Special Interview

Wafa Taftazani: Bangun 'Koperasi Digital' & Curi Hati Jokowi

Profil - Gustidha Budiartie, CNBC Indonesia
08 September 2019 16:42
Nama Wafa Taftazani memang belum setenar Nadiem Makarim, tapi ia sudah mencuri hati Jokowi dengan start-up yang dibangun bersama kawan-kawannya Foto: Foto/Wafa Taftazani/Gustidha Budiartie/CNBC Indonesia
Gimana ceritanya bisa ketemu Pak Jokowi, apa aja yang diceritain waktu itu?

Gue sampaikan ke beliau, waktu dia memenangkan pemilu presiden 2014 dulu adalah waktu yang sama gue menerima beasiswa LPDP.
Tadinya gue ada rencana berkarir di luar dulu untuk cari pengalaman, tapi saat itu gue lihat Pak Jokowi jadi presiden dan kita gak tahu kapan lagi punya presiden seperti dia jadi gue pikir langsung ambil kesempatan untuk pulang ke Indonesia. Tapi emang karena beasiswa LPDP juga sih, jadi kudu pulang, hahaha..

Terus gue cerita soal pengalaman gue di perbankan waktu 3 tahun bekerja di sana. Bahwa ada gap pendanaan Rp 1000 triliun untuk UMKM yang belum bisa dihandle sama perbankan formal. 

Beliau setuju, soal pendanaan bank yang konservatif dan kurang inovasi. Lalu gue cerita juga soal mendirikan Modal Rakyat, yang sama tadi gue obrolin.

Lama banget berarti ngobrolnya bareng Pak Jokowi, kalau lo sampe bisa ceritain sejarah Modal Rakyat dong?

Sekitar 2 jam kayaknya, ada 4-5 orang yang bicara. Gue alhamdulillah beruntung jadi salah satu orang yang dikasih kesempatan bicara, waktu itu gue duduk di samping Pak Pramono dan sebelahnya ada Pak Jokowi. 

Gue gak mau spekulasi sih, tapi intinya gue udah sampaikan soal apa yang terjadi dan inovasi dalam pendanaan. Sebenarnya kan sama saja, ini bisnis-bisnis tradisional tapi kita danai dengan cara inovatif lewat platform ini. 

Dari kami, siap dukung pemerintah. Saat ini kan kami fokus di inovasi pendanaan, ini lagi dikaji ke depan kami bisa gak mendanai inovasi-inovasi. Kita lagi pengen expand bisnis sebenarnya, misal bagaimana ke depannya bisa membiayain youtube channel.

Youtube itu kan ladang kreativitas dan profesi, misal ingin kembangin channel Youtube tapi gak ada modal karena gak bisa akses perbankan. Mungkin kita bisa masuk di situ. Youtube kan fenomena massif ya.

Kami gak ngomong channel-channel selebritu ya, tapi misal teatrikal kecil di suatu kampung, industri perfilman atau rumah produksi kecil-kecilan. Kalau modalnya cukup kan bisa tingkatkan konten mereka. 

Inovasi kan selalu hadir lebih dulu dibanding regulasi, gimana nanti cara lo meyakinkan bahwa Youtube adalah jenis usaha?

Iya itu memang tantangannya, tapi mata Pak Jokowi tampaknya berbinar kemarin waktu kami bilang bisa memberi akses modal ke Youtuber dan Gamers.

Di situ gue lihat, beliau memang concern sama dunia baru ini yang penuh kreativitas dan digitalisasi.Pendanaan ini harus bisa empowering, jangan sampai terblock sistem. Sementara kita tahu ada ekosistem yang terus tumbuh meledak-ledak penuh ide, tapi gak bisa berkembang karena sulit dapat modal. 

Kita juga memikirkan bagaimana kalau hak kekayaan property itu bisa dijadikan aset gak kira-kira untuk ajukan pinjaman? Jadi ini, kita coba antisipasi. 

Apa sih sebenarnya yang diminta Pak Jokowi ke kalian yang datang ke istana waktu itu?

Sebenarnya beliau gak minta apa-apa, tapi sharing uneg-uneg aja karena pertumbuhan ekonomi kita kan sedang seperti ini. Bagus tapi bisa lebih cepat. Dia cerita tuh soal pertemuannya dengan Uni Emirat Arab, yang sama di berita-berita juga.

Pak Jokowi merasa dengan bantuan anak muda dan teknologi harusnya ekonomi bisa tumbuh lebih cepat, dan sebenarnya anak-anak muda yang hadir itu dari berbagai macam sektor. Ada pendanaan, ada teknologi. 

Oh, jadi gak semuanya Start-Up ya?

Gak semuanya, ada yang dokter yang banyak mengabdi di Indonesia Timur. Banyak yang lain sih, ada politisi muda juga. Sekitar 20 orang, akademisi juga ada. 

Itu diundang Istana bagaimana?

Jadi, kami semua kan bergabung dalam organisasi Inovator 4.0, inisiatif bareng-bareng. Ada Mas Budiman Sudjatmiko di sana, kita kumpul dari berbagai latar belakang dan sudah berkarya di bidang masing-masing, tapi ini tidak terafiliasi dengan politik. Intinya kami ingin bantu pemerintah dengan kemampuan yang ada supaya lebih maju. 

Kapan terbentuknya Inovator 4.0?

Agustus 2018, waktu itu kami sama-sama ada koneksi Cambridge, Oxford juga, Harvard juga ada. Lalu kami sekarang ada 300 orang lebih, dari berbagai macam background. 

Konkritnya setelah bertemu dengan Pak Jokowi apa?
Yang pasti sih sekarang bagaimana karya-karya kami di bidang masing-masing bisa dukung pemerintah buat Indonesia. Apa yang bisa kita lakukan, bisa tanya ke yang lainnya juga. Gak ada instruksi apa-apa juga. 

Dengan kondisi begini, menurut lo Indonesia sudah siap belum sih loncat ke revolusi industri 4.0?
Begini, jalan ke beberapa daerah di Indonesia aja masih ada yang 1.0. Konsekuensi dari 4.0 ini adalah akan ada otomasi. Parkir misalnya, kasir diotomasi, tol. Nah siap gak kita kehilangan pekerjaan-pekerjaan tersebut?

Masih banyak pekerja Indonesia yang bergerak di sektor yang bisa diotomasi suatu saat, mudah digantikan dengan mesin atau robot. Kalau tiba-tiba ada puluhan juta yang menganggur kan repot juga konsekuensinya.

Jadi untuk menjawab 4.0 ini ini perlu bertahap, kita harus hadirkan dulu SDM yang bisa memiliki keahlian atau skill dan juga problem solving. Ini tantangannya. Ini juga kami sampaikan waktu itu, artinya harus ada pembenahan jangka panjang. Mulai dari pendidikan dulu.
(gus/gus)
HALAMAN :
1 2
Artikel Selanjutnya

Bakamla Buka-bukaan Soal Kecurangan China di Laut Natuna

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading