Bukan Dukun, Ini Bukti Saham Gocap Bisa Jadi Mesin Uang: Berani Coba?
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan pasar saham pada awal tahun 2026 menunjukkan fenomena yang menarik di kalangan saham berkapitalisasi kecil. Di saat ratusan saham tertahan di level harga terendah, terdapat sebagian kecil emiten yang justru mencatatkan kenaikan harga yang sangat signifikan hingga ribuan persen.
Tim Riset CNBC Indonesia melakukan simulasi perhitungan portofolio untuk melihat peluang keuntungan dari strategi membeli seluruh saham yang berada di harga bawah. Simulasi ini bertujuan menguji apakah kenaikan ekstrem dari segelintir saham mampu menutup risiko kerugian dari mayoritas saham yang tidak berkinerja baik.
Komposisi Saham di Harga Bawah
Langkah pertama dalam riset ini adalah memetakan jumlah saham yang berada di kisaran harga Rp50 ke bawah. Berdasarkan data perdagangan awal tahun 2026, total terdapat 160 emiten yang masuk dalam kategori ini. Mayoritas saham tersebut berada dalam kondisi kurang likuid atau masuk dalam Papan Pemantauan Khusus.
Berikut adalah rincian sebaran 160 saham tersebut berdasarkan rentang harganya:
Data di atas memperlihatkan bahwa populasi saham di level harga ini cukup besar, namun memiliki risiko tinggi karena banyak yang tidak aktif diperdagangkan.
Daftar Saham dengan Kenaikan Signifikan
Meskipun didominasi oleh saham yang stagnan, data pasar mencatat adanya 16 emiten yang berhasil keluar dari tekanan harga bawah dan mencetak kenaikan di atas 1.000% pada periode ini. Saham UDNG mencatatkan kenaikan tertinggi, diikuti oleh CBRE dan BUVA.
Berikut adalah tabel kinerja 16 saham yang mencatatkan kenaikan ribuan persen tersebut:
Metode Perhitungan Simulasi
Simulasi ini menggunakan asumsi modal total sebesar Rp 16.000.000. Dana tersebut dialokasikan secara merata ke seluruh 160 saham yang ada di daftar harga bawah, sehingga setiap emiten mendapatkan porsi investasi sebesar Rp 100.000. Pendekatan ini mengabaikan analisis fundamental dan murni menggunakan probabilitas statistik.
Untuk menguji ketahanan portofolio, simulasi menerapkan skenario risiko maksimal. Diasumsikan bahwa 144 saham (atau 90% dari total portofolio) yang tidak masuk dalam daftar kenaikan di atas mengalami kegagalan total. Nilai investasi pada 144 saham ini dianggap menjadi nol atau hangus, yang mengakibatkan kerugian sebesar Rp 14.400.000.
Hasil Akhir dan Tingkat Pengembalian
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kerugian dari 144 saham tersebut dapat tertutupi oleh keuntungan dari 16 saham yang mengalami kenaikan harga signifikan. Nilai investasi awal Rp 100.000 pada saham seperti UDNG berkembang menjadi sekitar Rp 10,8 juta, dan pada CBRE menjadi Rp 5,3 juta.
Jika dikalkulasikan secara total, nilai aset dari 16 saham yang berhasil naik tersebut mencapai angka Rp 42.397.000. Dengan demikian, setelah dikurangi modal awal sebesar Rp 16.000.000, portofolio ini masih menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 26.397.000.
Secara persentase, strategi ini menghasilkan tingkat Return on Investment sebesar 165%. Angka ini menunjukkan bahwa dalam kondisi pasar tertentu, keuntungan eksponensial dari sebagian kecil saham dapat mengompensasi kerugian total dari mayoritas saham lainnya.
Foto: Infografis/ Pergerakan IHSG Sepekan/ Edward Ricardo Sianturi |
Catatan Risiko Likuiditas
Penting untuk dicatat bahwa simulasi di atas adalah perhitungan matematis di atas kertas. Dalam praktik di pasar modal yang sebenarnya, investor menghadapi risiko likuiditas.
Pembelian saham di harga rendah seringkali sulit dilakukan karena ketiadaan penawaran jual (offer), dan sebaliknya, penjualan saham untuk merealisasikan keuntungan bisa terhambat jika saham terkena suspensi atau tidak ada pembeli (bid).
Selain itu, faktor psikologis memegang peranan penting. Investor seringkali cenderung menjual saham yang sudah naik 100% atau 200% untuk mengamankan keuntungan jangka pendek.
Padahal, dalam strategi portofolio ini, keuntungan maksimal hanya bisa dicapai jika investor menahan kepemilikan saham hingga mencapai kenaikan ribuan persen untuk menutup kerugian dari saham-saham yang gagal.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Foto: Infografis/ Pergerakan IHSG Sepekan/ Edward Ricardo Sianturi