MARKET DATA

Data Bicara: Ini 5 Saham LQ45 Bangkit Paling Cepat Usai IHSG Ambruk

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
29 January 2026 13:35
Pergerakan Saham BBNI Vs IDX30 Vs LQ45
Foto: Infografis/ BBNI/ Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Sentimen negatif dari lembaga global memang kerap membuat pasar terkoreksi. Namun di balik itu, selalu ada cerita menarik dari saham-saham LQ45 yang justru mampu tampil ciamik saat pasar mulai pulih.

Terbaru, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menghadapi tekanan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan sejumlah penyesuaian terkait saham-saham Indonesia, menyusul kekhawatiran investor global atas metode perhitungan free float di pasar modal domestik. MSCI juga membuka peluang reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market bila tidak ada perubahan hingga peninjauan Mei 2026.

Menanggapi rilis MSCI tersebut, lembaga keuangan global lain, Goldman Sachs, turut menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight. Efeknya cepat terasa. IHSG terkoreksi tajam seiring aksi jual yang menyebar ke banyak saham, mulai dari big caps berbobot besar di indeks MSCI hingga saham-saham konglomerasi.

Meski demikian, pengalaman masa lalu justru memberikan harapan yang positif. Setelah fase kepanikan mereda, pasar biasanya mulai membangun pemulihan dan pada fase inilah sejumlah saham justru mampu rebound hingga naik kencang. 

Seperti pada 19 Februari 2025, ketika itu Morgan Stanley menurunkan peringkat saham Indonesia dari equal weight menjadi underweight. Tak lama berselang pada 11 Maret 2025, Goldman Sachs ikut memangkas rating jadi underweight.

Kedua sentimen tersebut mendorong pasar melemah hingga menemukan titik terendah pada 8 April 2025 yang juga bertepatan dengan meningkatnya gejolak global oleh pengumuman tarif resiprokal AS.

Menariknya dari titik terendah itu pasar berbalik rebound dan beberapa saham LQ45 melesat tajam dalam sebulan berikutnya. Berikut adalah 5 perusahaan di indeks LQ45 yang berhasil rebound dan mencatatkan kenaikan paling tinggi. 

Sebelumnya, pada 10 Juni 2024, pasar juga sempat dibuat kaget setelah Morgan Stanley menurunkan rekomendasi saham Indonesia menjadi underweight dalam alokasi Asia dan Emerging Markets.

Di tengah tren pelemahan yang sudah berlangsung, tekanan berlanjut hingga IHSG menyentuh titik terendah pada 19 Juni 2024 di level 6.726,91 atau terkoreksi hampir 3% sejak pengumuman.

Setelah itu, IHSG mencatat pemulihan dalam satu bulan berikutnya dan lagi-lagi ada saham-saham di indeks LQ45 yang mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan. Berikut 5 daftar emiten yang memiliki kenaikan paling kencang. 

Ada pelajaran penting yang bisa ditarik. Saat pasar memasuki fase kepanikan, harga saham biasanya terkoreksi tajam dalam waktu singkat.

Namun setelah itu, pasar kerap menemukan titik jenuh jual dan mulai berbalik menguat, bahkan mampu mencatat rebound hingga satu bulan berikutnya. Dalam dua contoh tersebut, sejumlah saham di indeks LQ45 terbukti mampu memberi capital gain double digit hanya dalam tempo satu bulan.

Dengan pola yang serupa, bukan tidak mungkin tekanan dan kepanikan di IHSG saat ini juga membuka peluang yang sama. Meski demikian, peluang tetap perlu diimbangi kehati-hatian. Investor tetap perlu menilai saham berdasarkan kinerja bisnisnya, mulai dari pertumbuhan laba bersih, rekam jejak pembagian dividen, hingga valuasi perusahaan, sebelum memutuskan untuk masuk atau menambah posisi.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular