Wawancara

Bos Reliance Capital 'Curhat' Rencana IPO & Bisnis Fintech

Profil - Syahrizal Sidik , CNBC Indonesia
02 July 2019 15:48
Bos Reliance Capital 'Curhat' Rencana IPO & Bisnis Fintech Foto: Joel Hogarth, Group CEO RCM/Screensot video Reliance
Jakarta, CNBC Indonesia - Induk usaha Grup Reliance, PT Reliance Capital Management (RCM) berencana melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini melalui mekanisme penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).

Group CEO Reliance Capital Management Joel Richard Hogarth menyatakan, RCM berencana melepas 15% saham kepada publik dengan target raihan dana IPO sekitar Rp 700 miliar.

Joel menyebut, dengan aksi korporasi itu, nilai kapitalisasi pasar atau market capitalization RCM diperkirakan akan mencapai sebesar US$ 300 juta, atau sekitar Rp 4,26 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.200/US$. Rencananya, perseroan akan melantai di BEI pada kuartal keempat tahun ini.

Saat ini, proses audit laporan keuangan perseroan diperkirakan akan rampung dalam waktu dekat ini.

Dana yang diperoleh dari pasar modal akan dipakai untuk pengembangan unit bisnis anak usaha Reliance Capital Management yang bergerak di lima unit bisnis yakni asuransi jiwa, asuransi umum, asuransi kesehatan, multifinance dan sekuritas.


Jika jadi IPO tahun ini, maka perseroan akan menyusul anak usahanya yang lebih dahulu tercatat di BEI yakni PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI) yang bergerak di bisnis pialang saham atau broker dan penjamin emisi (underwriter).

Selain Reliance Sekuritas, grup yang didirikan pada tahun 2003 ini juga disokong beberapa anak usaha lain di antaranya PT Asuransi Jiwa Indonesia (asuransi jiwa), PT Asuransi Reliance Indonesia (asuransi kerugian), PT Usaha Pembiayaan Reliance Indonesia (pembiayaan), Reliance Modal Ventura (modal ventura), dan PT Bank Kesejahteraan Ekonomi.

April 2019 lalu, Reliance Group juga resmi menjadi sponsor bagi klub sepak bola Persebaya Surabaya.

Tahun ini, perseroan membeberkan rencana bisnis yang akan digeber, 
termasuk mengintegrasikan layanan perusahaan melalui e-walet bertajuk RELI.ID, aplikasi fintech yang dikembangkan bersama Finnet, anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). E-walet tersebut ditargetkan akan diluncurkan Agustus mendatang.


Tidak hanya itu, Reliance Sekuritas juga memaparkan strategi investasi pada semester kedua di tengah proyeksi meredanya ketegangan perdagangan antara AS-China, dan tren penurunan suku bunga acuan bank sentral global.

Bos Reliance Capital Buka-bukaan Rencana IPO & Bisnis FintechFoto: Joel Hogarth, Group CEO RCM/Syahrizal Sidik/CNBC Indonesia


CNBC Indonesia
berkesempatan mewawancarai Joel Richard Hogarth, didampingi Wilson Sofan, Director Business Development Reliance Sekuritas Indonesia, saat acara paparan publik di Jakarta, Jumat pekan lalu (28/6/2019) di kantor Reliance Sekuritas, Pluit, Jakarta Utara.

Berikut kutipannya wawancaranya:


Seperti apa fokus rencana kerja Reliance Sekuritas Indonesia di tahun 2019?
Dari bisnis ekuitas (saham), kami akan merestukturisasi dan merevitasliasi kanal distribusi dan jaringan pemasaran grup dengan melakukan pembaruan operasional cabang, juga kembali me-rebrand di masing-masing cabang.

Kami juga berencana menambah keaktifan nasabah institusi, saat ini dengan 17 cabang, kami masih banyak bergerak di investor ritel. Kami ingin mulai meningkatkan porsi nasabah institusi.

Untuk bisnis pendapatan tetap atau fixed income, kami akan aktif menjadi agen penjual Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dan sukuk. Kami ingin memperkenalkan fixed income ke nasabah ritel, karena investor institusi sudah jenuh.

Saat ini sistemnya sudah dibangun, kami harapkan di akhir 2019 bisa mulai paling tidak mendistribusikan trading fixed income untuk ritel di nasabah Reliance.

Adapun untuk investment banking, tahun ini kami menargetkan ada tiga penjamin emisi (underwriting), salah satunya grup kami sendiri, lalu ada dua di pipeline, dan ini akan lebih aktif sindikasi dengan underwriter lain.

Selain itu kami ikut sindikasi dalam 20 IPO [penawaran perdana saham, initial public offering], karena dalam beberapa tahun terakhir tidak ikut serta dalam sindikasi, dengan adanya tim yang sudah kembali aktif kita berharap bisa lebih aktif ikut sindikasi, karena target bursa untuk IPO tahun ini kurang lebih 100 emiten, di mana 2018 kemarin ada 65 emiten melakukan IPO.

Terakhir, fokus meningkatkan infrastruktur dengan menambah kapasitas server untuk mencegah terjadinya lagging atau hal yang mengganggu sistem online trading dan terus menyempurnakannya.


Di pipeline saat ini ada dua mandat IPO, perusahaan di sektor apa?
Dua-duanya [calon emiten] di sektor manufaktur, keduanya di papan pengembangan, kami belum bisa sebut detail, prosesnya sudah 80 persen, kami belum menerima mandatnya. Tapi, kami sudah due diligence [uji tuntas], kami sudah visit, yang satu itu di Jawa Tengah, yang satu di Jawa Barat. Sektornya itu kayu dan alat kesehatan.

Berapa target emisi yang digalang dari dua perusahaan yang akan IPO tersebut?
Masih di bawah Rp 50 miliar, di papan pengembangan.

Apa yang menjadi penyebab Reliance vakum cukup lama menjadi underwriter?
Investment banking ini baru aktif di 2019 ini karena memang timnya baru ada di tahun ini, jadi setelah vakum mungkin dari terakhir IPO PT Inovisi Infracom Tbk, kalau tidak salah 2006 atau 2007. Jadi setelah sekian lama, mulai kembali aktif lagi underwriting di tahun ini.

[Inovisi IPO pada 3 Juli 2009 dengan melepas 320 juta saham dengan harga Rp 125/saham, namun perusahaan akhirnya didepak dari BEI alias delisting pada 23 Oktober 2017 setelah sebelumnya saham perusahaan dihentikan perdagangannya atau suspensi]

Berapa nilai investasi yang digelontorkan tahun ini untuk memperbaiki infrastruktur trading?

Belanja modal tahun ini tidak signifikan, untuk peningkatan IT [informasi teknologi], sebesar 5 persen dari total aset kita, nilanya sekitar Rp 20 miliar. Alokasinya untuk penambahan server, pengembangan online trading.

Sumber dananya dari internal atau terbuka opsi lain?
Masih dari internal. Mungkin ada rencana bisa macam-macam, bonds [penerbitan obligasi] dan sebagainya.

Tahun lalu kinerja Reliance Sekuritas masih rugi karena write-off, bagaimana proyeksi tahun ini?
Jadi memang yang mengganjal saat ini adalah kasus PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP) yang di-delisting, kalau itu memang selesai, artinya tidak ada write-off [penghapusbukuan], tidak allowance di tahun ini, kami optimistis mendekati angka Rp 30 miliar, nett profit kami bisa capai. Sampai Juni saja kami sudah Rp 15 miliar nett profit.

[Sekawan delisting dari BEI pada 17 Juni 2019 setelah lama disuspensi sejak 9 November 2015. Reliance Sekuritas menjadi salah satu broker yang bersengketa dengan broker lain, terkait dugaan perdagangan semu dan gagal bayar saham Sekawan, BEI ketika itu menjadi mediatornya]

Bagaimana proyeksi Reliance mengenai kinerja pasar saham domestik di semester kedua?
Penurunan suku bunga itu tidak terelakkan, karena AS pasti akan mulai menurunkan suku bunga dan Bank Indonesia pasti akan ikuti langkah The Fed [bank sentral AS, Federal Reserve] saja kok.

Karena kenaikan suku bunga kemarin menjaga capital outflow [aliran modal keluar] jadi saya melihat dengan keputusan Mahkamah Konsitusi kemarin malam [menolak gugatan sengketa Pilpres 2019], artinya dengan pemerintahan Jokowi lanjut di periode kedua ini, artinya dia pun akan lebih all out untuk Indonesia, saya yakin karena semua kebijakan itu pro pertumbuhan, meningkatkan ekonomi Indonesia.

Kemarin, dia sudah meningkatkan standar dari range pajak untuk pajak barang mewah, itu menjadi salah satu sinyal Jokowi akan lebih maksimal dalam meningkatkan kinerja ekonomi Indonesia, meningkatkan infrastruktur yang selama 5 tahun terakhir belum disentuh, misalnya infrastruktur gas. Makanya bisa dilihat, sektor-sektor energi kelihatannya agak menggeliat, batu bara, gas. Ini saya lihat akan menjadi potensi fokus Jokowi.

Sektor-sektor apa saja yang terdampak penurunan suku bunga dan bagaimana strategi investasi yang tepat?
Pastinya nomor satu terkait ini sektor keuangan menarik, karena apa, harapannya dengan suku bunga turun, suku bunga pinjaman yang diberikan kredit konsumer tentunya pasti akan meningkat, otomatis bank punya kemampuan menyalurkan cash ke publik. Margin bunga bersih [net interest income] juga akan naik.

Itu akan berantai ke sektor-sektor lain, misalnya properti, yang kita tahu sudah 8 tahun diam, tertidur, kita harapkan kalau momentum suku bunga itu direspons investor, bisa rebound.

Hanya kita harus memilah, sektor properti sekarang yang lebih ramai menyasar kelas menengah ke bawah, apartemen sederhana, rumah murah, dan lain lain, ini yang bisa menjadi fokus awal untuk investor. Saya sebut beberapa perusahaan, seperti PPRO [PT PP Properti Tbk] akan sangat menarik. Apartemen yang di pinggir LRT [Light Rail Transit], itu tentunya akan sangat menarik.

Mungkin yang lain turunannya lagi, dengan konsumer kredit, suku bunga konsumen, tentunya ya otomotif. Itu turunannya banyak, kalau properti ke emiten industri dasar seperti semen. Kalau otomotif ke spare part. Spare part turunannya apa, baja.

Dari sekitar 15.000 nasabah Reliance Sekuritas, saat ini berapa jumlah yang aktif melakukan transaksi?
Saat ini di kisaran 8.000 nasabah aktif, kami berharap bisa menambah jumlah nasabah aktif. Sebagian besar nasabah kami adalah mahasiswa, tadi kami berharap dengan produk fintech dari grup kami, ini bisa meningkatkan nasabah.

Kami pun sedang berinovasi bagaimana memberikan layanan yang sifatnya milenial, saya belum sebut ini sedang kami pikirkan. Servis milenial.


Ada kabar mengenai rencana induk perusahaan IPO, RCM. Apa benar target dana Rp 4,6 triliun?
Saya ralat ya, kalau kami proceed-nya itu sekitar 15% [saham dilepas ke publik], setara kisaran Rp 700 miliar. Besaran US$ 300 juta [seperti yang diberitakan DealstreetAsia] adalah target nilai kapitalisasi pasar.
 

Kapan rencananya?
Tahun ini.

Kemungkinan melantai di BEI di kuartal III atau IV?
Kemungkinan akan melantai di kuartal IV-2019.

Prosesnya sudah sampai mana?
Saat ini sedang dalam proses audit, dan kami harapkan audit dari masing-masing bisnis unit selesai 2-3 pekan, setelah itu audit holding-nya.

Dana hasil IPO Rp 700 miliar akan dipakai apa saja?
Kami punya rencana yang besar. Saat ini kami memiliki lima unit usaha yang akan dikembangkan, life insurance, general insurance, health insurance, multifinance, dan sekuritas.

Kami juga berencana masuk ke bisnis Fintech, nama Fintechnya RELI.ID.

Jika mengacu World Bank, inklusi keuangan itu harus mencakup empat hal, harus ada payment, pinjaman. simpanan dan asuransi. Kami punya empat fitur itu, sudah memenuhi inklusi keuangan menurut World Bank.

Mengenai fintech, saat ini masih kami dalam tahapan uji coba internal dengan pegawai, kami mau meyakinkan semua bisa berjalan lancar, grand launching kemungkinan Agustus 2019.

Sudah terdaftar di OJK?
Sudah, ada lima perusahaan kami yang mempunyai izin OJK, kami memiliki asuransi jiwa, asuransi, usaha pembiayaan, manajer investasi dan sekuritas. Saat ini, dalam proses mengintegrasikan lini bisnis tersebut dengan e-walet, prosesnya sudah hampir komplet.

Bentuknya fintech RELI.ID itu e-walet atau Peer to Peer lending?
E-walet yang mengintegrasikan kredit syariah, simpanan, aset manajemen sederhana dan asuransi. Semua produk itu ada dalam satu paket. One stop financial.

Kami harapan sebelum akhir tahun sudah ada 10 universitas yang terima produk kami, mahasiswa bisa mendapatkan asuransi kesehatan, pinjaman untuk laptop, impact lending untuk membantu mereka, juga asuransi jiwa, kecelakaan atau meninggal dunia.


(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading