Polling CNBC Indonesia

Besok Ada Pengumuman Penting, Semoga Ada Kabar Baik

mae, CNBC Indonesia
31 August 2025 18:40
Infograrfis, Daftar Negara dengan inflasi tertinggi
Foto: Infografis/ / Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi Indonesia diperkirakan akan melandai pada Agustus 2025 seiring melemahnya harga sejumlah bahan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi.

Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data inflasi Agustus 2025 pada Senin (1/9/2025).

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 10 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) akan naik atau mengalami inflasi 0,09% secara bulanan (month to month/mtm).

Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi diperkirakan akan mencapai 2,49%. Inflasi inti diperkirakan menyentuh 2,3% (yoy).

Sebagai catatan, pada Juli 2025, inflasi melonjak hingga 0,30% (mtm) dan 2,37% (yoy). Inflasi inti menembus 2,37%.
Dengan demikian, secara bulanan inflasi akan melandai meskipun secara tahunan diproyeksi tetap naik.

Kepala ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan tekanan inflasi di Indonesia diperkirakan mereda pada Agustus 2025. Pelemahan inflasi terutama dipicu oleh turunnya harga pangan tertentu dan normalisasi biaya pendidikan setelah lonjakan musiman pada bulan sebelumnya.

Dia menambahkan sejumlah komoditas mengalami deflasi, seperti daging ayam (-0,9% mtm) dan cabai rawit (-16,7% mtm). Meski demikian, beras (+0,7% mtm) dan telur ayam (+0,2% mtm) masih mencatat kenaikan tipis.

Penurunan harga sebagian jenis BBM non-subsidi juga menekan inflasi.

Sementara itu, inflasi biaya pendidikan diperkirakan melandai, sejalan dengan pola historis tahunan.

"Inflasi Agustus juga masih dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan seperti beras, minyak goreng, daging sapi, ayam, telur, cabai merah, dan bawang," ujar Andry, kepada CNBC Indonesia.

Sementara itu, ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, mengatakan inflasi di Agustus terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan seperti beras, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur, cabai merah, dan bawang.

"Seiring dengan tahun ajaran baru, biaya pendidikan juga mengalami kenaikan. Sementara itu, sejalan dengan penurunan harga minyak dunia, harga BBM non-subsidi ikut turun," imbuhnya.

Sejumlah badan usaha penyedia Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti PT Pertamina (Persero), Shell Indonesia, BP-AKR hingga PT Vivo Energy Indonesia kompak menurunkan harga produk BBM non subsidi. Penyesuaian harga tersebut berlaku sejak pada 1 Agustus 2025.
Sebagai contoh Pertamina, untuk wilayah DKI Jakarta harga BBM Pertamax atau RON 92 turun menjadi Rp12.200 per liter dari yang sebelumnya dipatok Rp12.500 per liter.

Selanjutnya, harga Pertamax Turbo juga turun dari yang sebelumnya Rp13.500 per liter menjadi Rp13.200 per liter. Sementara harga Pertamax Green atau RON 95 juga turun menjadi Rp13.000 per liter dari yang sebelumnya Rp13.250 per liter.

Namun, harga BBM jenis solar seperti Dexlite (CN 51) justru mengalami kenaikan menjadi Rp13.850 per liter dari yang sebelumnya Rp13.320 per liter. Begitu juga dengan Pertamina Dex (CN 53) naik menjadi Rp14.150 per liter dari sebelumnya Rp13.650 per liter.



Catatan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) menunjukkan ada lonjakan harga beras dan minyak goreng.

Harga beras melonjak 0,7% menjadi Rp 15.940/kg, harga telur naik 0,04% mencapai Rp 30.251/kg, dan harga minyak goreng melonjak 0,22% menjadi Rp 20.995/kg.

Sebaliknya, harga bawang putih turun 1,91% ke Rp 40.435/kg dan daging ayam melandai 0,7% k Rp 35.830/kg.


(mae/mae)
Tags

Related Articles

Most Popular
Recommendation