Special Interview

Alamanda, Developer Aplikasi Go-Jek yang Buka Sekolah Coding

Profil - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
16 December 2018 13:37
Alamanda, Developer Aplikasi Go-Jek yang Buka Sekolah Coding
Jakarta, CNBC Indonesia - Perempuan masuk ke ranah teknologi mungkin masih belum begitu banyak ditemui tidak hanya di Indonesia namun juga di seluruh belahan dunia. Salah satu perempuan Indonesia yang memiliki ketertarikan terhadap dunia teknologi adalah Alamanda Shantika.

Wanita berusia 30 tahun ini adalah salah satu wanita yang mengembangkan aplikasi Go-jek yang kini menjadi salah satu perusahaan rintisan atau startup unicorn. Sejak awal berdirinya Go-jek, Alamanda dan tim mendesain tampilan antarmuka (user interface/UI) hingga programming aplikasi tersebut.



Setelah bergabung dengan Go-jek, Alamanda pun akhirnya membuat sekolah edukasi teknologi yang dinamai Binar Academy. Ia pun sedikit berkisah dengan CNBC Indonesia tentang bagaimana dirinya bisa berada di tengah-tengah sektor teknologi.



Bisa diceritakan mengapa tertarik untuk terjun ke sektor teknologi?
Saya itu sudah bisa coding sejak umur 14 tahun. Dulu yang mengenalkan saya dengan coding adalah sepupu saya dari London. Dia ngajarin aku, setelah itu aku buat Pentool Studio, yakni startup yang memberi layanan pembuatan situs web untuk para pelaku UKM.

Perusahaan berjalan tiga tahun dan berdiri sejak 2009 lalu aku tinggalin. Dan akhirnya aku berpikir harus bikin karya lainnya.

Alamanda, Developer Aplikasi Go-Jek yang Buka Sekolah CodingFoto: Pengembang aplikasi Go-jek Alamanda Shantika (Foto: Lynda Hasibuan/CNBC Indonesia)


Siapa mentor terbaik dalam karier Anda?
Mentor aku sampai sekarang adalah Nadiem Makarim. Itu salah satunya dan dia yang paling inspiring me a lot.

Ini bukan dari sisi bisnis saja tapi Nadiem itu banyak memikirkan kemajuan bersama. Serta masalah hati dan keberlanjutan. Itu yang selalu dia dorong dari sisi social impact.


Adakah pertimbangan sebelum memutuskan bekerja di bidang teknologi?
Sebenarnya ini seperti passion aku dalam membangun orang. Di saat kita membangun sesuatu sebenarnya yang kita bangun adalah orangnya.

Jadi dari situ aku berangkat I need to help people untuk membangun dirinya. Kemudian pertimbangan selanjutnya adalah Indonesia potensinya sangat besar dan banyak berlian sumber daya manusia yang tidak diketahui dan inilah yang membuat saya tergerak.

Misalnya, bila kita sering dengar saya susah mencari pekerjaan tapi banyak perusahaan juga sulit mencari engineer. Ini berarti ada sisi match and making-nya yang belum pas dan masih banyak terbuang.


Kemudian realisasi apa yang telah dilakukan ?
Tahun 2017 bulan Maret saya telah membangun Binar Academy dan ini adalah sekolah teknologi (coding) binaan tokoh start-up. Saat ini Binar Academy baru saja dibuka di Serpong setelah sebelumnya di Yogyakarta dan Batam.

Alamanda, Developer Aplikasi Go-Jek yang Buka Sekolah CodingFoto: Pengembang aplikasi Go-jek Alamanda Shantika (tengah) (Foto: Lynda Hasibuan/CNBC Indonesia)


Sebagai pemilik Binar Academy, apa yang melatarbelakangi Anda membangun sekolah ini?
Saya melihat kebutuhan startup di Indonesia soal ketersediaan digital tidak seimbang dengan kencangnya pertumbuhan digital itu sendiri. Hadirnya Binar Academy saya ingin berperan aktif dengan menyediakan talenta digital berkualitas.

Jadi kami memberikan ilmu melalui software engineer, product designer hingga product owner. Dengan cara ini saya yakin maka pemberdayaan sumber daya manusia di bidang teknlogi meningkat secara merata.


Selama berkecimpung di dunia teknologi, adakah hambatan yang dialami?
Kalau saya lihat banyak perusahaan yang memandang kalau mencari karyawan harus S1 sedangkan banyak student kita datangnya dari pelosok dan mereka enggak bisa kuliah.

Padahal anak-anak itu mendapat kesempatan banyak dan bisa berkontribusi. Mereka belajar sampai jam 4 pagi dan perkembangan mereka juga cepat sekali.

Yang seperti itu sangat berpotensi tapi karena itu harus lulusan S1 baru bisa bekerja. Itu kendalanya.


Siapa yang menjadi target Binar Academy?
Target aku adalah kalangan mahasisa dari berbagai universitas. Kita saling bekerja sama dengan perusahaan bahwa milenial juga dapat menjadi roda penggerak ekonomi dari teknologi.



Adakah mimpi yang masih belum dicapai?
Aku ingin membuka mata orang Indonesia dan membantu teman-teman di Papua atau Indonesia Timur dengan membangun Binar Academy. Aku ingin banget kita bisa menyasar ke pelosok.

Satu lagi aku ingin anak kita belajar dari luar negeri. Ini untuk mengembangkan kualitas mereka dengan standarisasi yang sama dengan global.


(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading