Wawancara

Bos Trisula Bicara Akuisisi & Tekanan Industri Tekstil RI

Profil - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
17 September 2019 12:30
Bos Trisula Bicara Akuisisi & Tekanan Industri Tekstil RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten tekstil PT Trisula International Tbk (TRIS) menganggarkan dana Rp 600 miliar untuk mengakuisisi perusahaan terafiliasi, yakni PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL).

Dana tersebut akan diperoleh dari aksi korporasi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau
rights issue.

Kendati sudah menyampaikan rencana ini kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perseroan akan meminta persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 9 Oktober mendatang dan perkiraan tanggal efektif dari OJK pada 18 November 2019.


"Tinggal meminta persetujuan dari RUPSLB Oktober, sudah lapor OJK. Dana akuisisi kami disiapkan dari rights issue," kata Direktur Utama Trisula, Santoso Widjojo, dalam talkshow di CNBC Indonesia, Selasa (17/9/2019).

Selain rencana akuisisi, beberapa persoalan juga menjadi perhatian Santoso termasuk juga dengan tekanan di industri tekstil.

Berikut wawancara Maria Katarina bersama Santoso Widjojo di Squawk Box, CNBC Indonesia, Selasa (17/9/2019):


Bagaimana industri tekstil tahun ini?
Kita sebenarnya cukup banyak menghadapi tantangan. Secara umum masih ada pertumbuhan. Jadi selama semester 1 industri ini tumbuh di atas 10% atau tepatnya 12%. Industri ini agak menghadapi masalah dari biaya, karena kita harus fight dan compete dengan berbagai macam produk lain sehingga ada beban di biaya pemasaran. Ini wajar, karena kondisi sekarang kita bisa tumbuh

Strateginya bagaimana?
Pada dasarnya kami sudah melakukan budgeting [penganggaran, target]. Antisipasi 2019 akan menghadapi beberapa macam gejolak. Tahun 2018 kita sudah siapkan. target top line [pendapatan] tumbuh 10%. Semester 1-2019, achievement Rp 460 miliar, cukup bagus in line dengan budget.

[Laporan keuangan mencatat, pendapatan TRIS di semester I-2019 Rp 459,74 miliar, naik dari periode yang sama tahun 2018 Rp 413,58 miliar. Laba bersih naik menjadi Rp 5,11 miliar dari Rp 3,80 miliar]

Produk impor dan tekanan serta daya saing tekstil kita?
Pasar international memang cukup menghadapi tantangan. Perubahan perilaku pelanggan, dari biasa ke digital mindset dan sebagainya akan  bertambah. Namun kita tetap fight dan jeli melihatnya sehingga masih bisa akomodasi. Untuk domestik, kita ada produk buat domestik juga seperti little apparel dengan merek Jack Nicklaus, lisensi dari AS. Lalu ada lokal produk dengan merek JOBB, ini produk dari kami sendiri. Ini suite terbaik di Tanah Air.
Pasar saat ini cukup tumbuh di 2019. Persaingan cukup banyak, sehingga terjadi pergeseran dari middle class terutama milenial di mana mereka gemar melakukan kegiatan instan digital, melihat perubahan itu dan bisa memberikan ruang gerak, terhadap produk kami.

Tantangan digital ini makin kuat,apa yang diterapkan?
Salah satunya cerdik, kenapa? Di market place sudah banyak seperti Gojek, Tokopedia, Zalora, Lazada, Bukalapak, dan Shopee. Kita semua memanfaatkan itu. Salah satunya, kita dengan produk-produk tadi, memanfaatkan own store di market place itu. Namun demikian kami yakin, di samping itu, adalah produk kami bukan mereka [market place]. Kita harus aktif, cari uniknya di mana. Itu yang harus dijalankan sehingga kita punya digital platform.
Target pendapatan, laba, seperti apa?
Tantangan masih cukup berat. Kami punya keyakinan semester kedua bisnis atau iklim bisnis lebih bagus. Target pendapatan Rp 950 miliar sampai akhir tahun dan kenaikan laba 15% sampai akhir tahun.
Kontribusi pendapatan, mana yang lebih digenjot?
Kami melihat ada dua sisi. Sektor garmen dan ritel apparel fashion. Garmen international market 90-95% kapasitas. Kami tetap komunikasi dengan market dengan di luar negeri. Ada yang di sana [pihak Trisula] sudah antisipasi. Ada di Australia, Selandia Baru, Eropa, Amerika, dan kemudian Jepang, Korea, dan beberapa negara Asia, untuk ekspor garmen.

Untuk lokal, keunggulan merek kami adalah brand awareness melalui sosial media dan segala macem strategic dan smart way brand Jack Nicklaus dan JOBB, apapun di market kita harus akomodasi. Apa yang dibuat dan apa yang dijual.
Rencana ekspansi?
Itu mungkin jangka panjang. Sementara pasar Indonesia masih banyak. Populasi 250 juta penduduk dan target market di demografi level medium ke bawah young age. Mereka [pasar usia muda] selain ingin mengekspresikan diri dengan pakaian dan butuh pakaian, ini pasar yang kami bidik.
Alokasi belanja modal atau capex, untuk apa?
Untuk pengembangan ini tidak terlalu banyak. Kami selektif di garmen, membeli beberapa mesin untuk fitur baru. Untuk di ritel kami siapkan sistem yang bagus. Itu sudah kami capai 50% dari total Rp 15 miliar untuk mesin baru.
Sisanya akan menambah beberapa mesin di garmen, di ritel untuk siapkan beberapa aktivitas promosi lebih ke digital sosial media. Trik-trik di mana kami meningkatkan action. Kami sadar dari garmen punya fitur karena ini produk unggulan.

Strateginya dari sisi produk bagaimana?
Kami seperti strategi menabung. Menuai belakangan. Di semester 1, lebih banyak spending promotion, semester 2 akan mendapatkan hasil lebih bagus, untuk brand awareness. Contoh, ini untuk domestik, ekspor kami bermain suplai ke Marina Bay Sands [hotel di Singapura], kami ke American Airline, ke Airasia, jadi cukup banyak.
Strategi aksi korporasi terkait rights issue?
Aksi korporasi sebetulnya kami ingin menjadi pemain apparel lebih lengkap. Sudah lebih jelas, efisien dan melakukan strategi manufer lebih baik. Dana penerbitan saham baru [rights issue] Rp 600 miliar untuk akuisisi pabrik tekstil yang menjalankan bisnis jasa uniform [seragam]. Inilah yang akan kami bidik.

Produknya [perusahaan] yakni kain, dengan merek Bellini dan Caterini, di luar juga ada uniform, banyak klien ke korporasi dan perusahaan pemerintah. Total dana Rp 600 miliar, jadi kami harus sediakan dana itu untuk akuisisi PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL).
Prosesnya tunggu RUPSLB pada Oktober mendatang untuk approval publik. Tapi sudah lakukan prosedur dan sudah ke OJK. Kalau semua sesuai harapan, tanggal 9 Oktober [RUPSLB] di-approved, dan tunggu efektif OJK. Jadi, itu [akuisisi] akan menambah 60% dari kapasitas kemampuan TRIS.

Di dalam negeri, banyak tekanan, save guard, anti dumping, dan lainnya. Bagaimana pandangan TRIS?
Memang beberapa hal tantangan tak terhindarkan, global market dunia. Hal-hal ini harus dipikirkan dari asosiasi [tekstil] dan juga pemerintah dan para pelaku. Semua ini harus bersatu sektor industri tekstil agar efisien. Masing-masing pemain harus tahu keunggulan di mana, harus efisien dan fleksibel. ini semua harus difokuskan.
Apa yang harus dilakukan, khususnya daya saing?
Kalau tekstil Indonesia harus efisien, sehingga produk bisa kompetitif. Sebelum produk harus ada think-thank, desain, corak dan harus difikirkan dan bisa mengakomodasi permintaan pasar. Apa yang diproduksi harus bisa diserap pasar. Kalau itu terjadi, maka kontinuitas bisa tercapai.
Saya kira sangat membantu, misal salah satu pelaku di domestik, dibebankan oleh program seperti sungai bersih. Pabrik kami harus bisa membuat instalasi limbah, itu tak mudah dan perlu investasi. Serbuan produk luar negeri kita harus siap, lalu anti dumping, save guard harus bisa membantu industri tekstil lebih baik. Sangat membantu.
Apakah kemudian tekstil bisa menjadi penyokong, dari sisi pendapatan negara?
Secara umum selama kita masih membutuhkan pakaian, ekspresikan diri, melalui pakaian, demand selalu ada. Oleh karena itu hadapi serbuan produk luar negeri, maka produk dalam negeri harus diperkuat. Pelaku bisnis dan aturan, harus sejalan, pemain dalam negeri harus sadar tak bisa andalkan anti dumping. Kembali lagi skill, itu penting. Skill mindset.
Bagaimana ekspansi di Jateng?
Pada dasarnya kami sedang merencanakan itu. Tahun depan bisa bangun pabrik di Jateng. Kami sedang mencari lokasi tepat sesuai produk. Akses mana yang bagus. karena sebagian ekspor. Kalau itu sudah, maka akhir 2020 sudah mulai start produksi dan akan naik dari 20% menjadi 50%.
Dana awal pertama, internal dan eksternal, yakni total Rp 100-an miliar untuk awal.
(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading