Empat Hari Perdagangan, Banyak Bom Sentimen Mengintai Pasar RI
Pasar keuangan Indonesia hanya akan dibuka selama empat hari pada Senin-Jumat. Pasalnya ada libur Isra Mi'raj pada Jumat sehingga pasar tutup. Mengingat perdagangan yang relatif pendek, pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen pasar hari ini dan sepekan ke depan.
Pelaku pasar kini beralih fokus ke penantian inflasi AS yang akan rilis pekan depan sampai memantau sejumlah harga komoditas yang terus bergerak naik.
Dari kawasan regional, pelaku pasar juga masih memantau bagaimana dinamika di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, serta sentimen pasar yang dipengaruhi rilis inflasi China.
Sementara dari dalam negeri, ada sejumlah data yang potensi masih direspon pasar pekan depan seperti defisit APBN yang melebar sampai penantian data penjualan ritel yang akan rilis Senin besok (12/1/2026).
Berikut kami ulas satu per satu beberapa sentimen yang akan mempengaruhi pasar pekan depan:
Presiden Resmikan Ratusan Sekolah Rakyat dan Refinery Development Master Plan
Presiden Prabowo Subianto hari ini dijadwalkan akan meluncurkan 166 Sekolah Rakyat Rintisan dan groundbreaking 104 Sekolah Rakyat Permanen se-Indonesia di Sekolah Rakyat Terintegrasi 9, Balai Besar Pendidikan Pelatihan Kesejahteraan Sosial, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan.
Presiden juga akan meresmikan megaproyek Refinery Development Master Plan RDMP PT Pertamina (Persero) di Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.
Dua program prioritas tersebut diharapkan bisa ikut menopang ketahanan energi dan perbaikan sumber daya manusia (SDM).Â
Proyek RDMP Balikpapan merupakan proyek modernisasi kilang terbesar di Indonesia. Dengan beroperasinya RFCC Complex, Kilang Balikpapan tidak hanya memproduksi bensin dan solar, tetapi juga mampu menambah produksi LPG serta menghasilkan produk petrokimia yang sebelumnya belum dapat dihasilkan di kilang ini.
Menanti Data Retail Sales Indonesia
Dari domestik, hari ini pelaku pasar juga masih menantikan data seperti penjualan ritel untuk periode November 2025.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat untuk penjualan ritel yang dicerminkan dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) berada di 219,7 pada Oktober. Tumbuh 4,3% yoy, lebih tinggi dibandingkan September yang naik 3,7% yoy, capaian ini merupakan yang terkuat sejak Juli 2025.
Pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh penjualan makanan, minuman, dan tembakau naik 6,4% (vs 5,4% pada September), sementara barang budaya dan rekreasi melonjak 6,7% (vs 2,6%), keduanya mencatatkan laju pertumbuhan tercepat dalam tujuh bulan terakhir.
Sementara itu, penjualan suku cadang dan aksesori otomotif sedikit melambat menjadi 12,0% dari 12,4%. Sebaliknya, penjualan mengalami penurunan pada bahan bakar (-1,0% vs 10,6%), peralatan rumah tangga (-2,3% vs -2,6%), perangkat informasi dan komunikasi (-28,3% vs -27,6%), serta pakaian (-5,8% vs -7,1%).
Adapun, secara bulanan (MoM), aktivitas ritel naik 0,6%, berbalik arah dari penurunan 2,4% pada September. Sejumlah kenaikan penjualan tersebut utamanya dipengaruhi permintaan masyarakat jelang persiapan Hari Natal didukung kelancaran distribusi.
Terkini, pasar mengharapkan pertumbuhan yang lebih tinggi pada Desember 2025 sebesar 4,3% yoy.
Menanti data Inflasi Amerika Serikat (AS)
Pertama, data yang paling ditunggu investor adalah inflasi negeri Paman Sam untuk periode Desember 2025 yang akan diumumkan pada Selasa malam (13/1/2025) sekitar pukul 20.30 WIB.
Saat ini, pasar berangkat dari perkiraan sementara bahwa inflasi AS berada di kisaran 2,7% secara tahunan di penghujung 2025, lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya di atas 3%.
Angka tersebut bukan merupakan rilis resmi CPI Desember, melainkan estimasi berbasis data terakhir yang tersedia, mengingat Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) tidak mengumpulkan data pada Oktober 2025 akibat government shutdown dan tidak merilis data bulanan November.
Dalam periode tersebut, BLS hanya menyampaikan bahwa CPI naik sekitar 0,2% dalam dua bulan dari September hingga November 2025, sehingga analis dan pelaku pasar melakukan penghitungan konsolidasi untuk membaca arah inflasi akhir tahun.
Dari komposisinya, tekanan harga diperkirakan masih banyak berasal dari sektor energi, makanan, dan biaya tempat tinggal yang belum ikut melandai, sementara inflasi barang-barang lain seperti pakaian dan kendaraan baru relatif lebih terkendali.
Di saat yang sama, survei Federal Reserve menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi jangka pendek masyarakat justru cenderung meningkat, diiringi dengan memburuknya persepsi terhadap kondisi pasar tenaga kerja.
Â
Kombinasi antara inflasi headline yang melandai dan sentimen konsumen yang masih waspada inilah yang membuat rilis CPI Desember menjadi krusial.
Bagi The Fed, data inflasi resmi yang akan dirilis minggu depan akan menjadi validasi penting atas tren disinflasi yang selama ini dibangun oleh pasar. Jika inflasi Desember benar-benar mengonfirmasi pelemahan tekanan harga, ruang bagi bank sentral untuk bersikap lebih akomodatif akan semakin terbuka.
Sebaliknya, jika inflasi kembali menguat atau bertahan lebih tinggi dari perkiraan, The Fed berpotensi tetap berhati-hati dalam mengubah arah kebijakan suku bunga. Karena itu, rilis inflasi kali ini bukan sekadar soal angka, tetapi juga soal arah kebijakan moneter AS ke depan dan dampaknya ke pasar global.
Menanti Data Ekonomi China
Beralih ke kawasan regional, dari sang Naga Asia atau Tiongkok, pelaku pasar menantikan rilis data neraca dagang. Sebelum itu pada pekan lalu, China juga merilis laju inflasi yang baik usai berbulan-bulan deflasi.
Untuk informasi saja, China mengalami inflasi 0,8% secara tahunan (yoy), ini merupakan yang tertinggi selama hampir tiga tahun, meskipun belum sepenuhnya meredakan tekanan deflasi.
Dan saat ini, pelaku pasar berharap surplus neraca dagang akan bertambah lebih banyak untuk periode Desember 2025 dibandingkan bulan sebelumnya.
Sebagai catatan, pada November lalu, surplus perdagangan China menembus rekor lebih dari US$ 1 triliun, meskipun pengiriman barang ke AS terus melemah. Selama periode tersebut, ekspor tumbuh 5,4%, sementara impor justru menyusut 0,6%.
Khusus pada November, surplus perdagangan China mencapai US$ 112 miliar, menjadi yang terbesar ketiga sepanjang sejarah dan jauh di atas ekspektasi pasar.
Capaian ini terjadi karena pertumbuhan ekspor yang lebih cepat dibandingkan impor. Ekspor November naik 5,9% secara tahunan, melampaui perkiraan pasar sebesar 3,8% dan berbalik arah dari kontraksi 1,1% pada Oktober.
Kinerja ekspor tersebut ditopang oleh lonjakan pengiriman ke negara-negara di luar AS, seiring upaya pemerintah China mendiversifikasi tujuan ekspor sejak kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS November lalu, serta memperdalam hubungan dagang dengan ASEAN dan Uni Eropa. Sebaliknya, pengiriman ke AS anjlok 28,6%, menandai delapan bulan berturut-turut penurunan dua digit.
Sementara itu, impor China pada November meningkat 1,9%, lebih rendah dari ekspektasi kenaikan 2,8%, namun lebih baik dibandingkan pertumbuhan 1,0% pada Oktober. Surplus perdagangan China dengan AS turun menjadi US$ 23,74 miliar pada November, dari US$ 24,76 miliar pada bulan sebelumnya.
Pengumuman SULNIÂ Indonesia
Perhatian pelaku pasar pekan ini tertuju pada rilis data Statistik Utang Luar Negeri (SULNI) periode November 2025 yang akan segera diumumkan oleh Bank Indonesia (BI). Data ini sangat dinantikan untuk memastikan apakah tren penurunan beban utang negara yang terjadi pada kuartal sebelumnya masih berlanjut menjelang tutup tahun.
Sebagai konteks, posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir kuartal III-2025 (September) tercatat turun menjadi US$ 424,4 miliar, menyusut dibandingkan posisi kuartal sebelumnya yang sebesar US$ 432,2 miliar.
Penurunan posisi utang ini utamanya dipicu oleh perlambatan pertumbuhan ULN pemerintah yang tercatat sebesar US$ 210,1 miliar. Bank Indonesia menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi akibat berkurangnya aliran masuk modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik, lantaran investor global cenderung berhati-hati di tengah ketidakpastian pasar keuangan saat itu.
Meski demikian, utang pemerintah dikelola secara aman dengan dominasi tenor jangka panjang mencapai 99,9% dan difokuskan pada sektor produktif seperti jasa kesehatan (23,1%) serta administrasi pemerintah (20,7%).
Tren positif juga terlihat pada sektor swasta yang mencatatkan penurunan posisi utang menjadi US$ 191,3 miliar. Kombinasi penurunan pada kedua sektor ini berdampak signifikan pada struktur keuangan negara yang kian sehat.
Hal ini tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang membaik ke level 29,5%, turun dari 30,4% pada kuartal sebelumnya. Kini, data November akan menjadi indikator krusial apakah stabilitas eksternal ekonomi Indonesia tetap terjaga solid.
(gls/gls) Add
source on Google