Kurban & Ekonomi Umat: Mengapa Momentum ini Semakin Penting?

Ririn Riani CNBC Indonesia
Rabu, 27/05/2026 08:57 WIB
Ririn Riani
Ririn Riani
Ririn Riani adalah peneliti senior di Sakinah Finance dengan fokus kajian pada isu keuangan Islam, keuangan sosial Islam, efisiensi dan prod... Selengkapnya
Foto: Suasana lapak penjualan hewan kurban di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (8/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Iduladha selama ini identik dengan nilai pengorbanan, ketulusan, dan kepedulian sosial. Namun, di balik ritual ibadah tersebut, terdapat denyut ekonomi yang sangat besar dan sering kali kurang mendapat perhatian.


Kurban bukan sekadar aktivitas spiritual tahunan, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi umat yang melibatkan peternak, pedagang, UMKM, distribusi pangan, hingga ketahanan konsumsi rumah tangga. Di tengah tekanan ekonomi global yang semakin kompleks, ekonomi kurban justru menunjukkan relevansinya sebagai instrumen sosial sekaligus ekonomi yang strategis.

Menurut proyeksi Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS), potensi ekonomi kurban nasional pada 2026 diperkirakan mencapai Rp26,89 triliun. Nilai tersebut berasal dari estimasi lebih dari 1,5 juta ekor hewan kurban yang berpotensi terserap selama momentum Iduladha.

Angka ini menunjukkan bahwa kurban bukan aktivitas ekonomi berskala kecil. Ia menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang luas, mulai dari peningkatan permintaan peternakan rakyat, distribusi pangan, aktivitas logistik, hingga perputaran ekonomi di daerah.

Di banyak wilayah perdesaan, momentum kurban bahkan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi lokal. Peternak kecil menggantungkan sebagian besar siklus pendapatannya pada musim Iduladha. Ketika permintaan meningkat, perputaran ekonomi desa ikut hidup.

Namun, di sisi lain, tekanan global beberapa tahun terakhir membuat dinamika ekonomi kurban juga mengalami perubahan. Kenaikan harga energi, pelemahan nilai tukar, dan meningkatnya biaya distribusi membuat harga hewan ternak ikut terdorong naik. Pada saat yang sama, daya beli masyarakat kelas menengah mulai mengalami tekanan.

Fenomena ini terlihat dari kecenderungan sebagian masyarakat yang mulai beralih pada hewan kurban dengan ukuran lebih kecil atau memilih skema kolektif untuk menyesuaikan kemampuan finansial. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kurban hari ini tidak lagi sekadar bicara soal "mampu atau tidak mampu", tetapi juga tentang bagaimana rumah tangga Muslim mengelola prioritas keuangannya di tengah ketidakpastian ekonomi.

Di sinilah isu perencanaan keuangan menjadi semakin relevan. Selama ini, banyak keluarga masih memandang kurban sebagai pengeluaran musiman yang baru dipikirkan mendekati Iduladha. Akibatnya, tidak sedikit yang akhirnya menggunakan dana darurat, mengambil cicilan konsumtif, atau bahkan mengorbankan kebutuhan lain demi memenuhi momentum ibadah tahunan tersebut. Padahal secara filosofis, kurban justru mengajarkan kesiapan dan pengelolaan yang terencana.

Dalam perspektif ekonomi syariah, ibadah tidak dipisahkan dari tanggung jawab pengelolaan harta. Kurban bukan sekadar pengeluaran konsumtif religius, melainkan bagian dari distribusi kesejahteraan sosial yang memiliki dimensi ta'awun (tolong-menolong), maslahah (kemanfaatan sosial), dan hifzul maal (menjaga keberlanjutan harta).

Karena itu, perencanaan dana kurban seharusnya menjadi bagian dari tujuan keuangan (financial goals) rumah tangga Muslim, sebagaimana seseorang menyiapkan dana pendidikan, dana darurat, atau tabungan masa depan.

Mengelola Kurban dengan Perencanaan yang Lebih Bijak
Di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan hidup, perencanaan kurban perlu dilakukan lebih realistis dan terukur. Kurban tidak harus dimulai dari nominal besar, tetapi dari konsistensi dan kesiapan finansial yang sehat. Salah satu pendekatan sederhana yang dapat dilakukan adalah menyisihkan dana kurban secara bertahap setiap bulan, misalnya melalui tabungan khusus atau instrumen keuangan syariah yang likuid dan rendah risiko.

Rumah tangga juga perlu memisahkan pos ibadah dari kebutuhan harian agar tidak mengganggu arus kas utama ketika momentum Iduladha tiba. Dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, masyarakat sebaiknya menghindari pembiayaan konsumtif hanya demi memenuhi gengsi sosial dalam berkurban. Esensi utama kurban bukan terletak pada besarnya hewan yang dibeli, tetapi pada nilai ketakwaan, keikhlasan, dan kebermanfaatannya bagi masyarakat.

Selain itu, pola kurban kolektif atau patungan juga dapat menjadi solusi yang lebih inklusif di tengah tekanan daya beli. Skema ini tidak hanya membantu menjaga keberlanjutan ibadah, tetapi juga memperluas partisipasi sosial masyarakat. Dalam konteks yang lebih luas, perencanaan kurban yang sehat mencerminkan prinsip kehati-hatian (prudence) dalam ekonomi syariah, yakni menjaga keseimbangan antara ibadah, stabilitas keuangan, dan tanggung jawab sosial.

Di tengah berkembangnya budaya investasi dan gaya hidup digital, masyarakat justru sering kali lebih siap merencanakan pembelian gawai atau liburan dibandingkan menyiapkan dana ibadah. Padahal secara sosial-ekonomi, kurban memiliki dampak yang jauh lebih luas. Jika dikelola secara strategis, ekonomi kurban dapat menjadi instrumen penguatan peternakan rakyat, pemerataan distribusi protein, pengembangan rantai pasok halal, hingga pemberdayaan ekonomi desa.

Pimpinan Baznas Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan, Idy Muzayyad, menegaskan bahwa kurban memiliki peran besar dalam memperkuat ekonomi umat sekaligus mendorong pemerataan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, pengelolaan kurban bukan hanya soal distribusi daging, tetapi juga bagian dari penguatan ekosistem ekonomi berbasis keumatan.

Baznas sendiri menargetkan pengelolaan jutaan hewan kurban pada 2026 sebagai bagian dari upaya memperluas manfaat sosial dan ekonomi kurban secara nasional. "Kurban bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga instrumen pemberdayaan ekonomi umat," kata Idy.

Namun demikian, keberlanjutan ekonomi kurban masih menghadapi berbagai tantangan struktural. Indonesia masih bergantung pada impor pakan ternak dalam jumlah tertentu, menghadapi fluktuasi harga hewan, serta persoalan distribusi dan efisiensi logistik yang belum merata.

Tekanan geopolitik global dan kenaikan harga energi juga meningkatkan biaya transportasi dan operasional peternakan. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat mengurangi akses masyarakat terhadap ibadah kurban sekaligus menekan keberlanjutan peternak kecil.

Karena itu, ekonomi kurban tidak cukup hanya dibaca sebagai ritual tahunan, tetapi perlu ditempatkan dalam kerangka pembangunan ekonomi umat yang lebih luas. Dibutuhkan integrasi antara literasi keuangan syariah, penguatan ekosistem peternakan, dukungan kelembagaan, serta pola konsumsi masyarakat yang lebih terencana dan berkelanjutan.

Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, kemampuan mengelola keuangan dengan disiplin menjadi bagian penting dari ketahanan rumah tangga Muslim. Dan mungkin, di situlah makna kurban hari ini menjadi semakin relevan: bukan sekadar tentang siapa yang mampu membeli hewan terbesar, tetapi siapa yang mampu menjaga keseimbangan antara ibadah, kepedulian sosial, dan keberlanjutan finansialnya sendiri.


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google