Kepemimpinan Berbasis Keberlanjutan: Pelajaran Raja Rama IX Thailand

Ramadhona Saville,  CNBC Indonesia
08 June 2026 17:41
Ramadhona Saville
Ramadhona Saville
Ramadhona Saville merupakan Associate Professor di Department of Agribusiness Management, Tokyo University of Agriculture... Selengkapnya
Foto: Raja Thailand Rama IX atau Bhumibol Adulyadej. (Dokumentasi Royal Thai Embassy, Bucharest, Romania)
Foto: Raja Thailand Rama IX atau Bhumibol Adulyadej. (Dokumentasi Royal Thai Embassy, Bucharest, Romania)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Belakangan ini, ruang publik di Indonesia kerap diramaikan oleh berbagai diskursus hangat mengenai kepemimpinan. Di tengah pro dan kontra terhadap berbagai gaya kepemimpinan terkini, baik dalam ranah kebijakan publik maupun korporasi, kita sering kali melupakan esensi dasar dari apa yang membuat seorang pemimpin layak dicintai dan diikuti.

Dalam beberapa kesempatan perjalanan dinas saya ke Kasetsart University, Thailand-yang merupakan sister university dari institusi tempat saya bekerja-saya berdiskusi dan mendalami kisah kepemimpinan mendiang Raja Bhumibol Adulyadej atau yang dikenal sebagai Raja Rama IX. Beliau, secara luas diakui sebagai pemimpin yang paling dicintai dalam sejarah modern Thailand.

Raja Rama IX bukan sekadar kepala negara dengan simbol kekuasaan seremonial. Memerintah selama tujuh dekade, tepatnya dari tahun 1946 hingga 2016, beliau adalah sosok pemersatu bangsa di tengah berbagai gejolak politik.

Namun, yang membuat sosoknya begitu relevan untuk dikaji hari ini, terutama bagi para pengambil kebijakan dan praktisi pembangunan, adalah pendekatannya terhadap keberlanjutan. Beliau bukan sekadar pemimpin yang memikirkan pertumbuhan ekonomi jangka pendek, melainkan seorang visioner yang merangkul prinsip sustainability jauh sebelum istilah tersebut menjadi tren global.

Salah satu studi kasus yang paling menarik untuk dibedah adalah inisiatif "Royal Project" terkait pengembangan budidaya ikan nila (tilapia). Pada tahun 1960-an, Thailand menghadapi tantangan serius terkait pemenuhan nutrisi bagi masyarakatnya.

Berangkat dari kepedulian tersebut, Raja Rama IX berupaya mencari solusi nyata yang pragmatis namun berkelanjutan. Kisah bermula ketika Kaisar Jepang memperkenalkan ikan nila asal Afrika kepada Raja Rama IX.

Melihat potensi besar ikan ini, Raja Rama IX tidak lantas memerintahkan penyebaran masif ke seluruh sungai di Thailand demi popularitas instan. Sebaliknya, beliau menunjukkan kedewasaan kepemimpinan dengan tidak mengambil jalan pintas. Beliau memilih untuk membawanya ke lingkungan istana dan melakukan eksperimen akuakultur secara intensif bersama para staf ahlinya dari berbagai universitas dan institusi penelitian.

Langkah ini krusial karena menunjukkan bahwa beliau adalah seorang pemimpin berbasis data (data-driven leader). Beliau ingin memastikan bahwa metode budidaya yang dikembangkan benar-benar sederhana dan mampu diadopsi oleh petani kecil di pelosok, bukan hanya oleh industri besar.

Selain itu ada kecerdasan ekologis Raja Rama IX yang patut diteladani. Selama proses eksperimen di istana, beliau melakukan observasi mendalam mengenai perilaku biologis ikan ikan nila.

Beliau menyadari jika ikan nila dibiarkan lepas ke perairan umum atau sungai-sungai di Thailand secara tidak terkendali, ada risiko besar bahwa spesies ini akan menjadi invasif dan memangsa spesies ikan endemik asli Thailand. Beliau memahami bahwa mengutamakan nutrisi rakyat (aspek People) tidak boleh mengorbankan keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati (aspek Planet).

Sikap kehati-hatian ini mencerminkan pemahaman mendalam Raja Rama IX terhadap konsep sustainability yang mencakup 3P: People (kesejahteraan rakyat), Planet (kelestarian lingkungan), dan Profit (kemakmuran ekonomi yang berkelanjutan). Raja Rama IX tidak berhenti pada pemenuhan nutrisi. Beliau sadar bahwa untuk membuat proyek ini berkelanjutan, masyarakat pedesaan harus memiliki kemandirian ekonomi.

Oleh karena itu, beliau mendorong masyarakat untuk tidak hanya mengonsumsi ikan tersebut, tetapi juga mengolah dan menjualnya sebagai komoditas bernilai tambah. Dengan menciptakan ekosistem di mana ikan nila bisa dikelola, diolah menjadi produk turunan, dan dijual ke pasar, beliau memastikan adanya perputaran ekonomi yang mampu meningkatkan taraf hidup petani (aspek Profit).

Dengan mengintegrasikan aspek People, Planet, dan Profit, Raja Rama IX berhasil membangun model keberlanjutan yang holistik jauh sebelum konsep Sustainability Triple Bottom Line tersebut populer di dunia global.

Beliau memutuskan bahwa budidaya nila hanya boleh dilakukan di dalam sistem akuakultur yang terkontrol (kolam buatan), bukan dengan menebarnya di sungai bebas. Beliau memikirkan masa depan Thailand; bukan sekadar "memberi makan" rakyat saat itu saja, tetapi menjaga kekayaan biodiversitas dan ekonomi yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.

Ketika "Royal Project" ini akhirnya diimplementasikan, Raja Rama IX berperan layaknya seorang penyuluh pertanian dan perikanan yang sesungguhnya. Beliau mengunjungi berbagai desa, mengalokasikan dana, dan sering kali memastikan infrastruktur penunjang-seperti jalan desa-diperbaiki agar akses ekonomi masyarakat meningkat.

Menariknya, terdapat sisi humanis yang sangat dalam dari Raja Rama IX, beliau sempat enggan mengonsumsi ikan nila yang dibudidayakannya karena merasa ikan tersebut sudah seperti "anak sendiri" hasil jerih payah eksperimen bersama para stafnya. Ini adalah bentuk empati seorang pemimpin yang melebur dengan masalah rakyatnya.

Apa yang bisa kita petik dari kepemimpinan Raja Rama IX? Pertama, pemimpin sejati adalah ia yang memiliki integritas intelektual. Beliau tidak hanya pandai memberi instruksi, tetapi juga memahami masalah teknis secara mendalam.

Beliau turun ke lapangan, berdialog dengan petani, dan memastikan solusi yang diberikan tepat guna serta ramah lingkungan. Beliau menunjukkan bahwa menjadi pemimpin bukan tentang membangun citra (pencitraan), melainkan tentang memberikan dampak nyata yang berjangka panjang.

Kedua, beliau adalah contoh pemimpin yang memegang teguh prinsip keberlanjutan. Dalam setiap pengambilan keputusan, beliau selalu mempertimbangkan dampak sistemik. Ketika beliau membatasi budidaya nila pada sistem akuakultur tertutup untuk melindungi ikan endemik dan mengembangkannya menjadi sumber ekonomi masyarakat, beliau sedang mengajarkan kita bahwa pembangunan harus menyeimbangkan antara kebutuhan manusia, kelestarian alam, dan keuntungan ekonomi. Pemimpin yang hebat adalah mereka yang mampu menyeimbangkan ketiganya secara harmonis.

Di era di mana tantangan kepemimpinan kian kompleks, keteladanan mendiang Raja Rama IX menjadi pengingat yang sangat relevan. Kepemimpinan yang dicintai bukanlah kepemimpinan yang hanya mengedepankan euforia sesaat, melainkan kepemimpinan yang mempersiapkan fondasi kemajuan dengan penuh kehati-hatian, riset yang matang, dan rasa hormat yang mendalam terhadap alam serta kesejahteraan ekonomi rakyatnya.

Beliau tidak memerintahkan rakyatnya untuk berubah. Beliau mempersiapkannya, mencontohkannya, dan menjaganya agar tetap berkelanjutan untuk masa depan. Itulah warisan kepemimpinan yang sesungguhnya.


(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Waste-to-Energy Berkelanjutan: Jadikan Rakyat Fondasi, Bukan Pelengkap