MARKET DATA
Newsletter

Semua Mata ke BI: Mampukah Selamatkan Rupiah dari Guncangan Global?

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
21 January 2026 06:24
Wall Street/Brendan McDermid | Reuters
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Februari 2025. (CNBC Indonesia/Arrijal Rachman)

Bursa saham Amerika Serikat ambruk pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 870,74 poin atau 1,76% dan ditutup di level 48.488,59.

Indeks S&P 500 melandai 2,06% ke posisi 6.796,86. Sementara itu, Nasdaq Composite merosot 2,39% dan berakhir di 22.954,32. Ini merupakan sesi perdagangan terburuk sejak Oktober bagi ketiga indeks utama tersebut.

Penurunan kemarin menyeret S&P 500 dan Nasdaq ke wilayah negatif untuk 2026. Indeks pasar luas S&P 500 kini turun 0,7%, sedangkan Nasdaq yang didominasi saham teknologi melemah 1,2% sepanjang tahun ini.

Indeks Volatilitas Cboe (VIX) - yang dikenal sebagai pengukur ketakutan Wall Street melonjak hingga menyentuh level tertinggi 20,99.

Saham-saham AS mengalami penurunan tajam pada Selasa setelah Presiden Donald Trump meningkatkan retorikanya terkait Greenland, dengan mengancam akan memberlakukan tarif baru terhadap negara-negara yang menentang penjualan wilayah Denmark tersebut kepada Amerika Serikat.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS (U.S. Treasury) melonjak dan dolar AS melemah seiring ancaman Trump memicu arus keluar dari aset-aset AS. Operator dana pensiun Denmark, AkademikerPension, mengatakan pada Selasa bahwa mereka akan keluar dari kepemilikan U.S. Treasurys karena kekhawatiran terkait kondisi keuangan dan utang Amerika Serikat.

 

Trump mengumumkan melalui unggahan di Truth Social pada Sabtu bahwa impor AS dari delapan negara anggota NATO akan dikenai tarif yang meningkat secara bertahap hingga tercapai Kesepakatan untuk pembelian Greenland secara lengkap dan total.

Trump menyebut tarif akan dimulai sebesar 10% pada 1 Februari dan naik menjadi 25% pada 1 Juni.

Trump kemudian mengancam akan memberlakukan tarif sebesar 200% terhadap anggur dan sampanye Prancis, menyusul laporan bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron tidak bersedia bergabung dengan apa yang disebut Trump sebagai Board of Peace.

Trump juga mengecam Inggris, menyebut rencana pemerintah Inggris untuk menyerahkan kedaulatan Kepulauan Chagos, salah satunya menjadi lokasi pangkalan militer Inggris-AS, kepada Mauritius sebagai "tindakan kebodohan besar."

Ia mengatakan langkah tersebut merupakan salah satu dari rangkaian panjang alasan keamanan nasional mengapa Greenland harus diakuisisi.

Brad Long, Chief Investment Officer di Wealthspire, mengatakan kepada CNBC bahwa ia tidak terkejut perkembangan terbaru ini membebani pasar saham, mengingat pasar sudah dihargai untuk kondisi yang sempurna" dengan valuasi serta ekspektasi laba yang tinggi.

Menurut Brad, tarif sebenarnya bukan hal baru dan Greenland atau ketertarikan pemerintahan terhadap Greenland juga bukan hal baru.

Namun, penggunaan tarif sebagai senjata dalam jangka pendek untuk mencapai tujuan non-ekonomi, atau setidaknya tujuan yang berdekatan dengan ekonomi, adalah hal yang baru.

 


"Eropa melewati tahun 2025 relatif tanpa luka, atau setidaknya relatif aman dari sisi tarif. Sekarang, ini langsung menyasar sejumlah sekutu terdekat AS delapan negara di Eropa, dengan tarif 10% hingga 25%. Kita seperti kembali ke volatilitas April 2025 akibat ketidakpastian Trump dan perubahan kebijakan." Ujar Brad, dikutip dari CNBC.

Para pemimpin Eropa menggambarkan ancaman tarif terbaru Trump sebagai "tidak dapat diterima" dan dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah balasan. Prancis disebut mendorong Uni Eropa untuk menggunakan ancaman balasan ekonomi terkuatnya, yang dikenal sebagai "Anti-Coercion Instrument."

"Di balik defisit perdagangan dan perang dagang, ada arus modal dan perang modal," kata Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates, kepada CNBC dalam acara Squawk Box di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.
"Jika melihat konflik-konflik ini, kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan terjadinya perang modal. Dengan kata lain, mungkin tidak ada lagi kecenderungan yang sama untuk membeli utang AS dan sebagainya." Imbuhnya.

Trump, yang dijadwalkan berbicara di Davos pada Rabu, mengatakan ia telah sepakat untuk bertemu dan berbicara dengan para pemimpin Eropa di konferensi tersebut guna membahas ambisinya terkait Greenland.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent membela rencana pengambilalihan Greenland oleh Trump kepada CNBC pada Selasa, dengan mengatakan:
"Itu akan mencegah terjadinya perang kinetik apa pun, jadi mengapa tidak mencegah masalahnya sebelum benar-benar dimulai?"

(saw/saw)


Most Popular
Features