Wawancara Eksklusif

Dubes Belanda Bicara Sawit RI, Startup, hingga Ibu Kota Baru

Profil - Prima Wirayani & Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
17 May 2019 13:34
Dubes Belanda Bicara Sawit RI, Startup, hingga Ibu Kota Baru
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia dan Belanda memiliki latar belakang dan sejarah yang unik dan hal tersebut membuat hubungan kedua negara semakin erat dan dinamis. Eratnya hubungan kedua negara tampak dari berbagai kerja sama, mulai dari ekonomi, budaya, pendidikan, hingga infrastruktur.

Sebagai negara kecil dengan hasil pertanian terbesar kedua di dunia, Belanda membantu Indonesia mengembangkan sektor pertanian. Tak hanya itu, bagi Belanda, Indonesia juga merupakan salah satu tujuan investasi utama di Asia.

Jurnalis CNBC Indonesia, Rehia Sebayang dan Prima Wirayani, berkesempatan berbincang dengan Duta Besar Belanda untuk Indonesia Rob Swartbol, Kamis (17/5/2019), di Erasmus Huis, Kantor Kedutaan Belanda di Jakarta. Dalam kesempatan itu, Swartbol berbicara mengenai hubungan ekonomi kedua negara, termasuk strategi pengembangan startup di negaranya dan rencana Presiden Joko Widodo untuk memindahkan ibu kota ke luar Jawa.

Berikut petikan wawancara tersebut.


Bisakah Anda jelaskan sedikit mengenai hubungan bilateral Indonesia dan Belanda?

Kita telah bekerja bersama untuk waktu yang lama dan dalam beberapa tahun terakhir telah semakin meningkatkan hubungan. Selalu ada naik dan turun dalam relasi kita seperti yang tercermin di masa lalu. Kita bekerja sama dalam banyak sektor sekarang, utamanya dalam hubungan antar-penduduk (people-to-people).

Banyak orang Indonesia pergi ke Belanda, dan orang Belanda ke Indonesia. Saya pikir itu yang terkuat dalam hubungan kita. Namun, secara politik hubungan kita juga baik. Menteri kita sering bertemu. Secara ekonomi hubungan kita juga sangat bagus. Ya, saya bangga dengan hubungan kita.



Sudah seperti apa hubungan ekonomi Indonesia-Belanda?

Kita sudah melakukannya dengan baik. Saya rasa kita selalu bisa melakukannya lebih baik lagi. Kami sangat aktif dalam mencoba mempererat hubungan ekonomi Indonesia dan Belanda. Di sektor agrikultur, kesehatan, membangun pelabuhan, pembangunan kapal. Juga, dalam sektor barang konsumsi, Heineken, Philips, Unilever, banyak perusahaan kami memproduksi dan menjual produknya di Indonesia.

Hal yang paling penting dalam hubungan ekonomi di antaranya adalah perdagangan dan investasi. Dalam hal investasi kami melakukan dengan sangat baik. Kami menjadi negara Eropa dengan jumlah investasi terbesar di Indonesia. Biasanya masuk dalam lima besar, 10 besar investor di Indonesia di dunia.

Perlu Anda tahu, Indonesia lebih banyak mengekspor ke Belanda ketimbang sebaliknya. Jadi, berita baiknya, Indonesia surplus dalam perdagangan. Tapi itu juga membuat kami terpacu untuk mengekspor lebih banyak produk ke Indonesia.

Dubes Belanda Bicara Sawit RI, Startup, hingga Ibu Kota BaruFoto: Dubes Belanda untuk Indonesia Rob Swartbol (CNBC Indonesia/Prima Wirayani)

Hubungan baik kita juga tercermin dari banyaknya orang Belanda yang merasa nyaman untuk tinggal di Indonesia, dan juga ada banyak komunitas Indonesia yang tinggal di Belanda. Keluarga saya juga mengetahui tentang Indonesia. Indonesia sejatinya adalah habitat alami untuk orang Belanda.

Satu yang menarik, kami melihat Indonesia sebagai pusat (hub) untuk melakukan bisnis di Asia Tenggara, sementara Indonesia melihat Belanda sebagai gerbang masuk ke Eropa. Di pelabuhan besar kami, Rotterdam, ada banyak sekali impor dari Indonesia masuk ke Belanda. Juga jika melihat secara geografis, kita adalah rekan secara alami.


Adakah masukan dari Anda agar pertanian Indonesia bisa semaju Belanda?

Luar biasa memang menyadari Belanda adalah penghasil produk pertanian terbesar kedua di dunia. Amerika Serikat (AS) adalah yang terbesar di dunia, tapi ukuran AS adalah 270 kali ukuran Belanda. Tapi kami adalah negara kecil yang memiliki hasil pertanian yang besar. Kuncinya di sini adalah inovasi.

Kami tidak punya banyak lahan, jadi kami mengasah diri kami untuk memiliki banyak hasil produksi dari mengolah lahan yang kecil. Itulah hal yang ingin kami bagi dengan Indonesia. Indonesia adalah negara yang sangat luas, besar, tapi kalau kita lihat produktivitasnya, ini jelas bisa meningkat. Kita bisa mendapatkan lebih banyak susu dari sapi, buah, dan lainnya.

Dalam hal di mana Belanda lebih baik ini, kami sudah berbagi dengan Indonesia, di berbagai bidang seperti peternakan, biji-bijian, perikanan. Kami terus ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman kami dengan Indonesia.


Apakah kerja sama ini sifatnya antar-pemerintah atau dunia bisnis juga terlibat?

Keduanya. Kami punya banyak universitas yang bekerja bersama dalam hal ini. Kami juga punya kampus agrikultur yang sangat terkenal di dunia, Wageningen, salah satu kampus agrikultur terbaik dunia. Kami mengadakan konferensi, dan merombak kurikulum untuk dua SMK, untuk melatih pelajarnya dalam bidang agrikultur. Kami mengerjakannya dengan lembaga yang dinaungi Presiden Joko Widodo, dan juga secara business-to-business.

Perusahaan Belanda juga memproduksi biji-bijian terbaik dunia, dan menjualnya ke petani Indonesia. Jadi, government-to-government dan business-to-business.


Seberapa besar investasi Belanda di Indonesia?

Saya tidak ingat angkanya sejauh ini, tapi biasanya investasi Belanda (ke Indonesia) bernilai US$2 miliar-US$3 miliar setahun. Ini terbagi di berbagai sektor mulai dari infrastruktur, pertanian, dan banyak lagi. Tahun lalu saya pikir Belanda berinvestasi di lebih dari 800 bidang di Indonesia. Kadang perusahaan Indonesia juga berinvestasi di Belanda dan sebaliknya.

Contohnya, kilang salah satu perusahaan penghasil minyak sawit, dan mereka menyuling minyak sawit di Belanda, bukan di sini. Jadi dari dua sisi. Tapi yang jelas kami mau terus berekspansi karena seperti yang saya bilang tadi, kami suka cara Indonesia, sebagai seorang investor.

Dari beberapa segi, jika melihat hal kemudahan dalam berbisnis (EoDB) Indonesia masih terus membaik dan begitu juga di masa depan, bagi kami Indonesia terus menarik sebagai tempat berinvestasi.

Dubes Belanda Bicara Sawit RI, Startup, hingga Ibu Kota BaruFoto: Dubes Belanda untuk Indonesia Rob Swartbol (CNBC Indonesia/Prima Wirayani)


Apakah investasi terus dilakukan di sektor barang konsumsi saja?

Saya menyebut barang konsumsi karena ini lebih mudah dan juga lebih menjual. Saya pikir infrastruktur maritim adalah prioritas dalam pemerintahan Jokowi. Jadi jika Jokowi menang, ia akan kembali fokus di sini. Investasi maritim termasuk membangun pelabuhan, kapal laut, dan lainnya. Belanda sangat baik dalam hal ini. Sektor pertanian juga. Masih banyak yang bisa kami jajal di sektor agrikultur, jadi kami akan mencoba setiap kesempatan.


Mengenai NCICD, perkembangannya seperti apa?

Sebenarnya ini adalah proyek yang agak sedikit membingungkan. Sebenarnya yang Belanda lakukan, bersama-sama dengan Korea Selatan, adalah memberi saran kepada pemerintah Indonesia. Seperti bentuk bantuan untuk laut Jakarta, tetapi juga beberapa laut seperti yang di Semarang, bahwa tingkat air laut di beberapa area ini semakin tinggi dan tinggi saja karena perubahan iklim.

Banjir juga menjadi masalah utama. Bukan hanya dari laut tapi juga dari sungai. Beberapa daratan terus tenggelam seperti di Jakarta, yang tenggelam sekitar 14-15 cm setiap tahunnya. Di Belanda kami punya banyak pengetahuan tentang masalah ini karena kami mengalaminya.

Jadi, yang kami lakukan adalah memberi masukan kepada pemerintah Indonesia tentang apa yang mereka bisa lakukan untuk meningkatkan kualitas kanal, cara mengalirkan air bersih ke kota, bagaimana cara mendapatkan air dari dalam tanah. Itu semua langkah yang bisa dilakukan Jakarta untuk, misalnya, mencegah banjir.

Jika semua langkah itu tidak berhasil, itu bagian dari NCICD, mungkin perlu membangun bendungan besar di laut karena ketinggian air laut terus meningkat. Namun, semua langkah ini belum dilakukan sama sekali.

Ini semua tergantung parlemen, tergantung presiden. Jadi, kami bekerja bersama pihak asing dan Kementerian PUPR untuk memutuskan apa yang terbaik bagi Indonesia untuk menyelesaikan masalah dalam mengelola air.


Jadi Belanda hanya memberi saran?

Kami memberikan nasihat, tapi jika dibutuhkan kami juga sudah membangun beberapa konstruksi. Ada juga perusahaan konstruksi dan perusahaan teknik sipil yang bisa melakukan lebih, tapi itu semua tergantung pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah apapun yang dibutuhkan.


Mengenai pelarangan penggunaan minyak kelapa sawit, apa tanggapan Belanda?

Pertama-tama, yang dilakukan Eropa bukanlah melarang penggunaan minyak kelapa sawit dari Indonesia. Yang dilakukan UE adalah lebih kepada masalah sustainability dan pembukaan hutan. Ada level berkelanjutan tertentu untuk minyak kelapa sawit yang digunakan di Eropa.

Meski membingungkan ini bukan masalah pelarangan. Kami tahu masalah minyak kelapa sawit adalah hal yang sangat sensitif di Indonesia. Tahu banyak orang yang bergantung pada sektor kelapa sawit. Banyak perusahaan kecil utamanya.

Jadi apa yang kami lakukan dengan Indonesia adalah untuk terus mengawasi Indonesia agar sesuai dengan arahan untuk membuat produksi minyak kelapa sawit lebih berkelanjutan.

Jadi masih memungkinkan untuk Indonesia untuk mengekspor kelapa sawit ke Eropa ke semua bidang di masa depan.

Dan seperti yang kami lakukan di masa lalu, kami memberi saran kepada perusahaan, kepada pemerintah, tapi kami juga kerja nyata dan akan segera melakukan lagi sebuah program baru bersama dengan pemerintah Indonesia, bernilai 25 juta euro, untuk membuat produksi kelapa sawit yang lebih berkelanjutan.

Ada gerakan di Eropa di mana konsumen tidak mau lagi menggunakan produk yang tidak ramah lingkungan. Bukan hanya kelapa sawit, tapi banyak juga hal lainnya. Dan upaya itu membuat kami harus mendengar mereka.

Jadi membuat produksi kelapa sawit yang berkelanjutan akan menguntungkan Indonesia dan juga baik bagi ekspor ke Eropa.

Dubes Belanda Bicara Sawit RI, Startup, hingga Ibu Kota BaruFoto: Dubes Belanda untuk Indonesia Rob Swartbol (CNBC Indonesia/Prima Wirayani)


Bisa Anda jelaskan lebih lanjut mengenai program pemerintah Belanda dengan Indonesia tersebut?

Misalnya, Anda bisa lebih meningkatkan produksi minyak kelapa sawit. Apabila Anda bisa mendapat lebih banyak buah kelapa sawit, maka Anda mungkin tidak perlu lagi membuka hutan.

Selain itu pohon sawit juga tumbuh di lahan gambut. Sementara itu di Belanda kami juga memiliki lahan gambut sehingga kami tahu bagaimana mengolah lahan gambut dan bagaimana menghindari penurunan kualitas lahan gambut karena itu tidak akan bisa digunakan lagi untuk lahan kelapa sawit.

Jadi itulah beberapa contoh yang bisa kalian dapatkan dari pengalaman kami dan untuk meningkatkan produktivitas, dan skala produksi, dan juga meningkatkan buah di kelapa sawit, dan kualitas, serta penggunaan lahan bisa dikurangi.


Jadi kapan proyek ini dijalankan?

Ini sudah dimulai tahun ini atau mungkin tahun depan. Kami juga telah mengerjakan proyek serupa dengan pemerintah Indonesia dan dengan perusahaan Indonesia, dan ini merupakan program pemerintah dan perusahaan.


Dalam hal transportasi, Belanda lebih bagus daripada Indonesia. Kira-kira apa yang bisa dilakukan Indonesia untuk lebih maju dalam sektor transportasi?

Saya pikir salah satu alasan mengapa Belanda lebih sukses dalam hal ini adalah karena Belanda adalah negara yang kecil. Lebih mudah untuk memiliki sistem transportasi publik yang baik. Sementara itu Indonesia adalah negara yang luas.

Hal lainnya di balik kesuksesan transportasi publik di Belanda adalah pendekatan integral dalam sektor transportasi. Itu berarti bus metro dan transportasi lainnya saling terhubung. Jadi konektivitas antara setiap transportasi publik di Belanda sangat luar biasa.

Jadi begitu Anda keluar dari kereta, Anda bisa dengan mudah menemukan bus Metro dan transportasi lainnya untuk menuju ke tempat tujuan anda.

Saya juga percaya transportasi di Jakarta, Indonesia bisa terus berkembang. Saya tahu kita bisa menemukan Gojek atau Grab begitu keluar dari kereta, tapi tetap saja keterhubungan antara jenis transportasi yang berbeda kurang baik. Walaupun begitu, MRT saat ini terus dikembangkan.

Saya yakin Indonesia atau Jakarta sebagai sebuah kota bisa meningkatkan hal itu. Saya juga tahu saat ini Indonesia sedang mencoba untuk menyambungkan semua transportasi publik yang ada. Ini bukan sebuah rahasia lagi. Ini sudah dikerjakan.


Mengenai penggunaan sepeda di Belanda apakah ini digunakan di seluruh negara atau hanya di kota-kota tertentu?

Sepeda digunakan di semua wilayah Belanda. Seperti sebuah tradisi, orang bepergian menggunakan sepeda. Kami tidak melihatnya di sini. Saya pikir sepeda di sini digunakan untuk orang-orang yang menjual kopi dan juga untuk senang-senang di akhir pekan.

Di Belanda kami menggunakannya sebagai salah satu moda transportasi. Meskipun cuaca di Belanda buruk, banyak hujan, tapi orang-orang Belanda masih suka bepergian menggunakan sepeda.

Saya tahu cuaca lebih hangat di sini. Tapi di Belanda kami juga memastikan infrastruktur, memastikan keamanan orang-orang yang berkendara menggunakan sepeda. Jika Anda ingin bepergian menggunakan sepeda di Jakarta, sebenarnya ini sangat berbahaya. Banyak mobil dan motor di jalanan.

Di Belanda punya jalan sepeda yang berbeda. Ini dibuat khusus untuk orang-orang yang ingin bepergian menggunakan sepeda, jadi aman.

Saya punya sepeda di sini. Tapi saat saya bepergian menggunakan sepeda, orang-orang melihat saya dengan tatapan agak aneh, orang berkulit putih besar naik sepeda. Sebab ini bukan kebiasaan yang dilakukan orang Indonesia.

Tapi saya akan mengajak orang untuk lebih sering menggunakan sepeda karena ini sehat, dan cepat.


Bisakah Anda jelaskan sedikit mengenai keterbukaan dan budaya, serta perlindungan hak asasi manusia di Belanda?

Ya, Belanda adalah negara yang sangat terbuka. Seperti yang kita ketahui Belanda terletak di antara negara-negara besar seperti Jerman, Prancis, dan Inggris, dan kami dekat dengan laut. Jadi kami memiliki banyak pengunjung dari negara lain yang datang ke Belanda.

Meski kami negara kecil tapi kami banyak keuntungan dari mereka. Jadi secara tidak langsung hal itu membuat Belanda lebih terbuka menerima hal-hal baru. Itu seperti sifat keterbukaan secara alami.

Yang kedua karena kami adalah negara kecil, kami tidak bisa menguasai dunia hanya dengan nilai-nilai kami dan juga norma-norma kami. Jadi kami sangat bekerja keras dan mendukung sistem multilateral hukum internasional yang kuat. Hak asasi manusia termasuk ke dalamnya.

Jadi dari dua hal berbeda itu, kami sangat mendukung hak asasi manusia karena itu sangat membantu negara kami sebelumnya. Kami harap kami dapat berbagi dengan negara lainnya.

Dubes Belanda Bicara Sawit RI, Startup, hingga Ibu Kota BaruFoto: Dubes Belanda untuk Indonesia Rob Swartbol (CNBC Indonesia/Prima Wirayani)


Bagaimana pandangan Anda mengenai perayaan Ramadan di Indonesia?

Ramadan, di Belanda juga merayakan Ramadan. Kami punya komunitas Muslim yang besar di Belanda. Meskipun tidak sebesar di sini.

Ramadan adalah bulan yang dirayakan umat Muslim. Kami menghormati itu. Lihatlah orang-orang yang berpuasa, tetap ramah, menahan lapar dan bekerja, itu tidak mudah. Tapi itu datang dari kemauan mereka di dalam hati dan menunjukkannya sebagai bagian dari kepercayaan mereka. Ini sangat penting dan mereka melakukannya, berkomitmen pada agama mereka untuk tidak makan dan minum sepanjang hari.

Dan saat matahari terbenam mereka melakukan buka puasa, iftar, dan berkumpul bersama teman-teman lainnya, umat Muslim berkumpul bersama, makan bersama, itu luar biasa.


Mengenai startup, seperti yang kita tahu banyak sekali startup yang sedang berkembang di Indonesia. Bagaimanakah gambaran mengenai startup di Belanda sendiri?

Tentu. Kami terdaftar sebagai ekonomi paling inovatif kedua di dunia. Pertumbuhan startup di Belanda sangat aktif. Kami memiliki lebih dari 5000 saat ini. Inovasi juga yang mendasari pemerintah, universitas, serta sektor privat untuk bekerja bersama-sama dalam hal ini.

Di Belanda banyak sekali universitas yang sudah diawasi oleh perusahaan-perusahaan yang ingin mempekerjakan lulusan ya. Jadi ada sebuah kampus seperti kota kecil tempat siswa-siswa cerdas yang pengetahuannya tidak hanya digunakan mengembangkan kebijakan, tapi juga untuk membangun start-up, perusahaan teknis atau perusahaan lain.

Pemerintah juga sangat mendukung itu secara aktif. Kami menyebutnya start-up Delta, di dalamnya adalah sekelompok orang dengan high profile yang mencoba untuk menstimulasi startup, yang juga memiliki hubungan dengan banyak negara luar.

Sebagai contoh misalnya dalam sektor agrikultur, banyak perusahaan inovatif kecil dibangun, yang mana akan memimpin teknik, mereka tumbuh dengan cepat menjadi unicorn, decacorn seperti yang Anda miliki sekarang.

Di Belanda banyak startup yang tumbuh dengan cepat. Seperti booking.com itu merupakan startup asal Belanda, dan banyak lagi.

Saya pikir ada dua sampai tiga kategori yang masuk dalam teknik, satu misalnya agrikultur, kedua di bidang layanan seperti booking.com. Anda tahu startup ini menggunakan teknologi digital untuk melakukan bisnis. Saya pikir itu adalah dua area yang paling banyak startup.


Apa langkah yang diambil pemerintah Belanda untuk mengembangkan startup ini? Apakah memberi subsidi atau pemotongan pajak dan sebagainya?

Kami tidak selalu memberi mereka subsidi, subsidi hanya diberikan pada startup tergantung dari sektor mereka. Tapi kami biasanya memberikan saran bagi mereka untuk dapat melakukan bisnis dengan mudah karena sulit bagi startup untuk memulai.

Akses ke finansial juga sangat penting. Tidak finansial negara, tapi akses keuangan lainnya seperti bank, startup dapat dengan mudah mendapat akses ke sektor keuangan itu. Kami juga menggunakan bantuan dari negara luar.

Salah satu hal yang menarik adalah kami memberikan visa khusus untuk orang-orang yang ingin bekerja di startup di Belanda atau untuk orang-orang yang menjalankan bisnis startup di Belanda. Jadi kami mencoba untuk terus menarik orang-orang cerdas untuk datang ke Belanda untuk aktif dalam membangun startup.

Dubes Belanda Bicara Sawit RI, Startup, hingga Ibu Kota BaruFoto: Dubes Belanda untuk Indonesia Rob Swartbol (CNBC Indonesia/Prima Wirayani)


Bagaimana tanggapan Belanda mengenai pemindahan ibu kota Jakarta ke wilayah lain di Indonesia?

Indonesia bukan negara pertama berniat memindahkan ibu kotanya ke wilayah lain. Ada banyak negara yang pernah melakukan hal ini sebelumnya termasuk Brazil. Jadi saya mengerti karena Jakarta adalah kota yang sangat padat, jadi kalian ingin mencari solusi untuk masalah ini.

Tapi memindahkan ibu kota ke wilayah lain tidak akan secara langsung dapat menangani berbagai masalah di Jakarta seperti masalah kemacetan. Tapi yang dapat kalian lainnya adalah ekonomi di berbagai bidang.

Saya pikir Presiden Jokowi belum memutuskan untuk memindahkan ibu kota ke wilayah mana, tapi dia sudah mengatakan ingin memindahkannya ke tengah Indonesia berarti lebih ke wilayah timur.

Tapi jika Anda ingin memindahkan ibu kota ke Kalimantan, saya tahu ada kekhawatiran mengenai terganggunya kondisi lingkungan yang ada di sana. Saya dengar pemerintah berencana membangun konsep kota hijau, jadi itu sangat bagus.

Membangun kota baru adalah sesuatu yang sangat spesial jika Anda bisa melakukannya, juga bisa membuat negara bangga.

Dan mengenai gedung kedutaan, ya jika ibu kota pindah maka gedung kedutaan akan pindah.

Tentunya ini akan memakan waktu yang lama. Saya tidak yakin berapa lama akan memakan waktu, tapi saya mendoakan kesuksesan dan yang terbaik untuk pemerintah dan rakyat Indonesia karena ini merupakan hal yang tidak mudah untuk dilakukan. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading