HUT ke-499 Jakarta

Belajar dari MH Thamrin untuk Menjadi Kota Global

Bayu Muhammad Noor Arasy,  CNBC Indonesia
19 June 2026 13:17
Bayu Muhammad Noor Arasy
Bayu Muhammad Noor Arasy
Bayu Arasy merupakan Tenaga Ahli Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Ia terlibat dalam berbagai aktivitas fraksi seperti membina hubungan dengan media, khususnya dalam rangka .. Selengkapnya
Foto: Ilustrasi kemacetan di Jakarta. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Ilustrasi kemacetan di Jakarta. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Pelanggan Transjakarta yang sering menumpang bus rute 1 Blok M-Kota pasti sudah tidak asing lagi dengan Jalan MH. Thamrin. Iya, ruas jalan yang membentang dari Tugu Patung Kuda di utara hingga Bundaran HI di Selatan dan berdekatan dengan Tugu Patung Kuda itu berdiri patung MH. Thamrin, tokoh besar yang namanya disandang oleh jalanan tersebut.



Memandang keluar dari dalam bus berwarna biru dengan aksen putih itu, para penumpang akan melihat Jalan MH. Thamrin sebagai jalanan luas yang diapit oleh pencakar langit di sisi kanan dan kirinya. Bangunan-bangunan itu terlihat bangga dengan postur tubuhnya yang jangkung. Dan kaca-kaca yang memancarkan silau cahaya matahari atau lampu-lampu jalanan di malam hari sebagai pakaiannya.

Jalan MH. Thamrin, sebagai salah satu jalan protokoler penting di ibu kota terkesan megah. Baik mereka yang lahir dan tumbuh dewasa di Jakarta maupun para pendatang bisa melihatnya sebagai simbol kemajuan bangsa Indonesia dalam membangun kehidupannya memasuki era modern ini. Kemudian, jika Jakarta sekarang punya cita-cita menjadi 'Kota Global,' maka jalanan itu sudah menjelma sebagai 'wajah' Jakarta bagi dunia internasional.

Kendati demikian, ada sesuatu yang mengganggu benak pikiran dan lubuk hati orang-orang. Bagi mereka yang lebih familiar dengan kota ini, Jalan MH. Thamrin hanyalah satu bagian kecil dari Jakarta. Kenyataanya, tidak se-ideal itu.

Karena di beberapa tempat lainnya yang berlaku adalah pembangunan semrawut, tata kota yang berantakan, trotoar rusak, dan jalanan berlubang yang membahayakan keselamatan para pengendara. Bukan keteraturan, kemegahan, kemewahan, dan keindahan seperti yang terlihat di Jalan MH. Thamrin.

Bahkan, beranjak sedikit dari ujung-ujung Jalan MH. Thamrin, kita bisa menyambangi wilayah Harmoni, Pecenongan, Tanah Abang, Kebon Kacang, dan lain-lain yang ditandai dengan kesemrawutan dalam segala hal, mulai dari letak bangunan, jalanan sempit, kabel menjuntai, hingga lalu-lalang pejalan kaki yang tidak terkendali. Seketika, impian Jakarta menjadi 'Kota Global' hanya menjadi mimpi di siang bolong ketika berhadapan dengan realita di lapangan.

Mengenang MH Thamrin
Di sini, kita kembali kepada MH. Thamrin, tokoh besar yang namanya sudah banyak disebut itu. Sebenarnya, ada sebuah ironi yang muncul ketika membicarakan sosok MH. Thamrin dan Jalan MH. Thamrin secara berbarengan. Ironis karena Thamrin pernah mengkritisi kesenjangan pembangunan di kota ini sewaktu menjadi Anggota Dewan Kota atau Gementeeraad Batavia (1919-1929) pada masa penjajahan.

Dalam buku MH Thamrin: Anak Betawi Pejuang Republik (2025), Thamrin diketahui melihat Batavia itu bagaikan lukisan yang indah. Sementara itu, kampung-kampungnya seperti kanvas kosong yang tidak berharga sama sekali. Akan tetapi, di kampung-kampung yang dianggap tidak berharga itu tinggal banyak manusia yang berjuang setiap harinya untuk hidup dan menghidupi orang-orang terdekatnya.

Sedari dulu, Jakarta yang sebelumnya bernama Batavia sudah menjadi kota internasional tempat orang-orang asing singgah dan berdagang. Akan tetapi, para pembesarnya tidak menggunakan kekayaan dari aktivitas perdagangan itu untuk membangun kota ini bagi seluruh warganya. Selalu ada saja kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan.

Demikian, kehadiran Thamrin seperti menghembuskan angin segar kepada Jakarta. Sewaktu menjabat sebagai Anggota Dewan Kota Batavia, Thamrin memelopori kampongverbetering. Yaitu, perbaikan kampung-kampung di Jakarta untuk meningkatkan sanitasi, drainase, dan pasokan air bersih. Di mana, Thamrin juga meminta pembangunan pompa-pompa air untuk membersihkan jalanan kotor yang ada di sana.

Pengaruh Thamrin dalam membangun dan menata kampung itu bisa terasa hingga saat ini, jauh setelah ia meninggal dunia pada tahun 1941. Pada akhir tahun 1960an, Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin menggencarkan perbaikan kampung-kampung. Ia percaya bahwa kampung yang bersih dan lingkungan yang sehat akan mendorong masyarakat untuk bergerak, termasuk dalam membangun perekonomiannya.

Sekarang, Jakarta di bawah kepemimpinan Pramono Anung berhasil menghilangkan kawasan kumuh 'berat'. Setelah itu berhasil dilakukan, Jakarta bisa mengembangkan kampung-kampungnya agar 'naik kelas'. Bahkan, Jakarta punya tujuan ambisius untuk membenahi 50 RW kumuh pada tahun 2027 mendatang. Tentu, ini merupakan kabar yang mengembirakan.

Meskipun, Thamrin sebagai senior dari Bang Ali dan Mas Pram mungkin tidak akan terlalu cepat menunjukkan kegembiraannya. Karena, dahulu dan sekarang Jakarta ini dilanda banyak permasalahan. Selain masalah pemukiman, ia juga menaruh perhatian terhadap isu-isu pendidikan, lapangan pekerjaan, ekonomi, dan olahraga.

Ada persamaan antara zaman ini dengan dahulu ketika Thamrin masih hidup. Jakarta masih menghadapi permasalahan di bidang-bidang yang telah disebutkan. Perbedaannya adalah dalam respons pemimpin Jakarta terhadap masalah-masalah tersebut. Dan harapan-harapannya untuk pembangunan Jakarta ke depan melalui segala rintangan yang mengadang, hingga dapat bertumbuh menjadi 'Kota Global' yang matang dan dewasa.

Sengkarut Masalah Jakarta
Perihal isu pemukiman, Jakarta memang berhasil menghapus kawasan 'kumuh berat' dan mengurangi separuh dari RW 'kumuh' pada tahun 2026 ini. Itu merupakan kemajuan yang signifikan. Tapi, 'pekerjaan rumah' Jakarta untuk memperbaiki separuh RW 'kumuh' nya lagi juga tidak kalah signifikan. Jumlahnya masih ratusan.

Belum lagi kalau kita mau beranjak dari angka-angka yang ada di atas kertas dan melihat bagaimana kenyataannya di lapangan. Ketika menggunakan KRL untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya, di kiri dan di kanan gerbong kita masih bisa terlihat jejak-jejak ketidakteraturan dan kekumuhan. Sebagaimanapun kerasnya Pemprov DKI Jakarta ingin menekankan bahwa jumlah RW kumuh sudah menurun, tapi itulah kenyataan yang masih bisa disaksikan di sekitar kita.

Rumah-rumah warga berdiri ringkih, ditopang oleh bangunan tetangganya. Jika dilihat sekilas, banyak dari rumah-rumah itu sebenarnya tidak aman untuk ditinggali. Kemudian, gang-gang yang sempit dihiasi oleh kabel-kabel menjuntai di langit-langitnya, momok yang bisa saja korsleting dari waktu ke waktu dan membakar pemukiman warga.

Mengalihkan pandangan mata kita ke bawah, kali-kali dan saluran-saluran air lainnya sesak penuh dengan sampah-sampah, sisa-sisa kotoran manusia, dan busa-busa beracun. Pemandangan seperti itu menjadi catatan pinggiran untuk mengevaluasi apakah pembangunan di Jakarta sudah berhasil menyelesaikan masalah-masalah mendasar.

Tidak Ada Masalah Kecil
Jakarta, beserta Mas Pram yang kini memimpinnya, boleh saja berambisi membangun kota ini jadi 'Kota Global'. Tapi, kiranya masalah-masalah 'lokal' yang lebih terasa seperti 'perintilan' jika dibandingkan dengan angka-angka statistik itu jangan sampai dilupakan.

Apalagi, kita harus mawas bahwa 'Kota Global' bukan hanya diukur dari banyaknya bangunan-bangunan tinggi, indahnya taman-taman, mulusnya jalanan-jalanan, dan hal-hal superficial lainnya saja. Melainkan juga mencakup perbaikan-perbaikan yang lebih substantif.

Oxford Economics Global Cities Index 2025 dalam menilai kota-kota di dunia juga menguji aspek-aspek ekonomi, SDM, kualitas hidup, lingkungan hidup, dan pemerintahan. Jika menyangkut perkampungan di Jakarta, kesuksesan atau kegagalan Pemprov DKI Jakarta untuk meningkatkan kualitas hidup dan kondisi lingkungan yang kondusif untuk mengembangkan SDM unggulan juga akan memengaruhi perjalanannya menjadi 'Kota Global'.

Itu baru menyangkut masalah pemukiman saja. Di bidang pendidikan, Pramono berencana meluncurkan semacam beasiswa LPDP yang dikelola oleh Jakarta. Ratusan mahasiswa akan diberikan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Bahkan, ia memastikan agar 'anak Betawi' diprioritaskan untuk menerimanya.

Kebijakan tersebut sejalan dengan pemikiran dan tindakan Thamrin. Dahulu, ia berjuang untuk memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan, khususnya kalangan pribumi yang terjajah. Untuk itu, ia sempat mengusulkan pembangunan sekolah khusus perempuan di Batavia.

Tapi secara lebih luasnya lagi, ia juga mendesak pemerintahan kolonial untuk mencabut peraturan yang membatas-batasi sekolah swasta. Karena sekolah swasta dahulu seringkali menjadi opsi bagi kalangan pribumi yang sulit mendapatkan pendidikan di sekolah-sekolah milik pemerintah, tempat diskriminasi sosial, ekonomi, sampai rasial berlaku.

Namun, jika kita melihat potret pendidikan di Jakarta yang lebih besar lagi, masih ada banyak masalah yang mengganjal. Di tengah-tengah Pemprov DKI Jakarta ingin mengupayakan program beasiswanya, tawuran masih sering terjadi, kualitas pengajar di sekolah-sekolah dasar dipertanyakan, dan kini kesehatan mental siswa jadi masalah yang tidak bisa diabaikan terus.

Ini memunculkan tanda tanya besar terhadap kemampuan Jakarta mendidik putra-putrinya dengan baik supaya bisa menjadi SDM unggul yang mampu berkompetisi. Jika kondisi ini tidak segera diperbaiki, maka ke depannya akan semakin sulit untuk menyesuaikan pengetahuan dan pengalaman anak-anak Jakarta dengan tuntutan pasar.

Jakarta Kota Global?
Sebenarnya, masih ada banyak isu lagi yang bisa dibahas. Di mana realita di Jakarta ketika turun ke lapangan menunjukkan hal yang sama sekali berbeda dari tampilan permukaannya. Seperti perbedaan antara Jalan MH. Thamrin dan wilayah-wilayah di sekitarnya yang memperlihatkan adanya kesenjangan.

Namun yang bisa dipelajari dari Thamrin adalah ia melihat persoalan-persoalan Jakarta dari bawah-ke-atas, bukan sebaliknya. Pengalaman-pengalaman langsung ketika berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungannya mengantarkannya ke masalah-masalah nyata yang mesti diatasi oleh kebijakan-kebijakan yang relevan.

Sementara itu, pendekatan atas-ke-bawah yang digerakkan oleh keinginan pemerintah untuk mencapai suatu status tertentu saja tidak menjamin dilakukannya perbaikan-perbaikan yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kini, Jakarta sedang mempersiapkan perayaan HUT ke-499 nya. Kemudian, tahun depan akan menjadi momen 5 abad Jakarta. Dengan harapan sebesar 'Kota Global' yang diucapkan ketika Jakarta nanti meniup lilin kue ulang tahunnya, kota ini mesti sadar bahwa ambisi-ambisi besar hanya bisa dicapai dengan menuntaskan tugas-tugas yang terlihat kecil.

Seperti halnya Thamrin berdasawarsa yang lalu menyelesaikan masalah-masalah di bidang kebersihan, pendidikan, lapangan pekerjaan, ekonomi, hingga olahraga, tanpa mengumbar-umbar ambisi ingin menjadikan Batavia sebagai 'Kota Global'. Mungkin, karena ia sadar bahwa kota ini sudah menjadi 'kota internasional', sehingga perlu membangun masyarakatnya dari bawah dan menuntaskan persoalan-persoalannya agar layak menyandang status tersebut.


(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Jakarta Harus Berhenti 'Mendayung' untuk Urusan Sampah