Rian Wisnu
Rian Wisnu

Head of Product Development and head sharia Unit Eatspring Investments Indonesia. Memiliki pengalaman berkarir di dunia investasi selama lebih dari 15 tahun. Sebelum bergabung Eastspring Investments Indonesia, beliau menempati posisi sebagai Senior Manager of Investment Services di Prudential Life Assurance Indonesia. Beliau pernah bekerja di beberapa perusahaan sekuritas dan memegang berbagai posisi di area riset, dealing , dan Investment Banking . Rian memiliki izin Wakil Manajer Investasi (WMI), Wakil Penjamin Emisi Efek (WPEE) dari Otoritas Jasa Keuangan dan Ahli Syariah Pasar Modal (ASPM)

Profil Selengkapnya

Investasi "Hijau" vs Syariah, Seberapa Menarik bagi Pasar?

Opini - Rian Wisnu, CNBC Indonesia
12 October 2020 11:08
Green Sukuk Rifel seri 5T006 (CNBC Indonesia/Yuni Astuti)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis Roadmap Pasar Modal Syariah 2020-2024. Salah satu program di dalam roadmap tersebut adalah pengembangan produk pasar modal syariah berbasis Socially Responsible Investment (SRI).

Rencana aksinya adalah dengan mengintegrasikan nilai-nilai Environment, Social, Governance (ESG) dalam saham yang masuk Daftar Efek Syariah (DES).

DES akan dikembangkan agar selaras dengan nilai-nilai SRI. Dengan pengembangan DES ini, diharapkan minat investor akan meningkat karena DES juga akan mempunyai kepedulian terhadap nilai-nilai lingkungan, sosial dan tata kelolaan perusahaan yang baik.


Selain itu, inovasi produk investasi syariah berbasis ESG, diharapkan juga akan meningkat. 

Apakah ESG itu?

Terminologi ESG pertama kali disampaikan pada tahun 2005 dalam suatu studi yang dilakukan oleh United Nation Global Impact yang berjudul "Who Cares Win".

Investasi berbasis ESG sering didefinisikan sebagai aktivitas investasi yang mempertimbangkan faktor lingkungan, sosial dan tata kelola perusahaan di dalam pengambilan keputusan investasi.

Tujuannya adalah meningkatkan kinerja jangka panjang dan daya saing dari bisnis yang menjadi tujuan investasi, serta imbas positif jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungannya. 

Secara sederhana, faktor lingkungan meliputi aktivitas bisnis dalam menjaga kelestarian alam. Sedangkan faktor sosial, melihat aktifitas bisnis dalam mengelola hubungan dengan karyawan, supplier, nasabah dan komunitas sekitarnya.

Faktor tata kelola melihat aspek struktur organisasi di perusahaan, aktifitas audit, pengawasan internal dan transparansi. 

Seberapa besar nilai investasi berbasis ESG ini?

Menurut Abhay Laijawala, salah satu fund manager global, dan Managing Director, Avendus Capital Public Markets Alternate Strategies LLP, dalam salah satu artikelnya, hampir 30% dari total dana kelolaan di dunia, saat ini sudah mengadopsi konsep SRI.

Nilainya telah mencapai US$ 30,6 triliun di tahun 2018.

Tahun 2012, nilai tersebut tercatat sebesar US$ 13,6 triliun.

Dari perspektif regional, dalam 10 tahun terakhir, aliran dana investasi didominasi ke Kawasan Eropa dan Amerika. 

Kenapa tertarik mengadopsi konsep ESG?

Dalam artikelnya, Jan Czaplicki, Product Visionary and Co-Founder CarbonClick, lembaga asal Selandia Baru yang vokal mengkritisi perubahan iklim, menjelaskan beberapa manfaat finansialnya.

Investor yang punya concern terhadap konsep ESG ini, tentu saja akan melakukan investasi di perusahaan yang sudah adopsi konsep ESG.

Sebuah studi yang dilakukan pada periode 2012-2017 menjelaskan bahwa portofolio yang berbasis efek dengan skor ESG yang tinggi dapat mencatatkan kinerja yang lebih baik.

Sebuah laporan yang dibuat oleh MSCI menjelaskan bahwa perusahaan dengan skor ESG yang tinggi akan memiliki Cost of Capital yang lebih rendah, pola pendapatan yang lebih stabil dan risiko pasar yang lebih rendah.

KPMG juga merilis laporan yang menjelaskan manfaat jangka panjang dari aktifitas ESG.

Perusahaan akan memiliki kemampuan beradaptasi yang lebih baik terhadap disrupsi yang disebabkan oleh teknologi dan regulasi terkait pembangunan infrastruktur renewable energy, emisi karbon, environmental tax. Perusahaan yang mengadopsi nilai ESG  juga mendapat pengakuan brand yang lebih positif dari karyawan dan nasabah.

Studi yang dilakukan oleh Bank of America Merill Lynch menunjukkan bahwa saham-saham yang memiliki skor ESG di peringkat 3 besar, mampu mencatatkan kinerja 18% lebih baik dari saham-saham yang memiliki skor ESG di peringkat 3 terbawah, untuk periode 2005-2015.

Untuk periode 2008-2016, jika investor memilih saham dengan skor ESG di atas rata-rata di dalam portofolionya, maka mereka dapat menghindari 15 kasus kebangkrutan. 

Apakah persamaan konsep ESG dengan investasi syariah?

Investasi syariah dilakukan berdasarkan prinsip syariah dengan tujuan mencapai Maqosid Syariah (yaitu menjaga jiwa, agama, akal, keturunan dan harta).

Ameena AlderaziStrategy Analyst di Gulf International Bank, dalam artikelnya menyebutkan beberapa persamaannya.

Kedua konsep sama-sama melindungi kehidupan dan menciptakan nilai jangka panjang untuk semua pemangku kepentingan.

Keduanya memiliki target dalam mendukung pembiayaan pembangunan, misalnya melalui pembiayaan yang bersifat ramah lingkungan (Green Financing). Keduanya pun melakukan screening terhadap sektor bisnis tertentu.

Investasi syariah melakukan screening terhadap bisnis dan kondisi keuangan. 

Apakah perbedaan konsep ESG dengan investasi syariah?

Investasi syariah akan tetap menekankan aspek religious dalam setiap aktivitasnya dan melarang melakukan investasi di bisnis yang tidak sesuai dengan prinsip syariah.

Penerapan tata kelola dengan konsep ESG masih mencari bentuk dan standard.

Tata kelola investasi syariah akan selalu diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah. Produk derivatif dilarang di investasi syariah, namun dalam konsep ESG, derivatif diperbolehkan.

Investasi akan dilakukan di perusahaan dengan skor ESG yang tertinggi. Pemilihan seperti itu tidak ada dalam investasi syariah. Investor bisa mendesak perusahaan untuk menerapkan konsep ESG. Proses seperti itu tidak ada di investasi syariah. 

Indonesia juga sudah berpartisipasi dalam adopsi konsep ESG ini. Tahun 2018, pemerintah Indonesia menerbitkan Green Sukuk pertama di Kawasan Asia dan mendapat apresiasi positif dari dunia internasional.

Tahun 2019, pemerintah Indonesia menerbitkan Green Sukuk untuk investor ritel, yang merupakan pertama di dunia dengan pemerintah sebagai penerbitnya.

Hasil penerbitan Green Sukuk itu digunakan untuk membiayai beberapa sektor yang diharapkan akan mampu mengurangi emisi karbondioksida di Indonesia. 

Meskipun ada perbedaan dan tantangan dalam adopsi konsep ESG dalam investasi syariah, namun kita akan dapat menikmati manfaat jangka panjangnya.

Pemerintah Indonesia juga sudah aktif mengadopsi konsep ini. Semoga dengan mempertimbangkan kondisi ini, minat investor untuk berinvestasi di instrument investasi syariah, dapat terus meningkat. 

(tas/tas)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Opinion Makers
    z
    spinner loading
Features
    spinner loading