Arif Gunawan
Arif Gunawan

Seorang jurnalis yang tengah mengejar gelar Magister Teknik (prodi Energi Terbarukan) di Universitas Darma Persada. Mengawali proses jurnalistik di LPM Hayamwuruk, Penulis berkarir di Bisnis Indonesia, Bloomberg TV Indonesia, The Jakarta Post dan kini bersama CNBC Indonesia sebagai Lead Researcher.

Profil Selengkapnya

Menanti Realisasi "Goodwill" di Bursa

Opini - Arif Gunawan, CNBC Indonesia 16 January 2018 11:25
Menanti Realisasi
Bursa saham seringkali dianalogikan sebagai lokomotif bisnis yang bergerak di depan, sementara perekonomian menguntit di belakang sebagai gerbongnya. Dia mencerminkan ekspektasi dan persepsi pemodal terhadap kondisi sebuah negara ke depannya.

Analogi ini dipakai karena investor pada umumnya masuk bursa dan belanja saham ketika berekspektasi bahwa perekonomian masih kuat sehingga tidak mengganggu investasinya. Sebaliknya, mereka akan ramai-ramai menjual saham, yang otomatis melempar indeks harga saham gabungan (IHSG) ke zona merah, ketika perekonomian diyakini bakal terpuruk.

Adagium itu terbukti dalam konteks pergerakan IHSG dan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam 20 tahun terakhir. Terhitung sejak krisis moneter 1997 hingga 2017, pertumbuhan ekonomi merangkak naik dari 4,7 persen (1997) menjadi 5,06 persen (2017).


Di sisi lain, IHSG menguat signifikan, sebesar 768,71 persen, menjadi 6.355,654 (berdasarkan posisi penutupan 29 Desember 2017). Penguatan signifikan di bursa ini menunjukkan tingginya ekspektasi pelaku pasar terhadap perekonomian Indonesia.

Jika kita perpendek horizonnya, pergerakan IHSG juga masih sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Pada 1997 ketika krisis moneter mendera, indeks bursa melemah 37 persen, sementara pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 4,7 persen (dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi 1996 sebesar 7,82 persen).

Setahun kemudian, pada 1998, kita disuguhi potret–jika tidak mau disebut sebagai anomali—yang menarik. Sepanjang 12 bulan yang penuh ketegangan politik, kerusuhan berlatar belakang SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan), dan problem sosial di berbagai penjuru negeri kala itu, IHSG hanya kehilangan 3,67 poin (setara dengan 0,91 persen) menjadi 398,04 pada akhir Desember 1998.

Artinya, bahkan ketika krisis politik dan ketakstabilan sosial mendera dan berujung pada terbantingnya ekonomi kita menjadi -13,13 persen, pelaku pasar saham masih tetap optimistis bahwa ekonomi Indonesia tidak akan seburuk seperti yang terlihat.

Apakah penguatan IHSG dan optimisme pelaku pasar tersebut tidak memiliki justifikasi dan hanya didorong ekspektasi berlebihan terhadap perekonomian ke depan? Sepertinya tidak.

Harus diakui, ada banyak variabel yang secara teknis menggerakkan indeks saham, mulai dari suku bunga acuan, inflasi (pergerakan indeks harga konsumen/ IHK), jumlah uang beredar (money supply), hingga faktor politik (di luar dan dalam negeri).

Namun, kita juga tidak boleh melupakan potensi-potensi ekonomi Indonesia. Negara dengan ekonomi dan pasar terbesar di Asia Tenggara ini masih memiliki banyak bonus mulai bonus sumber daya alam, bonus demokrasi, hingga bonus demografi.

Bonus sumber daya alam telah kita serap sejak Republik ini berdiri. Sampai sekarang, sumber daya alam tersebut masih menjadi andalan Indonesia seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) di mana Indonesia menjadi produsen terbesar dunia, serta komoditas penting lainnya seperti kopi, karet, kakao, dan batu bara.

Bonus demokrasi telah dipanen sejak Presiden Soeharto turun “tahta” dengan bergulirnya reformasi dan pemerintahan yang terpilih secara demokratis. Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim pertama yang memiliki presiden perempuan, bahkan ketika Amerika Serikat (AS) baru tahun lalu bisa memiliki kandidat presiden perempuan.

Di luar itu, bonus demografi—di mana usia produktif di Indonesia bakal melampaui usia nonproduktif—bakal dipanen beberapa tahun ke depan dan mencapai puncaknya pada 2030. Bonus demografi ini memungkinkan negara mendapatkan lebih banyak ‘pembayar pajak’ yang menggerakkan mesin pembangunan.

Peluang dan potensi tersebut dalam dunia bisnis bisa dianalogikan sebagai goodwill (kelebihan pembayaran yang diberikan ketika membeli sebuah aset, karena ‘nilai tak terukurnya’ lebih besar dari nilai buku atau nilai pasarnya).

Nilai lebih perekonomian Indonesia berupa potensi-potensi di atas semestinya menjustifikasi tingginya kenaikan harga-harga saham di bursa, yang membuat IHSG kian premium dengan price to earnings ratio (PER) sekitar 18 kali, atau di atas rata-rata PER bursa negara tetangga yang berada di kisaran 15 kali.

Yang cukup melegakan, kepemilikan domestik di pasar saham kini nyaris berimbang. Per September 2017, mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), porsi kepemilikan asing menyusut menjadi 52,23 persen sedangkan kepemilikan domestik naik mencapai 47,77 persen.

Jika pada era krisis ekonomi 1998 investor bursa menyimpan keyakinan bahwa ekonomi akan membaik, dengan mempertahankan (hold) saham yang dimilikinya di bursa, terbuka peluang bahwa optimisme serupa akan mengawal Indonesia merealisasikan bonus ekonomi ke depannya.***

Menanti Realisasi
Menanti Realisasi
Menanti Realisasi
Menanti Realisasi Foto: tim
Menanti Realisasi
(ags/ags)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading