Semua Mata ke BI: Mampukah Selamatkan Rupiah dari Guncangan Global?
Perhatian pasar pada Rabu hari ini (21/1/2026) akan tertuju lebih banyak dari sentimen dalam negeri, terutama terkait keputusan BI Rate di tengah posisi rupiah yang menyentuh level All Time Low (ATL).
Sementara itu, dari pasar global sorotan masih tertuju pada harga emas yang kembali cetak rekor, di sisi lain bursa saham AS yang semalam sudah buka lagi setelah libur malah bergejolak.
Pasar kini mengantisipasi ketidakpastian global meningkat setelah muncul ancaman tarif baru dari Presiden Trump serta meningkatnya tekanan di pasar obligasi global.
Adapun berikut ulasan lebih rinci terkait sentimen pasar yang akan berpengaruh pada perdagangan hari ini:
Menanti Keputusan BI Rate
Bank Indonesia diperkirakan akan mengambil langkah aman dengan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu hari ini.
Pada RDG sebelumnya yang digelar pada 16-17 Desember 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75%, dengan deposit facility 3,75% dan lending facility 5,50%.
Keputusan tersebut menjadi kali ketiga BI menahan suku bunga sejak pemangkasan terakhir pada RDG September 2025. Saat itu, BI memangkas suku bunga 25 basis poin (bps) sebagai bagian dari upaya mendukung momentum pertumbuhan ekonomi domestik.
Adapun untuk RDG Januari 2026 ini, berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 lembaga/institusi, seluruhnya kompak memperkirakan BI akan kembali menahan suku bunga di level 4,75%.
Meskipun inflasi domestik sedikit terkendali di level 2,92%, BI masih perlu menjaga daya tarik aset keuangan rupiah agar tidak ditinggalkan investor asing. Selisih suku bunga (spread) dengan The Fed harus dijaga.
Jika BI memangkas bunga terlalu cepat saat dolar AS masih kuat, rupiah berisiko terdepresiasi tajam mengingat rupiah tengah berada di level psikologis menembus Rp 17.000 per US$.
Keputusan menahan suku bunga ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi pelaku pasar serta tetap memperkuat rupiah di tengah proyeksi penurunan suku bunga oleh The Fed.
Sektor perbankan mungkin akan tetap menikmati marjin bunga bersih (NIM) yang stabil, namun sektor riil yang sensitif terhadap bunga (seperti properti dan otomotif) mungkin belum akan melihat lonjakan permintaan yang signifikan dalam waktu dekat.
Huru-hara tarif Trump Dimulai Lagi
Presiden Donald Trump kembali meningkatkan ketegangan geopolitik global dengan mengumumkan rencana pengenaan tarif baru terhadap sejumlah negara Eropa, termasuk Denmark, Norwegia, Jerman, Inggris, Prancis, Belanda, Swedia, dan Finlandia.
Tarif impor sebesar 10% direncanakan mulai berlaku pada Februari 2026 dan berpotensi dinaikkan menjadi 25% pada Juni 2026 apabila negara-negara tersebut tetap menentang rencana AS terkait isu Greenland, yang oleh Trump dianggap memiliki nilai strategis dari sisi keamanan nasional dan sumber daya alam.
Trump bahkan mengancap tarif 200% untuk terhadap anggur dan sampanye Prancis setelah Presiden Macron menolak bergabung dengan "Dewan Perdamaian" yang dibentuknya.
Trump mengatakan "Jika mereka merasa bermusuhan, saya akan mengenakan tarif 200% pada anggur dan sampanye mereka."
Kebijakan ini dipandang pasar bukan sekadar isu perdagangan, melainkan sebagai bentuk tekanan politik yang berpotensi memicu eskalasi konflik diplomatik antara Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya di Eropa.
Pengumuman tersebut langsung memicu peningkatan volatilitas di pasar keuangan global. Investor cenderung bersikap lebih defensif sambil menunggu kejelasan arah kebijakan lanjutan dari pemerintah AS maupun respons balasan dari Uni Eropa.
Ketidakpastian geopolitik yang meningkat mendorong pergeseran aset ke instrumen safe haven, tercermin dari harga emas yang kembali menembus rekor tertinggi sepanjang masa.
Di saat yang sama, pasar saham AS semalam mulai mengalami tekanan signifikan seiring meningkatnya kekhawatiran akan potensi perang dagang baru dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi global.
Selain itu, pasar juga masih lanjut mencermati agenda World Economic Forum (WEF) yang digelar pada 19-23 Januari 2026 di Davos, Swiff. Ini akan menjadi perhatian pasar terutama soal arah kebijakan ekonomi dan geopolitik global.
Dalam konteks domestik, kondisi ini patut dicermati mengingat posisi IHSG yang sudah berada di level puncak. Namun, risiko geopolitik global memiliki potensi menular ke pasar negara berkembang melalui penurunan selera risiko investor asing dan potensi arus keluar modal.
Oleh karena itu, meskipun sentimen domestik masih relatif solid karena dominasi saham konglo masih dalam tren naik, tetapi dinamika eksternal yang dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik global menjadi faktor risiko yang tidak bisa diabaikan.
Tekanan Obligasi Jepang Masih Berlanjut
Dari kawasan Asia, dinamika politik Jepang turut menambah lapisan ketidakpastian pasar setelah muncul rencana pembubaran parlemen dan pelaksanaan pemilu sela pada 8 Februari 2026.
Situasi tersebut memicu tekanan di pasar obligasi, tercermin dari lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 40 tahun yang menembus level 4%, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah
Pada Selasa malam, yield obligasi 40 tahun itu kembali naik kencang sampai 22bps ke posisi 4.22%.
Sementara, untuk tenor 10 tahun juga mengalami lonjakan menembus 2,3% yang merupakan level tertinggi selama hampir tiga dekade.
Kenaikan yield ini memperkuat sentimen kehati-hatian investor global karena berpotensi memicu pengetatan kondisi keuangan lintas negara.
Namun demikian, di sisi fundamental jangka menengah, lembaga pemeringkat Fitch menilai posisi fiskal Jepang masih berada dalam jalur yang terkendali.
Fitch memproyeksikan rasio utang pemerintah Jepang akan turun ke kisaran 190% terhadap PDB pada tahun fiskal 2029, membaik dari estimasi sekitar 199,5% pada tahun fiskal 2025, sehingga membantu meredam kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal dalam jangka panjang.
Jumlah Penambahan Tenaga Kerja AS
Pemberi kerja swasta di Amerika Serikat menambah rata-rata 8.000 lapangan kerja per minggu dalam empat minggu yang berakhir pada 27 Desember 2025, turun dari rata-rata kenaikan 11.250 pada periode sebelumnya, menurut ADP Research.
Meski mencatat enam periode berturut-turut pertumbuhan lapangan kerja, momentum perekrutan melemah menjelang akhir tahun, dengan pekan terakhir 2025 menunjukkan perlambatan yang relatif moderat.
(saw/saw)