Special Interview

Menteri Jonan Buka-bukaan Soal Harga BBM

Profil - Wahyu Daniel, CNBC Indonesia
22 January 2018 10:46
Menteri Jonan Buka-bukaan Soal Harga BBM
Harga minyak dunia terus merangkak naik, hampir menyentuh US$ 70 per barel. Sementara, asumsi makro masih bertahan di angka US$ 48 per barel. Sektor energi jelas terkena dampak terdepan dari fluktuasi harga komoditas ini, terutama buat Indonesia yang telah menjadi net importir minyak selama bertahun-tahun.

Bagaimana antisipasi pemerintah untuk hadapi kenaikan harga minyak? Apakah pemerintah akan menaikkan harga BBM untuk mencegah risiko di masa depan?

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Ignasius Jonan, buka-bukaan soal kondisi dan sikap pemerintah soal harga minyak dan efeknya ke harga bensin. Berikut jawaban Jonan saat diwawancara oleh Wahyu Daniel dari CNBC Indonesia, Jumat (19/1/208).


Menteri Jonan Buka Bukaan Soal Harga BBM Foto: Muhammad Luthfi Rahman



Harga minyak dunia sudah mau menyentuh US$ 70/barel. Apa akan ada perubahan harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP)?

Perubahan asumsi makro untuk ICP itu biasanya dilakukan berbarengan dengan APBN Perubahan. Mungkin di kemudian hari, apabila Bapak Presiden berkenan melakukan usulan untuk perubahan APBN atau APBN-P dibahas dengan DPR, biasanya lewat Juni baru dimulai, mungkin ICP bisa berubah. Tapi untuk saat ini asumsi US$ 48/barel tetap kami ikuti. 

Pandangan Bapak, harga minyak ke depan bagaimana?

Sebenarnya tidak ada yang bisa memprediksi secara akurat harga minyak mentah di dunia. Kami hanya bisa mempelajari masukan dan membaca tren kebutuhan minyak dunia.

Lalu tren produksi. Seperti kemarin, Venezuela memprediksi produksi minyaknya agak terganggu. Ini apakah pengaruh atau tidak. Di sisi lain, produksi shale oil dari Amerika Serikat makin meningkat, mungkin sekarang sudah sekitar 10 juta barel per hari atau lebih.

Ini nanti kita lihat, bagaimana demand dari negara-negara yang konsumsi minyaknya besar seperti Tiongkok, Uni Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat. Jadi apabila tren pertumbuhan ekonomi dari negara-negara yang konsumsi minyaknya besar di dunia itu meningkat, biasanya penggunaan minyak mentah meningkat.

Indonesia untuk ICP menggunakan patokan seperti WTI (West Texas Intermediate), juga tergantung sumurnya yang ada perhitungan-perhitungan teknisnya. Terakhir Desember itu sekitar US$ 60/barel. Kalau rata-rata di 2017, adalah US$ 51/barel. Itu yang digunakan sebagai harga pokok patokan minyak mentah untuk distribusi BBM oleh Pertamina. Nah kami lihat untuk Januari ini mungkin juga tetap US$ 60-US$ 61/barel.


Pemerintah menyatakan harga BBM tidak akan naik sampai Maret. Bagaimana setelah itu, apakah naik?

Kami akan evaluasi pada saat kira-kira pertengahan Maret. Kalau saya bilang pasti tidak naik, itu tidak tepat. Karena masih ada dua bulan setengah, bagaimana tren harga minyak dunia. Kalau saya bilang pasti naik juga tidak, bagaimana kalau harga minyaknya turun. Itu pertimbangan.

Menteri Jonan Buka Bukaan Soal Harga BBM Foto: Muhammad Luthfi Rahman



Apakah saat ini harga BBM harusnya naik dengan tren naiknya harga minyak?

Kami lihat SPBU itu diberi margin dari pemerintah sekitar Rp 200-Rp 250/liter. Kedua Pertamina sebagai distributor ambil berapa untuk ongkos angkut, beban kantor pusat dan lain lain. Ini kalau tidak salah sekitar Rp 500-Rp 550/liter. Ini kalau dijumlah sudah Rp 800/liter. Ini mau direview lagi atau tidak? Sebenarnya adilnya berapa? Ini harus dihitung lagi. Saya punya referensi begini, ada perusahaan swasta yang jual RON 89 (SPBU VIVO) itu Rp 6.300/liter. Coba dicek naik atau tidak?

Tapi Pertamina mengatakan labanya tergerus akibat harga BBM yang tidak naik. Bagaimana?

Pemerintah tidak ada rencana menjadikan Pertamina merugi. Tapi Pertamina mempunyai tugas distribusi BBM nasional.

Untung Pertamina di 2016 itu Rp 40 triliun. Tahun 2016 saat harga minyak sekitar US$ 38/barel itu pemerintah tidak memutuskan untuk menurunkan harga BBM, jadi ada windfall untuk Pertamina. Jadi itu bukan semata-mata karena kehebatan Pertamina melakukan efisiensi. Penyaluran Premium dari 12 juta KL tahun lalu, yang disalurkan itu sekitar 7 juta KL. Jadi tidak bisa dihitung rugi tiap kenaikan harga minyak US$ 1/barel. Kedua untuk menghitung untung-rugi harus ad cost, jadi harus berdasarkan formula.

Tapi yang pasti sampai Maret tidak ada kenaikan BBM?

Tidak ada, karena sudah diputuskan. (gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading