MARKET DATA
Newsletter

Semua Mata ke BI: Mampukah Selamatkan Rupiah dari Guncangan Global?

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
21 January 2026 06:24
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Februari 2025.
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Februari 2025. (CNBC Indonesia/Arrijal Rachman)
  • Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam, IHSG menguat sementara rupiah melemah
  • Wall Street kompak melemah di tengah kekhawatiran tarif
  • Keputusan BI dan data ekonomi luar negeri menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta,CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam, Bursa saham menguat sementara rupiah melemah di tengah ketidakpastian global.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih dalam tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Pada penutupan perdagangan kemarin Selasa (20/1/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup stagnan atau naik kurang dari satu poin ke level 9.314,70. Sebanyak 336 saham naik, 323 turun, dan 143 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 29,57 triliun, melibatkan 72,93 miliar saham dalam 3,93 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 16.590 triliun.

Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG bergerak pada rentang 9.120,15-9.174,47. Indeks sempat terpeleset ke zona merah pada menit-menit awal perdagangan sesi pertama dan kedua.

Berdasarkan data pasar, Bumi Resources (BUMI) menjadi saham yang paling banyak diperdagangkan dengan nilai mencapai Rp 8,56 triliun. Total nilai transaksi BUMI jauh dibandingkan dengan emiten-emiten lain. Saham BUMI yang sempat melonjak di sesi satu berakhir terapresiasi tipis.

Mayoritas sektor perdagangan menguat dengan kenaikan tertinggi dicatatkan oleh sektor barang baku dan properti, sedangkan pelemahan paling dalam dicatatkan oleh sektor energi dan infrastruktur.

Saham Bumi Resources Minerals (BRMS), Merdeka Gold Resources (EMAS), Bukit Uluwatu Villa (BUVA), Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE) dan XL SMART Telecom Sejahtera (EXCL) menjadi penopang kinerja IHSG. Masing-masing, secara berurutan menyumbang 11,87 indeks poin, 10,85 indeks poin, 6,05 indeks poin, 5 indeks poin dan 4,06 indeks poin.

Beralih ke pasar nilai tukar, rupiah lagi-lagi masih loyo di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), meskipun pelemahan sudah mulai terbatas dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Merujuk Refinitiv, rupiah berakhir di level Rp16.945/US$ atau terdepresiasi 0,06% pada perdagangan kemarin Selasa. Posisi penutupan ini sekaligus menjadi level terlemah rupiah sepanjang masa.

Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) justru terkoreksi cukup dalam. Per pukul 15.00 WIB kemarin, DXY tercatat turun 0,54% ke level 98,846. Artinya, rupiah tetap melemah meski dolar AS sedang berada di zona pelemahan di pasar global.

Pelemahan rupiah terjadi seiring dengan fokus pelaku pasar yang tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dijadwalkan mengumumkan hasil kebijakan pada Rabu kemarin (21/1/2026).

Pasar memperkirakan BI akan mengambil langkah hati-hati dengan mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Meski inflasi domestik relatif terkendali di kisaran 2,92%, ruang pelonggaran suku bunga dinilai masih terbatas mengingat tekanan eksternal yang masih besar, sekaligus kebutuhan menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah di mata investor asing.

Dari eksternal, pelemahan DXY terjadi setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman tarif terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland, yang memicu aksi jual pada aset-aset AS.

Sentimen ini menghidupkan kembali fenomena "Sell America", ketika investor melepas saham, obligasi pemerintah AS, serta dolar, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap ketidakpastian kebijakan, memburuknya hubungan aliansi, hingga potensi percepatan tren dedolarisasi.

Namun demikian, pelaku pasar masih bersikap hati-hati menjelang dibukanya kembali pasar AS pasca libur Martin Luther King Jr. Day, serta menanti arah kebijakan moneter The Federal Reserve.

Saat ini, kontrak berjangka Fed funds masih mencerminkan probabilitas sekitar 94,5% bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan FOMC pekan depan, menurut CME Group FedWatch Tool.

Bersamaan dengan rupiah yang masih melemah, pasar obligasi juga masih menunjukkan tekanan jual.

Melansir Refinitiv, yield obligasi acuan RI untuk tenor 10 tahun (ID10Y) masih mengalami kenaikan pada kemarin sebesar 0,31 poin menuju posisi 6,32%.

Perlu dipahami, kenaikan yield berlawanan arah dengan harga, yang berarti kondisi harga obligasi sedang turun mencerminkan tekanan jual dari investor masih berlanjut.

Bursa saham Amerika Serikat ambruk pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 870,74 poin atau 1,76% dan ditutup di level 48.488,59.

Indeks S&P 500 melandai 2,06% ke posisi 6.796,86. Sementara itu, Nasdaq Composite merosot 2,39% dan berakhir di 22.954,32. Ini merupakan sesi perdagangan terburuk sejak Oktober bagi ketiga indeks utama tersebut.

Penurunan kemarin menyeret S&P 500 dan Nasdaq ke wilayah negatif untuk 2026. Indeks pasar luas S&P 500 kini turun 0,7%, sedangkan Nasdaq yang didominasi saham teknologi melemah 1,2% sepanjang tahun ini.

Indeks Volatilitas Cboe (VIX) - yang dikenal sebagai pengukur ketakutan Wall Street melonjak hingga menyentuh level tertinggi 20,99.

Saham-saham AS mengalami penurunan tajam pada Selasa setelah Presiden Donald Trump meningkatkan retorikanya terkait Greenland, dengan mengancam akan memberlakukan tarif baru terhadap negara-negara yang menentang penjualan wilayah Denmark tersebut kepada Amerika Serikat.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS (U.S. Treasury) melonjak dan dolar AS melemah seiring ancaman Trump memicu arus keluar dari aset-aset AS. Operator dana pensiun Denmark, AkademikerPension, mengatakan pada Selasa bahwa mereka akan keluar dari kepemilikan U.S. Treasurys karena kekhawatiran terkait kondisi keuangan dan utang Amerika Serikat.

 

Trump mengumumkan melalui unggahan di Truth Social pada Sabtu bahwa impor AS dari delapan negara anggota NATO akan dikenai tarif yang meningkat secara bertahap hingga tercapai Kesepakatan untuk pembelian Greenland secara lengkap dan total.

Trump menyebut tarif akan dimulai sebesar 10% pada 1 Februari dan naik menjadi 25% pada 1 Juni.

Trump kemudian mengancam akan memberlakukan tarif sebesar 200% terhadap anggur dan sampanye Prancis, menyusul laporan bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron tidak bersedia bergabung dengan apa yang disebut Trump sebagai Board of Peace.

Trump juga mengecam Inggris, menyebut rencana pemerintah Inggris untuk menyerahkan kedaulatan Kepulauan Chagos, salah satunya menjadi lokasi pangkalan militer Inggris-AS, kepada Mauritius sebagai "tindakan kebodohan besar."

Ia mengatakan langkah tersebut merupakan salah satu dari rangkaian panjang alasan keamanan nasional mengapa Greenland harus diakuisisi.

Brad Long, Chief Investment Officer di Wealthspire, mengatakan kepada CNBC bahwa ia tidak terkejut perkembangan terbaru ini membebani pasar saham, mengingat pasar sudah dihargai untuk kondisi yang sempurna" dengan valuasi serta ekspektasi laba yang tinggi.

Menurut Brad, tarif sebenarnya bukan hal baru dan Greenland atau ketertarikan pemerintahan terhadap Greenland juga bukan hal baru.

Namun, penggunaan tarif sebagai senjata dalam jangka pendek untuk mencapai tujuan non-ekonomi, atau setidaknya tujuan yang berdekatan dengan ekonomi, adalah hal yang baru.

 


"Eropa melewati tahun 2025 relatif tanpa luka, atau setidaknya relatif aman dari sisi tarif. Sekarang, ini langsung menyasar sejumlah sekutu terdekat AS delapan negara di Eropa, dengan tarif 10% hingga 25%. Kita seperti kembali ke volatilitas April 2025 akibat ketidakpastian Trump dan perubahan kebijakan." Ujar Brad, dikutip dari CNBC.

Para pemimpin Eropa menggambarkan ancaman tarif terbaru Trump sebagai "tidak dapat diterima" dan dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah balasan. Prancis disebut mendorong Uni Eropa untuk menggunakan ancaman balasan ekonomi terkuatnya, yang dikenal sebagai "Anti-Coercion Instrument."

"Di balik defisit perdagangan dan perang dagang, ada arus modal dan perang modal," kata Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates, kepada CNBC dalam acara Squawk Box di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.
"Jika melihat konflik-konflik ini, kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan terjadinya perang modal. Dengan kata lain, mungkin tidak ada lagi kecenderungan yang sama untuk membeli utang AS dan sebagainya." Imbuhnya.

Trump, yang dijadwalkan berbicara di Davos pada Rabu, mengatakan ia telah sepakat untuk bertemu dan berbicara dengan para pemimpin Eropa di konferensi tersebut guna membahas ambisinya terkait Greenland.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent membela rencana pengambilalihan Greenland oleh Trump kepada CNBC pada Selasa, dengan mengatakan:
"Itu akan mencegah terjadinya perang kinetik apa pun, jadi mengapa tidak mencegah masalahnya sebelum benar-benar dimulai?"

Perhatian pasar pada Rabu hari ini (21/1/2026) akan tertuju lebih banyak dari sentimen dalam negeri, terutama terkait keputusan BI Rate di tengah posisi rupiah yang menyentuh level All Time Low (ATL).

Sementara itu, dari pasar global sorotan masih tertuju pada harga emas yang kembali cetak rekor, di sisi lain bursa saham AS yang semalam sudah buka lagi setelah libur malah bergejolak.

Pasar kini mengantisipasi ketidakpastian global meningkat setelah muncul ancaman tarif baru dari Presiden Trump serta meningkatnya tekanan di pasar obligasi global.

Adapun berikut ulasan lebih rinci terkait sentimen pasar yang akan berpengaruh pada perdagangan hari ini:

Menanti Keputusan BI Rate

Bank Indonesia diperkirakan akan mengambil langkah aman dengan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu hari ini.

Pada RDG sebelumnya yang digelar pada 16-17 Desember 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75%, dengan deposit facility 3,75% dan lending facility 5,50%.

Keputusan tersebut menjadi kali ketiga BI menahan suku bunga sejak pemangkasan terakhir pada RDG September 2025. Saat itu, BI memangkas suku bunga 25 basis poin (bps) sebagai bagian dari upaya mendukung momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

Adapun untuk RDG Januari 2026 ini, berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 lembaga/institusi, seluruhnya kompak memperkirakan BI akan kembali menahan suku bunga di level 4,75%.

Meskipun inflasi domestik sedikit terkendali di level 2,92%, BI masih perlu menjaga daya tarik aset keuangan rupiah agar tidak ditinggalkan investor asing. Selisih suku bunga (spread) dengan The Fed harus dijaga.

Jika BI memangkas bunga terlalu cepat saat dolar AS masih kuat, rupiah berisiko terdepresiasi tajam mengingat rupiah tengah berada di level psikologis menembus Rp 17.000 per US$.

Keputusan menahan suku bunga ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi pelaku pasar serta tetap memperkuat rupiah di tengah proyeksi penurunan suku bunga oleh The Fed.

Sektor perbankan mungkin akan tetap menikmati marjin bunga bersih (NIM) yang stabil, namun sektor riil yang sensitif terhadap bunga (seperti properti dan otomotif) mungkin belum akan melihat lonjakan permintaan yang signifikan dalam waktu dekat. 

Huru-hara tarif Trump Dimulai Lagi

Presiden Donald Trump kembali meningkatkan ketegangan geopolitik global dengan mengumumkan rencana pengenaan tarif baru terhadap sejumlah negara Eropa, termasuk Denmark, Norwegia, Jerman, Inggris, Prancis, Belanda, Swedia, dan Finlandia.

Tarif impor sebesar 10% direncanakan mulai berlaku pada Februari 2026 dan berpotensi dinaikkan menjadi 25% pada Juni 2026 apabila negara-negara tersebut tetap menentang rencana AS terkait isu Greenland, yang oleh Trump dianggap memiliki nilai strategis dari sisi keamanan nasional dan sumber daya alam.

Trump bahkan mengancap tarif 200% untuk terhadap anggur dan sampanye Prancis setelah Presiden Macron menolak bergabung dengan "Dewan Perdamaian" yang dibentuknya.

Trump mengatakan "Jika mereka merasa bermusuhan, saya akan mengenakan tarif 200% pada anggur dan sampanye mereka."

Kebijakan ini dipandang pasar bukan sekadar isu perdagangan, melainkan sebagai bentuk tekanan politik yang berpotensi memicu eskalasi konflik diplomatik antara Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya di Eropa.

 

Pengumuman tersebut langsung memicu peningkatan volatilitas di pasar keuangan global. Investor cenderung bersikap lebih defensif sambil menunggu kejelasan arah kebijakan lanjutan dari pemerintah AS maupun respons balasan dari Uni Eropa.

Ketidakpastian geopolitik yang meningkat mendorong pergeseran aset ke instrumen safe haven, tercermin dari harga emas yang kembali menembus rekor tertinggi sepanjang masa.

Di saat yang sama, pasar saham AS semalam mulai mengalami tekanan signifikan seiring meningkatnya kekhawatiran akan potensi perang dagang baru dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Selain itu, pasar juga masih lanjut mencermati agenda World Economic Forum (WEF) yang digelar pada 19-23 Januari 2026 di Davos, Swiff. Ini akan menjadi perhatian pasar terutama soal arah kebijakan ekonomi dan geopolitik global.

Dalam konteks domestik, kondisi ini patut dicermati mengingat posisi IHSG yang sudah berada di level puncak. Namun, risiko geopolitik global memiliki potensi menular ke pasar negara berkembang melalui penurunan selera risiko investor asing dan potensi arus keluar modal.

Oleh karena itu, meskipun sentimen domestik masih relatif solid karena dominasi saham konglo masih dalam tren naik, tetapi dinamika eksternal yang dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik global menjadi faktor risiko yang tidak bisa diabaikan.

Tekanan Obligasi Jepang Masih Berlanjut

Dari kawasan Asia, dinamika politik Jepang turut menambah lapisan ketidakpastian pasar setelah muncul rencana pembubaran parlemen dan pelaksanaan pemilu sela pada 8 Februari 2026.

Situasi tersebut memicu tekanan di pasar obligasi, tercermin dari lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 40 tahun yang menembus level 4%, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah

Pada Selasa malam, yield obligasi 40 tahun itu kembali naik kencang sampai 22bps ke posisi 4.22%.

Sementara, untuk tenor 10 tahun juga mengalami lonjakan menembus 2,3% yang merupakan level tertinggi selama hampir tiga dekade.

Kenaikan yield ini memperkuat sentimen kehati-hatian investor global karena berpotensi memicu pengetatan kondisi keuangan lintas negara.

Namun demikian, di sisi fundamental jangka menengah, lembaga pemeringkat Fitch menilai posisi fiskal Jepang masih berada dalam jalur yang terkendali.

Fitch memproyeksikan rasio utang pemerintah Jepang akan turun ke kisaran 190% terhadap PDB pada tahun fiskal 2029, membaik dari estimasi sekitar 199,5% pada tahun fiskal 2025, sehingga membantu meredam kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal dalam jangka panjang.

Jumlah Penambahan Tenaga Kerja AS

Pemberi kerja swasta di Amerika Serikat menambah rata-rata 8.000 lapangan kerja per minggu dalam empat minggu yang berakhir pada 27 Desember 2025, turun dari rata-rata kenaikan 11.250 pada periode sebelumnya, menurut ADP Research.

Meski mencatat enam periode berturut-turut pertumbuhan lapangan kerja, momentum perekrutan melemah menjelang akhir tahun, dengan pekan terakhir 2025 menunjukkan perlambatan yang relatif moderat.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) periode Januari 2026

  • Pertumbuhan penyaluran kredit periode Desember 2025

  • Konferensi pers hasil Munas XI Aprisindo di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat

  • Rapat Kerja Komisi IX DPR dengan Menteri Ketenagakerjaan di ruang rapat Komisi IX DPR, Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat

  • Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR dengan Direktur Utama Perum Bulog di ruang rapat Komisi VI DPR, Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat.

  • Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR dengan Direktur Utama PLN di ruang rapat Komisi VI DPR, Gedung Senayan, Jakarta Pusat.

  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan K/L anggota Satgas PASTI akan melaksanakan Penyerahan Dana Masyarakat Korban Scam yang Berhasil Diselamatkan Melalui Sinergi dan Kolaborasi Indonesia Anti Scam Centre (IASC) di Gedung AA Maramis, Jakarta Pusat. Narasumber: Ketua Dewan Komisioner OJK, Ketua Komisi XI DPR RI, dan Kepala Eksekutif PEPK

  • Halodoc Talks by Halodoc: Menjembatani Kesiapan dan Tantangan Kesehatan Selama Ramadan hingga Perayaan Idulfitri di GIOI Menteng, Jakarta Pusat.

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • Hari terakhir perdagangan waran INET

  • Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) TAXI, BOGA, NSSS, TEBE, PPRE, BEKS, dan KRYA

Berikut untuk indikator ekonomi RI :

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

 



Most Popular
Features