Kurikulum Berbasis Intuisi untuk Menjaga TKA & Meningkatkan PISA RI
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Setelah banjir dan gempa melanda sejumlah wilayah di Sumatra dalam beberapa waktu terakhir, perhatian publik wajar tertuju pada penyelamatan jiwa, distribusi bantuan, dan pemulihan infrastruktur. Namun ada satu dampak yang kerap luput dari perhatian dan baru terasa bertahun tahun kemudian, yaitu terputusnya proses belajar anak-anak.
Ketika sekolah rusak dan sistem pembelajaran formal terhenti, risiko terbesar bukan hanya berkurangnya jam pelajaran, melainkan hilangnya kesinambungan cara berpikir yang sulit dipulihkan.
Dalam kondisi krisis, pendidikan yang bertumpu pada hafalan menjadi yang paling rapuh. Tanpa ruang kelas, jadwal tetap, dan buku teks lengkap, hafalan mudah runtuh.
Yang justru bertahan adalah intuisi belajar, yakni kemampuan memahami konsep, menalar situasi, dan mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari. Intuisi bukan pengganti standar akademik, melainkan fondasi agar standar tersebut tetap tercapai, bahkan dalam keadaan darurat.
Perlu ditegaskan sejak awal bahwa Tes Kemampuan Akademik (TKA) tetap dijalankan, dan capaian PISA justru ditargetkan meningkat. Perbedaannya terletak pada pendekatan kurikulum. Pembelajaran tidak dibangun dari daftar hafalan, melainkan dari pemahaman yang disesuaikan dengan tahap usia dan konteks kehidupan anak.
Negara negara dengan capaian PISA tinggi menanamkan konsep sejak dini, bukan menekan anak dengan ujian semata. Nilai yang baik lahir sebagai hasil alami dari intuisi yang kuat dan nalar yang terlatih.
Numerasi memberi contoh paling jelas. Anak tidak harus menghafal tabel perkalian untuk memahami matematika. Mereka dapat belajar bahwa 6 × 8 dapat dihitung sebagai 5 × 8 + 8 atau 3 × 16.
Dari sini, anak memahami hubungan antarbilangan dan belajar berpikir secara lentur. Kesalahan kecil bukan kegagalan, melainkan tanda bahwa proses berpikir sedang berlangsung. Inilah aritmetika sebagai pemahaman, bukan hafalan, yang menjadi fondasi penting bagi kinerja dalam TKA dan PISA.
Pendekatan berbasis intuisi ini dirancang berbeda sesuai kelompok usia dan dapat langsung dijalankan di wilayah terdampak bencana. Untuk anak usia dasar 7-13 tahun, kurikulum difokuskan pada numerasi dan literasi kontekstual. Anak anak di pengungsian dapat diajak menghitung kebutuhan air minum, membagi makanan secara adil, atau memperkirakan waktu tempuh menuju tempat aman.
Literasi dibangun melalui membaca pengumuman darurat, menulis cerita singkat tentang pengalaman harian, serta mengekspresikan perasaan melalui kata dan gambar. Sains diperkenalkan melalui pengamatan sederhana, seperti mengapa air menjadi keruh atau mengapa hujan deras dapat menyebabkan banjir.
Materi disampaikan melalui tayangan video singkat 3-5 menit, diskusi kelompok kecil, atau bahan ajar sederhana yang dapat diakses tanpa jaringan internet. Pendekatan ini menjaga kesinambungan belajar sekaligus menyiapkan anak menghadapi asesmen formal.
Untuk usia menengah 14-18 tahun, kurikulum diarahkan pada penalaran kritis, pengolahan data, dan tanggung jawab sosial. Remaja dilibatkan dalam simulasi nyata, seperti menghitung kebutuhan logistik pengungsian, membaca data curah hujan, membandingkan beberapa skenario mitigasi bencana, serta menelaah berita dan informasi keliru yang beredar. Mereka menulis refleksi singkat dan menyampaikan pendapat dengan alasan yang tertata.
Sains dan etika bertemu ketika remaja mendiskusikan dampak keputusan manusia terhadap lingkungan. Pendekatan ini secara langsung melatih kemampuan membaca, numerasi, dan penalaran yang menjadi inti penilaian PISA.
Yang tidak kalah penting, kurikulum ini tetap terstruktur dan terukur. Indikator pembelajaran disusun jelas untuk setiap kelompok usia, bahan ajar dirancang ringkas, dan penilaian formatif dilakukan secara berkala.
TKA tidak dihapus, melainkan digunakan sebagai alat ukur dari pemahaman yang dibangun secara berkelanjutan. Dengan demikian, standar nasional tetap terjaga, bahkan diperkuat, meskipun pembelajaran berlangsung di tengah keterbatasan.
Indonesia tidak perlu menunggu regulasi panjang untuk memulai. Keputusan eksekutif yang tegas dapat mengaktifkan pembelajaran darurat berbasis intuisi di wilayah terdampak bencana Sumatra, dimulai sekarang dan dievaluasi dalam 30-90 hari untuk diperluas secara nasional. Pendidikan yang tangguh bukan yang paling lengkap materinya, melainkan yang paling kuat cara berpikirnya.
Jika negara mampu bergerak cepat menyelamatkan fisik warganya saat bencana, maka negara juga harus bergerak cepat menyelamatkan masa depan intelektual anak anaknya. Di tengah krisis, keputusan inilah yang akan menentukan apakah Indonesia sekadar pulih, atau benar benar melompat menuju Indonesia Emas dengan capaian TKA dan PISA yang tinggi.
(miq/miq)