Tak Cuma Wacana, Anak Muda RI Serius Mau Beli Mobil-Udah Mulai Nabung
Jakarta, CNBC Indonesia - Minat masyarakat untuk membeli mobil mulai menunjukkan perubahan. Meski mobil bermesin konvensional masih mendominasi pasar otomotif nasional, kendaraan listrik dan hybrid semakin menarik perhatian, terutama dari kalangan generasi muda.
Tren tersebut terlihat dari hasil riset Populix. Satu dari lima responden mengaku tertarik untuk memiliki mobil listrik maupun hybrid. Ketertarikan ini paling banyak muncul dari kalangan milenial muda dan Gen Z berusia 25-35 tahun yang berasal dari kalangan menengah ke atas.
Di sisi lain, kemampuan belanja calon pembeli mobil juga terbilang cukup besar. Rata-rata anggaran yang disiapkan mencapai Rp493 juta. Dalam menentukan pilihan, konsumen juga mempertimbangkan berbagai merek yang menawarkan teknologi, desain, hingga reputasi di pasar otomotif.
Namun, riset Populix tidak merinci model mobil yang secara spesifik paling banyak dibidik konsumen. Pemetaan dilakukan berdasarkan merek, dengan sejumlah produsen otomotif asal Jepang, Korea Selatan, dan China masuk dalam daftar yang menarik perhatian. Namun dari sisi harga, sejumlah model yang berada di kisaran Rp400 juta hingga Rp500 juta antara lain Honda HR-V SE, Chery Tiggo 8 CSH, BYD Atto 3, Mazda 3, hingga Toyota Corolla Cross.
"Karena banyaknya tipe mobil yang tersedia di pasar saat ini, studi kami tidak menelitinya secara spesifik. Namun, menurut data kami ada lima merek yang angka ketertarikannya cukup tinggi, yaitu Hyundai (50%), BYD (43%), Toyota (39%), Honda (27%), dan Wuling (20%)," ungkap Associate Research Director Populix Susan Adi Putra kepada CNBC Indonesia melalui jawaban tertulis, dikutip Rabu (4/11/26).
Perubahan minat tersebut juga tidak lepas dari perkembangan teknologi kendaraan listrik. Kekhawatiran konsumen terhadap keterbatasan fasilitas pengisian daya yang selama ini menjadi salah satu hambatan adopsi EV mulai berkurang. Selain infrastruktur, pertimbangan mengenai nilai jual kembali kendaraan juga ikut berubah.
"Utamanya karena perkembangan teknologi kendaraan listrik yang pesat beberapa tahun terakhir. Tak hanya itu, 72% responden juga sudah tidak terlalu khawatir karena ketersediaan infrastruktur seperti pengisian daya (SPKLU) sudah mulai merata, dan 60% responden meyakini bahwa resale value dari BEV sudah cukup tinggi," kata Susan.
Meski demikian, perubahan preferensi tersebut belum berarti mobil bermesin bensin akan segera kehilangan pasar. Kendaraan konvensional masih memiliki basis konsumen, sementara kendaraan listrik dan hybrid mulai membangun daya tarik sebagai alternatif untuk pembelian berikutnya.
Dalam riset tersebut, hampir tiga perempat responden mengaku tertarik membeli mobil listrik. Bahkan, sekitar 27% menyatakan sangat ingin memiliki kendaraan listrik. Tiga merek yang paling banyak menarik minat kelompok ini adalah BYD, Hyundai, dan Wuling.
"Untuk saat ini kami belum melihat ada indikasi bahwa mobil konvensional akan benar-benar ditinggalkan, namun hampir tiga perempat responden mengaku tertarik untuk membeli mobil listrik. Sekitar 27% bahkan mengaku sangat ingin membeli mobil listrik, utamanya dari merek BYD, Hyundai, dan Wuling," ujar Susan.
Kendaraan konvensional memang masih menjadi pilihan utama konsumen. Namun, kehadiran mobil listrik mulai mendapatkan tempat di tengah perubahan preferensi masyarakat.
"Mobil konvensional saat ini masih mendominasi pasar, meskipun mobil listrik mulai mendapatkan momentum. Satu dari lima responden mengaku tertarik memiliki mobil listrik maupun hybrid, khususnya milenial muda dan Gen Z di rentang usia 25-35 tahun," jelas Susan.