menanggapi rilis MSCI tersebut, lembaga keuangan global lainnya yakni Goldman Sachs menurunkan peringkat (rating) saham Indonesia menjadi underweight.
Dalam laporan terbarunya, bank investasi asal Amerika Serikat itu memperkirakan aksi jual pasif (passive selling) oleh investor global masih akan berlanjut, seiring keputusan MSCI yang menilai pasar saham Indonesia menghadapi persoalan struktural, khususnya terkait kepemilikan saham dan free float.
"Kami memperkirakan akan ada lanjutan passive selling dan menilai perkembangan ini akan menjadi overhang yang menahan kinerja pasar," tulis analis Goldman Sachs, sembari memangkas outlook Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi underweight, dikutip dari Business Times, Kamis (29/1/2026).
Ini Bukan Yang Pertama
Tekanan pasar akibat sentimen dari lembaga global bukanlah hal baru bagi Indonesia.
Pada 11 Maret 2025, IHSG juga sempat tertekan setelah sejumlah institusi investasi global kompak menurunkan pandangan terhadap aset Indonesia.
Saat itu, Goldman Sachs memangkas peringkat saham Indonesia dari overweight menjadi market weight dan menurunkan rekomendasi surat utang BUMN tenor 10-20 tahun menjadi netral, seiring meningkatnya kekhawatiran risiko fiskal.
Goldman kala itu turut menaikkan proyeksi defisit anggaran Indonesia dari 2,5% menjadi 2,9% terhadap PDB, mendekati batas 3% yang ditetapkan undang-undang.
Dalam laporannya, Goldman juga menilai pasar keuangan Indonesia sedang berada di bawah tekanan beberapa bulan, dipengaruhi kombinasi sentimen global dan kekhawatiran atas daya tahan ekonomi domestik, sehingga investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko di Tanah Air.
Dalam periode yang sama, Morgan Stanley juga menurunkan peringkat saham Indonesia dalam alokasi regionalnya.
Morgan Stanley menyoroti melemahnya prospek pertumbuhan domestik dan tekanan terhadap profitabilitas sektor-sektor siklikal, disertai pertimbangan pergeseran daya tarik relatif dibanding pasar lain di kawasan.
Selain faktor fundamental, isu valuasi dan perbandingan imbal hasil juga menjadi salah satu alasan yang kerap diangkat investor global saat menentukan pembobotan negara dalam portofolio.
Bahkan, Morgan Stanley sebelumnya sudah pernah mengambil langkah serupa pada 10 Juni 2024, dengan menurunkan rekomendasi ekuitas Indonesia menjadi underweight di tengah ketidakpastian arah kebijakan fiskal, pelemahan rupiah, serta suku bunga AS yang masih tinggi dan prospek dolar AS yang kuat.
Kala itu, Morgan Stanley menilai kombinasi tekanan valas dan beban fiskal berpotensi menjadi risiko bagi investasi di pasar modal Indonesia.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)