Empat Hari Perdagangan, Banyak Bom Sentimen Mengintai Pasar RI
Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) menutup perdagangan akhir pekan dengan gemilang, di mana indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) kompak mencetak rekor penutupan tertinggi baru pada Jumat (9/1/2026).
Indeks S&P 500 ditutup menguat 0,65% ke level 6.966,28, yang juga menjadi rekor intraday tertinggi sepanjang masa.
Jejak ini diikuti oleh Dow Jones yang bertambah 237,96 poin atau 0,48% ke level 49.504,07. Sementara itu, indeks padat teknologi Nasdaq Composite turut melaju di jalur hijau dengan kenaikan 0,81% menjadi 23.671,35.
Secara mingguan, ketiga indeks utama mencatatkan rapor biru yang solid, dengan Dow Jones memimpin kenaikan mingguan sebesar 2,3%, disusul Nasdaq 1,9%, dan S&P 500 lebih dari 1%.
Sentimen utama yang menjadi bahan bakar penguatan Dow Jones datang langsung dari pernyataan Presiden AS Donald Trump. Ia menyerukan peningkatan anggaran pertahanan secara masif menjadi US$ 1,5 triliun untuk tahun 2027.
Dalam unggahannya di media sosial Truth Social, Trump menegaskan ambisinya dengan kalimat tegas yaitu "Ini akan memungkinkan kita membangun 'Militer Impian' yang sudah lama menjadi hak kita, dan yang terpenting, akan menjaga kita tetap amandan terjamin, siapa pun musuhnya."
Janji kucuran dana jumbo ini langsung direspons positif oleh pasar, membuat saham kontraktor militer raksasa seperti Northrop Grumman terbang lebih dari 4%, diikuti oleh kenaikan solid pada saham Lockheed Martin dan RTX (Raytheon).
Di sisi lain, sebuah pergeseran sejarah yang signifikan terjadi di papan atas emiten teknologi, di mana kapitalisasi pasar Alphabet (induk Google) resmi menyalip Apple.
Peristiwa ini menjadikan Alphabet sebagai perusahaan paling bernilai kedua di dunia setelah Nvidia, menggeser pembuat iPhone tersebut ke posisi ketiga.
Hal ini mempertegas narasi bahwa investor kini lebih memburu potensi pertumbuhan dari kecerdasan buatan (AI).
Deepak Mathivanan, analis dari Cantor Fitzgerald, memberikan pandangan optimisnya dalam sebuah catatan riset yaitu "Alphabet adalah raja dari semua perdagangan AI berada di posisi yang tepat untuk memanen keuntungan dari jejak bisnis mereka yang luas dalam dua hingga tiga tahun ke depan."
Sebaliknya, para analis mulai melihat terbatasnya ruang pertumbuhan bagi Apple dalam jangka pendek. Melissa Fairbanks, seorang analis pasar, menyoroti bahwa meskipun Apple sangat dominan di sektor elektronik konsumen, nilai bisnis perangkat keras tersebut sebagian besar "sudah tercermin dalam harga sahamnya saat ini".
Pandangan ini membuat investor cenderung merotasi modal mereka dari saham berbasis perangkat keras ke saham yang dianggap sebagai platform utama pengembangan AI.
Sentimen positif pasar secara luas juga didorong oleh rilis laporan pekerjaan (jobs report) Desember yang melegakan. Ekonomi AS menambah 50.000 pekerjaan dengan tingkat pengangguran turun ke 4,4%.
(gls/gls)