MARKET DATA

Setahun Trump: Penguasa Wall Street Berganti: Siapa Jadi Raja Baru?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
20 January 2026 16:25
Perang Dagang Trump Membara Lagi, RI Kena Tarif 32%
Foto: Cover fokus/ Perang Dagang Trump Membara Lagi, RI Kena Tarif 32%/ Ilham

Jakarta, CNBC Indonesia - Hari ini, Selasa (20/1/2026) tepat satu tahun setelah pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) bursa Wall Street telah mencatat emiten dengan kenaikan tertinggi sepanjang masa pemerintah terkini.

Tahun 2025 bukan lagi panggung dominasi mutlak bagi raksasa teknologi berkapitalisasi besar (Big Tech), melainkan momentum kebangkitan bagi saham-saham second liner dan saham berkapitalisasi kecil.

Kebijakan ekonomi "America First", pemangkasan pajak korporasi, serta deregulasi agresif di berbagai sektor telah menciptakan anomali pasar yang luar biasa. Investor ritel maupun institusi terlihat beralih memburu aset-aset spekulatif yang diuntungkan secara langsung oleh perubahan regulasi di Washington.

Berdasarkan data perdagangan setahun terakhir (YoY), terdapat sepuluh emiten yang mencatatkan kenaikan harga di luar kewajaran, dipimpin oleh sektor bioteknologi dan pertambangan.

Berikut adalah daftar 10 saham dengan performa terbaik selama periode Januari 2025 hingga Januari 2026:

Euforia Deregulasi Sektor Kesehatan

Sektor teknologi kesehatan menjadi juara mutlak dalam fenomena "Trump Trade" kali ini. Regencell Bioscience (RGC) mencatatkan rekor kenaikan tertinggi sebesar 21.843%. Kenaikan masif ini didorong oleh ekspektasi pasar terhadap reformasi Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA).

Pemerintahan Trump dinilai pro-bisnis dengan wacana memangkas jalur birokrasi perizinan obat klinis. Hal ini menjadi katalis positif bagi perusahaan farmasi skala kecil seperti RGC, NovaBay Pharmaceuticals (NBY) (+2.013%), dan Relmada Therapeutics (RLMD) (+846%).

Investor berspekulasi bahwa percepatan izin edar akan mendongkrak valuasi perusahaan-perusahaan ini secara eksponensial, terlepas dari fundamental keuangan yang masih dalam tahap pengembangan.

Nasionalisme Sumber Daya Alam

Di sektor riil, sentimen kemandirian energi dan mineral kritis mengangkat kinerja Hycroft Mining Holding (HYMC) hingga 1.572%. Di tengah ketegangan geopolitik dan perang dagang yang kembali memanas, kebijakan AS untuk mengurangi ketergantungan impor mineral dari China menguntungkan penambang domestik.

Aset tambang yang berlokasi di tanah Amerika kini dinilai sebagai aset strategis nasional, memicu aliran modal besar ke emiten pertambangan lokal.

Proteksionisme Teknologi dan Manufaktur

Perang teknologi (Tech War) memberikan angin segar bagi produsen perangkat keras dalam negeri. Sandisk Corporation (SNDK) dan AXT Inc (AXTI) masing-masing menguat 1.079% dan 908%.

Kenaikan ini didasari oleh insentif pemerintah bagi perusahaan yang memproduksi komponen elektronik dan semikonduktor di dalam negeri. Investor meyakini bahwa proteksionisme tarif impor akan membuat produk teknologi buatan AS lebih kompetitif di pasar domestik, memberikan peluang turnaround bagi perusahaan teknologi lawas.

Era Baru Aset Digital dan Pajak Rendah

Sektor keuangan juga merespons positif janji pemangkasan pajak korporasi, yang tercermin dari lonjakan saham Rich Sparkle Holdings (ANPA) sebesar 2.668%.

Di sisi lain, sikap regulator yang lebih bersahabat terhadap aset kripto dibandingkan periode pemerintahan sebelumnya menjadi pemicu kenaikan DeFi Development Corp (DFDV) sebesar 999%. Pasar optimis AS akan menjadi pusat inovasi keuangan terdesentralisasi global.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular