Special Interview

"Kalau 35 Ribu MW Beroperasi 30% Dalam 2 Tahun, Saya Penipu"

Profil - Wahyu Daniel & Gustidha Budiartie, CNBC Indonesia
25 April 2018 21:45
Kumandang adzan magrib jadi tanda perjumpaan tim CNBC Indonesia bersama Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir, pada Selasa (10/4/2018) lalu.

Memakai setelan kemeja putih dan celana hitam, Bos PLN ini menyambut hangat kedatangan rombongan yang terdiri dari Wahyu Daniel, Gustidha Budiartie, Wanti Puspa, dan fotografer Muhammad Sabki di ruangannya yang berada di lantai 8 Gedung PLN, Trunojoyo, Jakarta Selatan.

Di sudut ruangannya, terpajang lukisan perempuan remaja berkerudung merah dengan mata hijau menatap tajam. Ukurannya tidak besar, tapi cukup mencolok perhatian. Tak lain karena lukisan itu persis dengan foto gadis Afghanistan yang pernah terpampang di sampul majalah National Geographic, yang sangat fenomenal beberapa tahun lalu.


"Ini lukisan favorit saya," kata Sofyan, "Saya sengaja minta agar foto di cover National Geographic itu dilukis kembali. Lihat matanya, itu mata yang menunjukkan bahwa dia sedang marah," lanjutnya menjelaskan.

Lebih dari satu jam berbincang dan diwawancara, untungnya Mantan Bos BRI ini tak ikut-ikutan marah seperti lukisan yang dia banggakan.

Meski dicecar pertanyaan yang terkadang mempertanyakan kinerjanya, terutama tentang program 35 ribu MW yang sering mendapat kritik dari masyarakat, Sofyan menjawab semua pertanyaan dengan santai. Bahkan sambil tergelak, Ia juga mampu merinci mulai dari hal teknis kelistrikan hingga nama pulau pulau kecil di Indonesia yang diperjuangkan untuk dialiri listrik.

Sofyan Basir menjawab semuanya, dari masalah 35 ribu MW, tarif listrik, dan batu bara. Berikut cuplikan wawancaranya.




Program 35 Ribu Megawatt (MW) sering disebut mustahil tercapai...

Diskusi awal memang berpolemik tidak mungkin bisa 35 ribu dalam 5 tahun, 10 ribu saja tidak jadi. Tapi mari keraguan sebagian orang itu jadi tantangan buat kami. Kami bersyukur perlahan dilaksanakan, dan alhamdulillah akhir tahun kemarin kami tandatangani 32 ribu MW. Padahal kan mulai 2015 Juli, Mei kita canangkan. Hampir setahun tender dan lainnya, tidak mudah untuk sampai ke tahap PPA (power purchases agreement/kontrak jual beli listrik). Kami baru mulai lari di tahun kedua dan ketiga

[Gambar:Video CNBC]


Tahap PPA juga dinilai lebih sulit ketimbang program kelistrikan lalu-lalu, ini yang bikin lama?

Sebenarnya bukan sulit tapi kami ingin meningkatkan kualitas mereka (investor) dan kalau dulu kita pernah kecewa, waktu FTP 1 (Proyek Percepatan 10 Ribu MW Tahap 1) saya tidak mau ulangi. Maka, kami buat aturan yang amankan dua belah pihak. Bukan hanya PLN tapi juga investor, kelangsungan hidup ke depan dan lainnya, cara pembayaran, banyak.

Kami tidak mau dapat investor modal dengkul, atau bahkan hanya alas kaki. Proyek ini ada yang nilainya Rp 1 triliun hingga Rp 50 triliun, ini besar, harus betul-betul perusahaan bonafid yang masuk. Kami syaratkan uang muka 10%, waktu PPA masuk banyak duta-duta besar yang marah. Tapi saya jelaskan lagi kalau mau kerjakan proyek besar harus bonafit, jangan sampai ada jual beli kontrak.Kalau mau ambil yang kecil silakan, tapi yang Rp 40 triliun- Rp 60 triliun jangan main-main. Ini masa depan energi untuk republik.


Soal progres bagaimana, Anda dikritik karena 3 tahun baru 3% pembangkit listrik 35 Ribu MW yang beroperasi?

Nah, kalau pembangkit yang COD (Commercial Operation Date/beroperasi komersial) dalam 2 tahun sudah 30%, saya penipu. Tak mungkin bisa selesaikan pembangkit raksasa dalam 2 tahun. Yang benar itu berapa persen progressnya.




Orang berpikir progres dihitung kalau sudah ada yang beroperasi..

Kalau begitu setahun bisa jadi, tapi pakai diesel (pembangkit dengan BBM). Kami bisa beli itu dengan mudah. Ini tahapannya banyak, kalau dihitung secara progress mungkin sekitar 37 sampai 40% sudah. Kami tiap minggu kejar-kejaran. Proyek FTP 1 yang belum jadi juga kami selesaikan, yang belum sampai tingkat keekonomiannya kami kejar supaya bisa ekonomis. Coba lah datang ke Batang, Janeponto, Sidrap, lihat sendiri supaya bisa buktikan progresnya.


Sisa yang 7000 MW dari FTP 1 itu?

Iya, ini harus dikejar dan diperbaiki karena kalau tidak malah tidak efisien dan menjadi beban, kena di bunga dan sebagainya. Akibatnya juga bisa berdampak ke biaya pokok produksi listrik (BPP) yang bisa membengkak. Nanti PLN kena lagi kalau BPP tinggi.


Bagaimana memastikan tidak seperti FTP 1 di 35 ribu MW?

Ini kan ada yang dikerjakan oleh PLN ada yang dikerjakan oleh swasta (Independent Power Producer/IPP). Untuk yang dikerjakan PLN, semua proyek pembangunannya atau EPC tidak ada yang dari China. Ada yang dari IPP, kami buka untuk China tapi yang BUMN, bukan swasta. Ada 7 perusahaan BUMN China raksasa yang kaya pengalaman dan teruji membangun. Kami tidak lagi diskusi EPC-nya tapi pasokan listrik yang kami beli. Jadi kalau tidak pasok listrik kena denda mahal, kalo dia pasok listrik kami tidak beli kami yang kena denda. Kalau mereka rusak dan tidak pasok listrik mereka kena denda dari kami. Ini equal treatment.



Balik lagi ke 35 Ribu MW, jadi apa bakal selesai dalam 5 tahun?

Bukan bakal selesai, tapi kami tunda penyelesaiannya. Menyesuaikan pertumbuhan ekonomi. Ini kan 10 ribu MW ada di PLN, kami kasih jarak. Tahun 2019 mungkin bisa sampai 20 Ribu MW yang tercapai.


Targetnya diturunkan, di RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik) beberapa pembangkit juga dipangkas. Apa ini karena salah hitung?

Bukan salah hitung, PLN merancang atas dasar asumsi yang dihitung pemerintah yakni Bappenas-BPS itu dasarnya, kalau fakta mengatakan tidak sesuai dan ada perlambatan ya dikurangi sedikit. Simple saja.

Misal begini, asumsi kan dihitung dari eskpor, perkiraan pertumbuhan China, pasar luar negeri yang bisa berdampak ke industri dalam negeri. Kalau luar negeri ada perang dagang, kan tidak ada yang tahu dulu, jadi permintaan PLN kurang ya harus disiasati. Tetapi, listrik memang harus lebih dari permintaan, jangan sampai kurang. Sekarang cadangan kita ada 25%.


Nah, sering disebut juga 35 ribu MW ini over supply (kelebihan pasokan)..

Listrik itu harus di muka sebelum pembangunan. Kita diskusi jalan tol, pelabuhan laut, jalan dan sebagainya, tidak ada yang tidak pakai listrik. Sebelum itu jadi semua, listrik sudah harus ada, jadi energi harus di depan.

Jangan diskusi soal belum adanya permintaan, hari ini kita diskusi di Sumatra, Sulawesi Bagian Utara, waktu kami taruh dulu hanya 200 MW lalu PLN tambah 200 MW lagi. Ini 100% terserap, padahal rata-rata tumbuh katanya 8% harusnya kan dua tahun 16%. Tapi karena di sana ada hotel-hotel yang kalau malam pakai diesel, begitu PLN masuk mereka pindah ke PLN karena harganya jauh.

Kalimantan juga begitu, hari ini semua terkoneksi dalam satu jaringan dalam 3 tahun ini. Oleh karena itu hampir seluruh Indonesia saat ini saya pastikan tidak ada pemadaman lagi.


Bisa dibilang tidak ada defisit listrik lagi?

Tahun 2015 masih banyak daerah yang defisit listrik, yang merah-merah. Hari ini hijau , artinya cadangan di atas 30%, kuning masih ada beberapa. Kita harus selalu lebih dari permintaan, cadangan kita rata-rata 25%.

Kadang disebut tidak efisien, ya memang begitu bisnisnya. Kenapa listrik di Jawa lebih 35% kan tidak efisien dan terbuang, ya masa kalau ada pembangkit rusah kami bilang sama rakyat; pemadaman dulu ya, pembangkit ada yang rusak.

Di Singapore, Tokyo, cadangan listrik itu 100% karena mereka tidak boleh berkedip sama sekali listriknya. PLN juga ada pelanggan yang bisa minta tidak kedip, tapi bayarannya beda, Rp 1600 per Kwh. Kami sudah sampai posisi itu, mau layanan apa silver, gold, diamond?


Kinerja keuangan PLN sangat tergantung dengan harga komoditas, minyak, batu bara. Dan setiap ada fluktuasi selalu bermasalah, kenapa tidak dibuat formula saja biar pasti?

Pak Jonan (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral) sedang siapkan, inikan satu tahap dulu, nanti tahap berikutnya pasti ada formula yang dibangun, contohnya kewajiban DMO (domestic market obligation) 25% untuk kelistrikan sebesar 80%.

Jangan sampai nanti ada pengusaha yang beli batu bara besar-besaran di bawah harga internasional tapi untuk dijual balik. Nah, ini sedang diatur mekanismenya oleh Kementerian ESDM.

Kemarin sempat ramai soal pembatasan harga batu bara (membatasi harga pembelian batu bara untuk DMO maksimal sebesar US$ 70 per ton)

Kami (PLN) terima kasih kepada para pengusaha batu bara mereka sudah berbuat untuk saudara-saudara mereka agar tidak naik tarif listriknya. Mereka jadi kurang untung sekitar 20%, sekarang sudah ikhlas.




Jadi kurang untung ya, bukan rugi..

Tidak boleh, saya banker tidak boleh bikin rugi pengusaha. Ini masyarakat Indonesia sekarang terima kasih karena keikhlasan pengusaha dan tahu bahwa apa yang mereka berikan berguna bagi 68 juta kepala keluarga. Bayangkan kalau harga komoditas diikuti, ada penyesuaian tarif karena ICP (harga minyak), selisih kurs.

Untuk PLN potensi tergerusnya sampai Rp 20 triliun - Rp 30 triliun. Apakah kami pertahankan laba? Tidak, kami pedih hari ini, kami minta pemerintah beri dukungan untuk perkuat kelistrikan di wilayah 3T tadi. Ini kami sudah komitmen 3 tahun tidak naik tarif listrik.


Ditambah sampai 2019 sekarang..

5 Tahun berarti! Mulai 2015 tidak ada kenaikan. Yang ada hanya penerapan subsidi tepat sasaran. Yang tadi saya bilang, apakah adil di pulau-pulau tadi tidak dapat subsidi sama sekali sementara di Jakarta yang dapat, kan tidak adil.



PLN punya dua tangan sebagai BUMN yang wajib menyediakan listrik sekaligus menjaga kinerja sebagai korporasi. Bagaimana menyeimbangkannya?

Pertanggungjawaban kami ada dua , ke Kementerian BUMN dan Kementerian ESDM. Dua-duanya bapak kami. Tangan kanannya negara, tangan kirinya rakyat.

Tahun ini kami tergerus sampai Rp 20 triliun karena harga komoditas, kami harus bangun keseimbangan dan tidak berorientasi pada profit. Tapi tetap harus punya dana untuk investasi pembangkit di wilayah 3T tadi.

Kami lakukan efisiensi besar, kurangi pemakaian BBM untuk pembangkit, maintenance pembangkit, kualitas batu bara, zonasi jangan sampai untuk nyalakan pembangkit di Sumatra pakai batu bara dari Kalimantan karena biayanya besar.

Lalu profiling karena ada dana jangka panjang kami yang mahal lalu kami tukar bunganya supaya lebih murah, lakukan redeem dan kami tukar ambil premium yang berangka panjang lagi untuk amankan likuiditas perusahaan.

Kenapa tidak IPO? Kami tidak butuh modal, ekuitas kami capai Rp 800 triliun bisa pinjam hingga Rp 2000 triliun. Yang kami butuh itu likuiditas. Karena aman tadi maka kami lakukan tukaran-tukaran. Mau jatuh tempo 2 tahun lagi kami ambil bayar hari ini, kita bikin 10 tahun ke belakang dan cari bunga lebih murah begitu terus.


Soal energi baru bagaimana?

Kami suka energi baru, tapi dengan keekonomian. Jangan sampai energi baru ini jadi alat pencari rente. Hari ini kita tenaga angin bisa dengan harga 10 sen per Kwh, dulu bisa sampai 18 sen per Kwh. Matahari dengan 6-7 sen per Kwh dulu bisa 20 sen. Bedanya berapa lama? Hanya setahun. Anginnya sama, mataharinya juga sama.


Kenapa bisa drop seperti itu harganya?

Saya sering sampaikan PLN sudah berubah, dalam 2 tahun paradigma sudah bergeser yang tadinya semula hanya berpikir untuk jadikan barang saja tapi ongkosnya tidak dihitung sekarang setiap individu di PLN berhitung.

Tinggal buka di Google berapa di Arab, Cina, dan lainnya kok susah hitung sendiri. Nanti dihitung di Arab pasti lebih murah, karena matahari berlimpah cahayanya dan tidak ada pajak. Nah, kalau ditambah komponen-komponen jika di sana 2 sen per Kwh mungkin di sini 7 sen per Kwh.

Angin di mana-mana kan sama. Mungkin waktu pertama bangun mahal karena ada infrastruktur, tapi 50 MW pertama. Untuk yang 50 MW kedua harusnya sudah turun harganya.


Untuk tarif listrik ke depan bagaimana?

Tarif ke depannya kami juga maunya turun untuk itu kami banting tulang agar tidak membebani rakyat. Untuk itu mungkin banyak pengusaha marah kepada PLN, kami mohon maaf. (gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading