Momentum Membangun Platform Ekonomi Kreatif Indonesia

Kuntjoro Pinardi,  CNBC Indonesia
14 April 2026 09:44
Kuntjoro Pinardi
Kuntjoro Pinardi
Kuntjoro Pinardi merupakan pengajar di Institut Sains Teknologi Nasional. Ia adalah Ahli Manajerial dan Tata Kelola Sistem Kebijakan Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kebijakan Pembelajaran Individu untuk Generasi Emas Indonesia. Alumni Program Habibi.. Selengkapnya
Suasana bengkel atau workshop daur ulang sampah plastik yang terletak di kawasan Pejaten Indah, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (23/5).  Rumah daur ulang plastik yang telah banyak memproduksi barang-barang cantik dari sisa sampah tersebut. Rumah Workshop ini telah memproduksi banyak barang seperti payung, tas, dompet, dan assesoris lainnya dari produk kemasan plastik yang sudah tidak terpakai seperti produk sabun cuci atau sabun mandi. Salah satu produk tas dompet misalnya, dalam sehari bisa diproduksi mulai dari 4 sampai dengan 7 unit. Rumah daur ulang milik Heriyanti ini sudah lebih dari tujuh tahun berjalan, dan telah memperkerjakan sekitar empat orang. Waktu kerja dimulai dari pagi hingga sore dengan pembagian tugas masing-masing mulai dari persiapan, desain, jahit, sampai pengemasan akhir. Menurut salah satu pekerja di rumah daur ulang itu, saat ini produk yang dibuat lebih banyak tas dengan model selempang. Selain itu ada juga dompet dan payung dengan berbagai ukuran. Untuk harga berkisar antara Rp 50.000 sampai Rp 250.000. Produk yang dibuat biasanya berdasarkan pesanan baik dari domestik maupun ekspor kebeberapa negara di Eropa.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Potret salah satu subsektor ekonomi kreatif. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Jakarta akan menjadi tuan rumah World Conference on Creative Economy pada tahun 2026. Momentum ini penting. Namun yang lebih penting adalah bagaimana kita memaknainya. Apakah ini akan menjadi forum diskusi yang selesai dalam tiga hari atau justru menjadi titik awal pembentukan platform ekonomi kreatif yang memberi dampak nyata?



Selama ini, banyak forum ekonomi kreatif berhenti pada pertukaran gagasan. Padahal, dalam praktik global, nilai ekonomi kreatif tidak ditentukan oleh banyaknya ide, tetapi oleh kemampuan mendistribusikan dan memonetisasi karya. Di sinilah letak persoalan utama Indonesia. Kita memiliki talenta, memiliki karya, tetapi belum sepenuhnya menguasai jalur distribusi dan pembentukan nilai.

Peran ini saat ini dijalankan oleh platform global seperti Netflix, TikTok, dan YouTube. Mereka bukan sekadar perusahaan teknologi. Mereka menentukan konten apa yang dikonsumsi dunia, siapa yang dikenal sebagai kreator global, dan bagaimana nilai ekonomi dibagi. Tanpa keterhubungan dengan platform tersebut, karya akan tetap berada dalam lingkup terbatas.

Di sinilah WCCE 2026 seharusnya mengambil peran berbeda. Forum ini tidak cukup diposisikan sebagai konferensi. WCCE perlu diarahkan sebagai platform yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, investor, dan platform global dalam satu kerangka kerja yang menghasilkan keputusan dan kemitraan konkret. Dengan pendekatan ini, hasil yang diharapkan bukan sekadar pernyataan bersama, tetapi juga komitmen investasi, kerja sama distribusi, dan penguatan ekosistem.

Pendekatan platform juga menjadi kunci untuk menarik partisipasi sektor swasta dan pemerintah daerah. Bagi pelaku usaha, nilai utama tidak terletak pada eksposur, melainkan pada akses terhadap pasar dan peluang kerja sama.

Bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, WCCE akan lebih relevan apabila mampu mendorong aktivitas ekonomi kota, meningkatkan kunjungan, serta memperkuat citra Jakarta sebagai kota kreatif dan terbuka. Dengan demikian, Jakarta tidak hanya berperan sebagai lokasi acara, tetapi sebagai tuan rumah yang memperoleh manfaat langsung. Aktivasi ruang kota, penguatan sektor jasa, serta jejaring dengan kota kreatif lain menjadi bagian dari dampak yang dapat dirasakan.

Indonesia memiliki modal yang kuat untuk melangkah lebih jauh. Jumlah penduduk besar, pertumbuhan ekonomi digital yang cepat, serta kekayaan budaya dan kreativitas merupakan keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara. Namun tanpa penghubung yang tepat, potensi tersebut akan tetap tersebar dan sulit mencapai skala global.

WCCE 2026 memberikan kesempatan untuk membangun penghubung tersebut dalam bentuk platform ekonomi kreatif yang terstruktur. Jika dimanfaatkan dengan tepat, Indonesia dapat memperkuat posisinya tidak hanya sebagai penghasil karya, tetapi juga sebagai bagian penting dalam rantai nilai global. Pilihan yang dihadapi sebenarnya sederhana. Menyelenggarakan acara yang berjalan baik secara teknis bukan hal yang sulit.

Yang lebih menentukan adalah apakah acara tersebut mampu menghasilkan dampak ekonomi dan posisi strategis yang berkelanjutan. Di sinilah pentingnya keberanian untuk menggeser pendekatan, dari sekadar penyelenggaraan forum, menjadi pembangunan platform yang memberi arah baru bagi ekonomi kreatif Indonesia.


(miq/miq)