MARKET DATA

Ini Skenario Jika RI Kurangi Produksi Nikel, Dunia Bakal Guncang?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
06 January 2026 09:50
Hidup Manusia Dikepung Nikel, dari Panci, HP hingga Mesin Perang
Foto: Infografis/ Harita Nickel/ Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku pasar komoditas global kini tengah menanti manuver strategis pemerintah Indonesia. Di tengah tekanan harga nikel yang tertahan di level moderat kisaran US$ 16.000-an per ton sepanjang penutupan tahun 2025, wacana Kementerian ESDM untuk memangkas kuota produksi nikel dalam negeri sebesar 5% hingga 10% dinilai baik untuk menyehatkan pasar di tahun 2026.

Kondisi pasar nikel saat ini sedang mengalami anomali yang ekstrem dan mengkhawatirkan. Di satu sisi, permintaan dari sektor kendaraan listrik global sebenarnya masih dalam mode ekspansif dan terus bertumbuh, meskipun tidak seagresif prediksi awal. Namun, fundamental harga justru hancur lebur akibat banjir pasokan dari Indonesia.

Data penutupan perdagangan LME per 31 Desember 2025 menjadi bukti nyata betapa parahnya oversupply. Stok nikel di gudang London Metal Exchange (LME) menumpuk hingga rekor 255.162 ton.

Angka ini melonjak lebih dari 300% jika dibandingkan posisi akhir tahun 2023 yang hanya berada di kisaran 64.000 ton. Tsunami stok inilah yang menjadi pemberat utama, membuat harga sulit bangkit meski permintaan baterai meningkat.

Mekanisme "Rem Darurat" dan Efek Kejut Pasar

Langkah pemerintah Indonesia untuk mengetatkan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 dinilai sebagai satu-satunya jalan dan strategi terbaik. Logikanya sederhana yaitu Indonesia saat ini memegang kendali lebih dari 55% pasokan nikel dunia.

Artinya, pemangkasan produksi sebesar 10% saja dari Indonesia setara dengan menghilangkan ratusan ribu ton nikel dari neraca perdagangan global. Ini adalah jumlah yang masif yang mampu mengubah status pasar dari surplus menjadi deficit dalam hitungan bulan.

Dalam dinamika pasar komoditas, dampak dari kebijakan ini tidak akan berjalan linear, melainkan eksponensial. Jika suplai dipangkas saat permintaan EV sedang stagnan, harga mungkin hanya akan tertahan. Namun, karena adopsi EV dan industri baterai masih tumbuh, pengurangan suplai dari pemain utama akan memicu kepanikan pembeli.

Pabrikan baterai dan produsen otomotif global (OEM), yang selama setahun terakhir nyaman membeli bahan baku di pasar spot karena stok melimpah, diprediksi akan mengubah strategi mereka secara drastis.

Mereka akan berebut mengamankan kontrak jangka panjang karena khawatir barang akan langka. Aksi borong inilah yang akan menguras stok LME lebih cepat dari perkiraan dan melambungkan harga.

Skenario Proyeksi Harga 2026

Tim Riset CNBC Indonesia menyusun simulasi dampak kebijakan ini terhadap harga nikel LME di Semester I-2026, dengan mempertimbangkan elastisitas harga terhadap perubahan suplai:

Implikasi Bagi Investor Saham

Bagi para investor di Bursa Efek Indonesia (BEI), kebijakan ini adalah katalis positif yang paling dinanti. Selama dua tahun terakhir, emiten nikel terjebak dalam dilema "volume tinggi, margin rendah" akibat harga jual yang murah.

Jika skenario Base Case atau Bullish terealisasi, narasi investasi akan berubah total. Penurunan volume produksi 5-10% akan terkompensasi dengan sangat baik oleh kenaikan average selling price yang bisa mencapai 20-30%.

Hal ini akan mendongkrak margin laba bersih emiten secara signifikan, jauh lebih sehat dibandingkan mengejar volume produksi namun dengan harga jual yang berdarah-darah.

Tahun 2026 diprediksi menjadi tahun penentuan bagi posisi tawar Indonesia: apakah akan terus membanjiri pasar dengan nikel murah, atau mulai memainkan perannya sebagai "pengendali harga" demi menjaga umur cadangan nasional dan stabilitas harga jangka panjang.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular